Sunday, May 8, 2022

Sebuah perenungan tentang apa yang dimaksud dengan iman

 


 

Apakah percaya bahwa Yesus Kristus sebagai jalan keselamatan satu-satunya merupakan iman yang wajar?

Banyak orang di dunia ini yang mengaku sebagai orang beriman, akan tetapi jika kita selidiki lebih jauh, sangat mungkin kita akan mendapati bahwa pengertian masing-masing orang tentang apa yang dimaksud dengan beriman itu ternyata berbeda-beda antara satu orang dengan orang lainnya.

Sebagai orang Kristen kita percaya bahwa Yesus Kristus-lah satu-satunya jalan keselamatan bagi manusia. Dan sebagaimana kita pahami, bahwa gagasan seperti itupun bukan-lah karangan kita sendiri sebagai orang Kristen, melainkan merupakan perkataan langsung dari Tuhan Yesus. Oleh karena itu kita dapat menyimpulkan bahwa hanya di dalam Yesus Kristus sajalah dapat kita temukan kedamaian yang berasal dari kepastian akan keselamatan. Seharusnya begitu, bukan?

Akan tetapi di dalam dunia nyata, fenomena yang terjadi ternyata tidaklah sesederhana seperti yang kita duga atau kita simpulkan tadi. Sebab ternyata orang-orang yang belum mengenal Yesus Kristus pun dapat mengaku bahwa mereka memiliki kedamaian dan keyakinan bahwa mereka pun memiliki keselamatan itu.

Sehingga hal ini cukup menggelitiki pikiran kita, sebab jika Allah memang hanya dapat dikenal melalui Yesus Kristus dan Alkitab,[1] lalu mengapa bisa terjadi bahwa ada orang-orang yang tidak percaya pada-Nya dapat tetap menemukan kedamaian di saat-saat paling kritis atau saat terakhir di dalam hidup mereka?

Orang-orang Kristen membanggakan Allah-nya yang dapat memberi kepastian keselamatan, janji penyertaan serta kedamaian di dalam hati. Tetapi jika kita melihat orang lain yang belum percaya, kita akan terkejut ketika menemukan bahwa hal-hal demikianpun mereka alami, mungkinkah mereka yang benar dan kita yang salah?

Majalah Bahana keluaran tahun 1995 pernah memuat beberapa kalimat terakhir dari orang-orang yang meninggal di dalam Tuhan, semuanya menuturkan tentang kedamaian dan kepuasan. Sebagai kontrasnya, majalah tersebut juga menuturkan kalimat-kalimat terakhir dari orang-orang yang tidak percaya pada Yesus, semuanya amat menakutkan. Tetapi sekali lagi, kenyataanya kita temukan juga orang-orang yang meninggal tanpa pernah percaya pada Yesus dan tetap merasa tenang. Beberapa kaum radikal bahkan menyongsong kematian dengan bom bunuh diri sambil meneriakkan pekik kemenangan dan keyakinan bulat bahwa Allah yang Mahabesar itu pasti akan menerima mereka.

Atau, mungkin di antara kita ada yang masih ingat dengan peristiwa kecelakaan pesawat Garuda di Bengawan Solo yang menelan satu korban, yaitu seorang pramugari. Salah seorang pramugari lain yang beruntung tidak meninggal, menceritakan kesaksiannya selama ia mati suri[2] tentang sebuah tempat yang damai. Pramugari ini bukan orang yang memiliki relasi dengan Yesus Kristus, tetapi menurut kesaksiannya ia dapat merasakan suatu kedamaian di “balik sana.” Apakah seseorang memang tidak harus percaya pada Tuhan Yesus untuk diselamatkan? Sebab pada faktanya, ada orang-orang yang tetap menemukan kedamaian sekalipun mereka tidak percaya. Bagaimana kita harus  mencerna hal semacam ini?

Di antara seluruh keluarga saya, hanya saya seorang dirilah yang percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat satu-satunya bagi manusia. Orang lain mungkin mengira bahwa saya dapat lebih mudah menceritakan pengalaman hidup saya bersama Tuhan Yesus yang saya kenal bukan? Jika Yesus adalah Allah yang sejati dan dapat berhubungan secara pribadi dengan orang yang percaya, maka tentunya hanya orang percayalah yang benar-benar memiliki kesaksian hidup bersama Tuhan, bukankah begitu seharusnya? Sayangnya ternyata tidak seperti yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Keluarga saya yang bukan pengikut Yesus Kristus pun kerap kali menceritakan tentang perasaan damai dan penyertaan dari Allah yang mereka Imani (yang tentu saja bukan Yesus Kristus). Kalau demikian, mengapa perlu percaya pada Tuhan Yesus, apabila semua itu ternyata dapat kita temukan pula di dalam kepercayaan yang lain? Adakah dasar yang kokoh bagi kita untuk percaya? Atau bahkan, masih layakkah kita sebagai orang Kristen ngotot bahwa seseorang harus percaya kepada Tuhan Yesus untuk diselamatkan? Apalagi di tengah masyarakat yang majemuk seperti ini?

 

Tipe-tipe iman

Melalui tulisan ini, tentu saja saya tidak bermaksud mengatakan bahwa iman kita salah. Saya percaya bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan, satu-satunya kebenaran dan satu-satunya hidup. Dan saya percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang sejati. Sebab Tuhan Yesus sendiri-lah yang mengatakan hal tersebut.

Oleh karena itu, sangat tidak wajar jika kita bersikap mendua dengan mengatakan bahwa “ada pula jalan keselamatan lain di luar Kristus.” Atau mengatakan “Alkitab memang Firman Allah, tetapi kitab suci orang lainpun perkataan Allah.” Itu tidak mungkin demikian. Orang yang punya pandangan seperti itu, sesungguh tidak layak untuk disebut sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Sebab bagaimana mungkin seseorang dapat mengaku sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus sambal percaya bahwa ada jalan keselamatan lain di luar Dia, sementara Yesus Kristus sendiri justru mengatakan bahwa tidak ada jalan keselamatan lain di luar Dia? Bukankah cara berpikir seperti itu sangat absurd?

Masalah yang ingin saya angkat di dalam tulisan ini adalah betapa berbahayanya jika kita mendasarkan iman kita hanya pada pengalaman hidup semata. Iman yang sehat harus didasarkan pada pengenalan kita akan ajaran Kitab Suci. Iman sejati itu harus didasarkan pada perkataan Tuhan sendiri, bukan pada perasaan atau anggapan masing-masing orang.

Oleh karena itu sangat tidak wajar jika ada orang Kristen yang mengatakan bahwa “doktrin itu tidak penting.” Doktrin adalah ajaran Alkitab yang harus diketahui oleh semua orang Kristen. Kita perlu memahaminya, bahkan merenungkannya baik-baik agar tidak mudah diombang-ambingkan oleh ajaran ataupun peristiwa-peristiwa di dunia ini, dan juga terutama agar kita boleh mengenal Allah yang sejati sebagaimana yang diajarkan oleh Alkitab.

Ada beberapa tipe iman yang dimiliki atau dihidupi oleh manusia, yaitu:

 

Pertama, beriman kepada iman itu sendiri (faith in faith).

Contohnya: Ada orang yang percaya bahwa Yesus adalah Allah tetapi ia tidak pernah berusaha memahami siapa Yesus itu melalui penggalian Alkitab yang baik. Orang semacam ini berpikir, cukuplah jika percaya pada Yesus walaupun tidak tahu apa-apa tentang Dia. Cukuplah jika sering datang ke gereja dan ikut kegiatan ini atau itu, walaupun tidak pernah benar-benar merenungkan ajaran Kitab Suci (sebab sangkanya doktrin itu tidak penting)

Orang semacam ini tentu saja akan mudah sekali menyangkali iman jika kepadanya diberikan bahan bacaan yang berisi ajaran yang mirip dengan ajaran Yesus tetapi sebenarnya bukan. Saya sudah membaca buku-buku kesaksian orang-orang yang dulunya beribadah di gereja, tetapi lalu pindah ke iman yang lain. Ketika saya amati kesaksian mereka dengan teliti, saya menemukan bahwa orang-orang ini memang belum pernah sungguh-sungguh mempelajari Alkitab. Semua pikiran yang mereka kemukakan tentang ajaran Kristen kacau balau dan tidak sesuai denga napa yang Alkitab katakana. Tidak heran jika mereka kemudian tidak percaya lagi dan menganggap bahwa yang lainpun sama saja.

 

Kedua, beriman pada pengalaman.

Contohnya adalah apa yang saya tuliskan panjang lebar di bagian awal tadi. Orang yang tidak pernah mengenal Yesus pun dapat saja mengatakan bahwa mereka memiliki pengalaman spiritual bersama Tuhan. Orang yang tidak mengenal Yesus pun dapat saja merasakan damai dan kepastian. Tetapi ini bukan berarti bahwa mereka memang secara riil berada dalam situasi yang membawa damai tersebut. Buktinya? Cobalah kita tanyakan pada para pemakai narkoba. Bukankah pada awalnya, narkoba juga memberi kedamaian?[3] Jika perasaan damai dijadikan acuan untuk kita beriman, maka kita berada dalam keadaan berbahaya. Orang-orang yang pikirannya telah disesatkan oleh ajaran setanpun dapat merasa damai untuk menembak kepalanya sendiri. Beriman pada (karena) pengalaman amat berbahaya, sekalipun jika itu adalah pengalaman spiritual. Alkisah, ada seorang turis bule yang secara ajaib berhasil selamat dari ledakan bom di Bali. Turis “beruntung” ini tidak kena efek ledakan karena secara reflek ia bersembunyi dibalik patung Ganesha[4]. Sejak hari itu, ia percaya kepada Ganesha dan bukan kepada Yesus Kristus. Apakah kita dapat mengatakan bahwa ia memang beruntung, jika dilihat dari sudut pandang Alkitabiah?

 

Ketiga, beriman pada janji-janji Tuhan.

Iman semacam ini bukan percaya asal percaya. Tetapi percaya pada sesuatu yang kita dapat ketahui dan pahami. Orang yang beriman pada janji Tuhan, pertama-tama tentu tahu apa yang dijanjikan Tuhan. Dan untuk percaya pada janji itu, ia tentu sadar dan mengerti siapa Tuhan itu. Iman semacam ini lebih bertanggungjawab, kokoh serta sehat.

Untuk lebih memahami apa yang dimaksud dengan iman yang sejati, silahkan membaca tulisan-tulisan saya yang lain, yang dapat memperkaya pengertian kita tentang tema tersebut:

- Iman kebajikan dan pengetahuan. Klik disini.

- Janji janji Tuhan. Klik disini.

- Sebab Karena Kasih Karunia Kamu Diselamatkan Oleh Iman. Klik disini.

- Apakah sajakah aspek-aspek dari Iman itu? Klik disini.

 

Penutup

Pengetahuan kita atas ajaran Alkitab amatlah penting. Tuhan Yesus memandang pengajaran sebagai hal yang penting. Paulus pun memandang penting arti doktrin. Maka, jika ada gereja masa kini yang kurang peduli pada arti pentingnya pengajaran, betapa berbahayanya gereja seperti itu. Sekarang kita hidup di zaman yang penuh dengan tipu daya yang siap menelan orang Kristen dengan gagasan yang bertentangan dengan Alkitab. Hanya keteguhan kita dalam berpegang pada kebenaran Alkitab sajalah yang dapat menolong kita tetap beriman dan mengalami pertumbuhan di dalam iman kita.

Sebagai manusia yang lemah dan berdosa, saya pun bukan tidak pernah mengalami cobaan terhadap iman saya. Dan puji Tuhan, hanya melalui pertolongan-Nya saya boleh melewati masa-masa itu, dan cara Tuhan menolong saya pun bukan terlepas dari pemahaman yang pernah saya peroleh dari penggalian dan perenungan terhadap Alkitab. Sarana itulah, yaitu Firman-Nya sendiri yang dipakai Tuhan untuk menolong kita agar tidak pernah berpaling dari kepercayaan kita pada Yesus Kristus.

Kiranya Tuhan Yesus menolong kita semua. (Oleh: izar tirta).


[1] Bukan suatu kebetulan tentu saja bahwa baik Yesus maupun Alkitab disebut sebagai Firman. Karena hanya melalui Firman-Nya kita dapat mengenal Allah yang sejati.

[2] Masyarakat sempat mengira pramugari ini juga meninggal, tapi beberapa saat kemudian dia ternyata bangun kembali.

[3] Mungkin karena alasan dapat memberi kedamaian inilah, maka Marxisme menyebut agama sebagai candu masyarakat.

[4] Makhluk bertubuh manusia berkepala gajah.