Showing posts with label Matius. Show all posts
Showing posts with label Matius. Show all posts

Tuesday, December 9, 2025

Mengapa Tuhan Yesus menyingkir ke Galilea?

 

Tuhan Yesus melayani di Galilea

 

Matius 4:12 Tetapi waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea.

Di dalam tulisan yang sebelumnya, saya sudah menguraikan bagaimana Yohanes Pembaptis ditangkap oleh Herodes karena Yohanes telah berani menegur Herodes secara terbuka di depan umum, atas perbuatannya yang tercela. [Baca: Pelayanan, Penangkapan dan Pembunuhan terhadap Yohanes Pembaptis. Klik disini.]

Dalam tulisan ini kita akan melihat melihat lebih jauh yaitu tentang bagaimana peristiwa penangkapan Yohanes Pembaptis itu, ternyata memberi pengaruh pula kepada aktivitas Tuhan Yesus. Injil Matius mengatakan bahwa peristiwa penangkapan itu telah membuat Tuhan Yesus menyingkir ke Galilea.

Yang akan kita coba gali dalam tulisan ini adalah mengapa penangkapkan Yohanes Pembaptis membuat Tuhan Yesus menyingkir ke Galilea? Ada beberapa alasan yang dapat kita renungkan dari peristiwa tersebut:

 

1. supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya 

Adakalanya Allah membiarkan kesulitan tertentu terjadi pada diri kita, supaya kita pergi ke tempat lain, yang memang sudah direncanakan oleh Tuhan. Penangkapan Yohanes Pembaptis membuat suasana keamanan di sekitar Yerusalem menjadi kurang kondusif. Akibatnya, pelayanan Tuhan Yesus di Yerusalem pun menjadi  agak terganggu atau sedikit terancam.

Hal ini membuat Tuhan Yesus, untuk sementara waktu, memilih untuk menunda pelayanan di Yerusalem, dan memilih untuk melayani di area Galilea sebagai gantinya. Secara manusiawi, keputusan ini terlihat seperti keputusan yang biasa saja. Sebuah tindakan masuk akal yang dapat dilakukan oleh seorang manusia. Akan tetapi dari sudut pandang Ilahi, ternyata tindakan menyingkir ke Galilea ini merupakan sebuah rencana besar Allah yang sudah ditorehkan sejak ratusan tahun sebelum.

Era nabi Yesaya terjadi sekitar 700 tahun sebelum era dimana Tuhan Yesus hadir di dunia. Di dalam era Yesaya tersebut, sudah ada sebuah pernyataan tentang masa depan yaitu bahwa di daerah Galilea tersebut akan terbit Terang yang sejati, sehingga orang-orang yang sebelumnya dianggap sebagai orang yang hidup dalam kegelapan, akan memperoleh kesempatan untuk melihat terang itu.

Adakalanya Tuhan menutup jalan kehidupan seseorang, adakalanya Tuhan bahkan sengaja menggagalkan rencana seseorang, demi supaya orang itu kemudian mencari jalan hidup yang lain atau mencoba rencana yang lain. Dan ketika orang itu menempuh jalan hidup yang baru tersebut, ternyata tanpa disadarinya, jalan hidup yang baru itu adalah jalan hidup yang sesuai dengan rencana yang sudah ditetapkan sebelumnya oleh Tuhan.

Aktivitas kegiatan pelayanan Tuhan Yesus diubah oleh peristiwa penangkapan Yohanes Pembaptis, dan perubahan itu ternyata justru menggenapkan rencana semula dari Bapa. Jika hal seperti ini terjadi pada diri Tuhan Yesus, maka bukan hal yang mengherankan lagi apabila terjadi pula pada diri kita. Sebagai manusia kita tidak selalu diberitahu secara langsung tentang apa yang menjadi rencana dan keinginan Tuhan, namun Tuhan berbicara dan mengarahkan kehidupan kita melalui peristiwa-peristiwa tertentu.

 

2. untuk menyelamatkan diri-Nya dari ancaman penangkapan

Alasan kedua Tuhan Yesus menyingkir ke Galilea adalah alasan yang terdengar sangat manusiawi sekali, yaitu mencari tempat yang lebih aman, demi menghindarkan diri-Nya dari bahaya.

Meskipun Tuhan Yesus datang untuk mati sebagai tebusan atas dosa, bukan berarti Tuhan Yesus mau mati konyol. Jika belum saatnya, dan bukan dengan cara yang sesuai, maka Tuhan Yesus pun sebagai manusia yang punya cara berpikir normal, tentu akan mencari jalan yang aman. Inilah yang disebut cerdik seperti ular, tetapi tulus seperti merpati.

Orang Kristen memang dipanggil untuk menyangkal diri, memikul salib dan ikut serta dalam penderitaan Kristus, tetapi tentu saja bukan berarti kita harus mencari penderitaan melalui cara-cara yang bodoh dan konyol, melainkan melalui cara-cara yang sesuai dengan prinsip Firman Tuhan serta karakter dari Allah Tritunggal itu sendiri.

Kalau kita misalnya terlibat judol, atau pinjol, lalu hidup jadi menderita, apakah itu namanya menderita bagi Kristus? Bukan, itu adalah sebuah kebodohan. Jika seseorang males-malesan, tidak mau kerja, menunggu dapat ilham yang jelas dari Tuhan baru mau mulai bekerja, lalu akhirnya jadi pengangguran, sulit dapat kerjaan, menderita, apakah itu menderita bagi Kristus? Bukan, itu adalah penderitaan yang disebabkan oleh kesalahan sendiri.

Ada anggapan yang keliru di kalangan orang Kristen tertentu tentang hubungan antara iman dan akal budi. Menurut anggapan mereka, iman dan akal budi itu bagaikan dua kubu yang bertentangan. Dalam arti, orang yang beriman dianggap sebagai orang yang tidak memakai akal budinya dengan baik. Orang beriman dianggap sebagai orang yang malas berpikir, bodoh, asal percaya saja. Sebaliknya, orang yang pintar, cerdas, bisa memakai akalnya dengan baik dianggap sebagai orang yang tidak beriman.

Anggapan seperti itu adalah anggapan yang sangat-sangat keliru. Iman yang sejati tidak pernah mematikan akal sehat kita. Sebaliknya, melalui akal sehat kita, iman itu pun dipertumbuhkan.

Ketika Tuhan Yesus menyingkir ke Galilea, maka hal itu bukan berarti bahwa Tuhan Yesus sudah tidak percaya lagi bahwa Bapa-Nya berkuasa untuk menyelamatkan Dia dari celaka atau mati secara konyol, melainkan Tuhan ingin mengajarkan bahwa di dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai orang Kristen perlu memakai akal sehat kita.

Keyakinan Tuhan Yesus kepada Bapa, bukan berarti lalu Dia bertindak sembrono saja tanpa perhitungan atau pertimbangan yang wajar.

 

3. untuk memulai pelayanan publik-Nya secara besar-besaran di tempat lain.

Alasan ketiga Tuhan Yesus menyingkir ke Galiela adalah karena daerah Kapernaum yang ada di Galilea itu merupakan tempat yang bukan saja aman untuk berlindung, aman untuk dijadikan sebagai kediaman, tetapi juga aman untuk dijadikan sebagai pusat kegiatan pelayanan-Nya.

Tuhan Yesus tidak menangisi kesempatan yang sementara waktu hilang untuk melayani di Yerusalem, tetapi Ia memakai kesempatan yang ada untuk menjadi berkat di tempat lain. Ini juga merupakan sebuah pelajaran bagi kita untuk bagaimana menjadi peka terhadap pimpinan Ilahi dan melihat tempat dimana kita berada sebagai ladang Tuhan yang perlu pula untuk kita garap.

Sebelum Yohanes Pembaptis ditangkap, Tuhan Yesus sudah memulai pekerjaan-Nya, baik di Galilea maupun di Yerusalem yaitu:

  • Memanggil beberapa murid, yaitu Petrus, Andreas, Filipus dan Natanael di Galilea
  • hadir dalam pernikahan di Kana dan membuat mukjizat pertama di Galilea.
  • menyucikan Bait Allah di Yerusalem
  • mengajarkan Nikodemus tentang kelahiran baru di Yerusalem
  • melakukan pelayanan dan pembaptisan di Yudea (Yoh 3:22)

Namun setelah Yohanes Pembaptis ditangkap, maka untuk sementara waktu, Tuhan Yesus memusatkan pelayanan-Nya di Galilea saja. Di Galiea inilah khotbah Tuhan Yesus di atas bukit itu disampaikan sehingga menjadi ajaran yang cuku populer di kalangan orang percaya hingga saat ini.

 

Kiranya melalui apa yang Tuhan Yesus lakukan ini, kita pun sebagai orang Kristen bisa belajar untuk menghidupi dan mengikuti jejak Tuhan Yesus di dalam kehidupan kita. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Baca juga:
Dari gelap menuju terang. Klik disini.

 

 

 

 

Friday, November 28, 2025

Dari gelap menuju terang

 Merenungkan makna dibalik peristiwa penangkapan Yohanes Pembaptis (Matius 4:12)

  

Dari gelap menuju terang

Matius 4:12 Tetapi waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea.

Yohanes Pembaptis adalah seorang nabi Allah yang sangat berani dalam menyuarakan kebenaran. Ketika ada suatu tindakan atau praktik yang di matanya merupakan tindakan yang tercela, maka Yohanes Pembaptis tidak segan-segan untuk mengkritik pelaku tindakan tercela tersebut. Termasuk ketika Yohanes berhadapan dengan Herodes, yang merupakan penguasa ketika itu. Dengan berani Yohanes menegur Herodes secara terbuka sehingga menimbulkan kemarahan dalam diri raja itu. Sebagai akibatnya, Herodes pun segera memerintahkan penangkapan terhadap Yohanes Pembaptis. [Baca juga: Pelayanan, Penangkapan, dan Pembunuhan Yohanes Pembaptis. Klik disini.]

Ditangkapnya Yohanes Pembaptis, bagi Tuhan Yesus merupakan sebuah tanda tentang betapa gelapnya zaman itu, karena telah membungkam seorang nabi yang paling akhir diutus oleh Tuhan. Setelah 400 tahun Tuhan tidak berbicara kepada Israel melalui para nabi, seharusnya kedatangan Yohanes Pembaptis yang menyampaikan suara ke-nabi-an di Israel merupakan sebuah anugerah yang sangat besar bagi bangsa itu. Akan tetapi, karena sifat keberdosaan yang sedemikian kental yang ada di dalam jiwa manusia, bahkan anugerah sebesar inipun manusia bukan menerimanya dengan ucapan syukur, melainkan justru menangkap, mengurung sang nabi, membatasi pelayanannya yaitu dengan cara memenjarakan dia. Inilah gambaran dari sebuah zaman yang sudah sedemikian gelap itu.

Akan tetapi, justru kondisi zaman yang gelap seperti inilah, yang kemudian menjadi awal dari pekerjaan Yesus Kristus di Galilea; untuk semakin menyatakan terang kemuliaan-Nya, untuk menegaskan kehadiran-Nya di tengah-tengah manusia, serta untuk menjalankan misi-Nya yang utama yaitu menyelamatkan umat manusia dari dosa, sebagaimana yang telah disampaikan oleh malaikat kepada Yusuf, demikian: Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka." (Matius 1:21)

Pelajaran yang dapat kita ambil dari peristiwa ini adalah bahwa kegelapan jiwa manusia sebagai akibat dari dosa, tidak akan pernah mampu untuk mengalahkan terang Ilahi yang bersinar di tengah-tengah dunia. Dari sejak awal dunia diciptakan, Allah adalah Dia yang senantiasa menghadirkan terang di tengah-tengah  kegelapan. [Baca juga: Ada 8 alasan mengapa Kristus datang sebagai manusia. Klik disini.]

Kejahatan yang terjadi dimana-mana, peperangan yang seakan tidak pernah berhenti, rupa-rupa perbuatan dosa, atheisme, kebangkitan agama-agama dunia dan lain sebagainya, sering kali membuat kita merasa ikut tenggelam di dalam gelapnya dunia ini. Pengenalan akan Allah seakan-akan menjadi sesuatu yang sangat langka, dan tanpa disadari pada akhinya kitapun akan mulai menyangka bahwa Allah telah gagal dalam mengelola dunia ini, atau Dia telah pergi meninggalkan kita semua karena merasa sangat kecewa melihat dunia yang sudah jatuh ini.

Namun, apabila kita kembali kepada Alkitab, khususnya melalui kisah penangkapan Yohanes Pembaptis ini, maka sesungguhnya kita tidak pernah boleh merasa berputus asa ketika melihat kekacauan yang terjadi di dunia ini. Sebab di dalam situasi-situasi yang paling gelap sekalipun, kita senantiasa melihat Allah tetap bekerja untuk menyelamatkan dunia ini. Allah tidak pergi meninggalkan dunia, sebaliknya Ia datang untuk menyelamatkan dunia ini. [Baca juga: Tuhan Yesus adalah Dia yang senantiasa hadir bagimu. Klik disini.]

Yang harus kita lakukan saat ini adalah belajar untuk terus menaruh pengharapan kepada Tuhan; melalui doa-doa yang kita panjatkan, serta terus menjaga terang Ilahi yang telah diberikan kepada kita; melalui hidup yang berkenan bagi Tuhan, serta hidup yang melayani Tuhan di dalam Kerajaan-Nya.

Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.

 

Thursday, November 7, 2024

Mengapa urutan pencobaan antara Injil Matius dan Injil Lukas berbeda?


Seri pengenalan Alkitab

Mengapa urutan pencobaan antara Injil Matius dan Injil Lukas berbeda?

Urutan pencobaan iblis terhadap Tuhan Yesus sebagaimana yang dicatat dalam Injil Matius, berbeda dengan urutan pencobaan yang ada di dalam Injil Lukas.

Menurut catatan Injil Matius, pencobaan pertama adalah mengubah batu menjadi roti, lalu disusul dengan pencobaan kedua di mana Tuhan Yesus ditantang untuk menjatuhkan diri dari Bait Allah, dan diakhiri dengan pencobaan ketiga di mana Tuhan Yesus dibawa ke gunung yang tinggi untuk diperlihatkan segala kekayaan dunia.

Di sisi lain, catatan Injil Lukas mencatat pencobaan pertama secara sama dengan Matius, yaitu mengenai tantangan untuk mengubah batu menjadi roti. Akan tetapi untuk urutan ke dua dan urutan ke tiga, Injil Lukas berbeda dengan Injil Matius. Injil Lukas mencatat pencobaan kedua sebagai ajakan untuk menyembah iblis demi memperoleh kekayaan dunia, dan pencobaan di Bait Allah sebagai urutan yang paling akhir.

Mengapa ada perbedaan urutan seperti ini? Apakah ini bukti bahwa Alkitab bukanlah sebuah karya tulis yang konsisten? Apakah ini alasan bagi seseorang untuk membuang Alkitab karena isinya yang berbeda-beda sehingga menimbulkan keraguan seperti itu?

Tentu saja tidak demikian, ada pesan yang ingin disampaikan, baik oleh Matius maupun oleh Lukas melalui berita Injil yang mereka tulis. Meski demikian, bagi orang yang memang berkeras hati untuk menolak Tuhan, maka penjelasan apapun yang diberikan, mereka tetap akan menemukan alasan untuk membuang Alkitab dan menghina Tuhan. Tetapi bagi orang yang memang ingin mengetahui kebenaran di balik adanya perbedaan urutan seperti ini, maka tulisan singkat ini mungkin dapat membantu memberi suatu bahan renungan.

Cara Matius menulis

Kalau diperhatikan, urutan di dalam Matius memiliki lokasi yang berpindah atau bergerak dari posisi yang paling rendah, yaitu batu di atas tanah, lau naik lebih tinggi ke atas bubungan bait Allah dan berakhir di tempat yang benar-benar tinggi, yaitu sebuah gunung yang dapat dipakai untuk melihat kota-kota besar dengan segala kekayaannya.

Melalui trend yang bergerak dari bawah ke atas di dalam Injil Matius ini, kita menangkap sebuah pesan yaitu bahwa bahwa iblis mempunyai kecenderungan untuk membawa manusia semakin lama semakin tinggi dalam status kehidupan ataupun dalam kemuliaan di dunia.

Hal ini cukup sejalan dengan pesan beberapa pesan yang ada di dalam Kitab Kejadian. Dalam Kejadian 3 misalnya, iblis mendorong Hawa dan Adam untuk menjadi yang paling tinggi, yaitu sama seperti Allah. Tidak heran, bujukan iblis kepada manusia untuk menjadi sama seperti Allah, karena hasrat hati si iblis sendiri pun adalah ingin menjadi sama seperti Allah. Lalu dalam Kejadian 6, dimana muncul gambaran orang-orang raksasa, orang-orang yang gagah perkasa. Inipun merupakan gambaran tentang peninggian manusia dengan segala kehebatannya, kemampuannya, kekuatannya dan kekayaannya. [Baca juga: Siapakah para Nephilim itu? Klik disini.]

Dan terakhir bisa dilihat pula dalam Kejadian 11, dimana manusia ingin mencari nama bagi dirinya sendiri dengan membangun menara yang puncaknya sampai ke langit. Lagi-lagi sebuah gambaran tentang peninggian manusia yang ingin menjadi seperti Allah, ingin memiliki kemuliaannya sendiri, ingin hidup bagi dirinya sendiri. [Baca juga: Mengapa manusia haus akan harta dunia dan pengakuan dari orang lain? Klik disini.]

Iblis sangat suka menyampaikan pesan-pesan yang berhubungan dengan kemuliaan dunia dan peninggian diri yang semuanya akan membawa decak kagum kepada manusia itu sendiri. Iblis suka dengan kekayaan duniawi, kemakmuran, kenikmatan dunia serta tepuk tangan dan pujian dari orang lain. Dan banyak manusia di dunia ini yang setuju dengan gagasan iblis tersebut, lalu mereka merangkul gagasan iblis tersebut, tanpa sedikitpun sadar bahwa mereka sedang diperangkap olehnya.

Di sisi lain, Tuhan Yesus mengajarkan jalan kerendahan sebagai ganti jalan kemuliaan, jalan kemiskinan sebagai ganti jalan kekayaan duniawi, jalan salib sebagai ganti jalan kenikmatan, jalan yang penuh proses sebagai ganti dari jalan yang instan, serta pelayanan di dalam ketersembunyian sebagai ganti dari tepuk tangan dan puji-pujian dari manusia.

Cara Tuhan Yesus sangat kontras dengan cara iblis. Tetapi sayangnya, cara iblis justru seringkali lebih menarik hati manusia, sedangkan cara Tuhan seringkali malah membuat orang segan dan ingin melarikan diri dari pada-Nya.

Kontras antara cara Tuhan dan cara iblis terlihat pula dalam Matius 5, dimana Tuhan Yesus justru mengatakan berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah. Tuhan Yesus justru cenderung mengajak manusia turun ke bawah, menyadari posisinya yang rendah di hadapan Tuhan, bukan menipu diri dengan segala prestasi, tepuk tangan dan kekayaan, lalu merasa diri sedemikian hebat dan besar, sebagaimana yang diajarkan oleh iblis.

Gagasan iblis dan gagasan Tuhan Yesus senantiasa bertentangan. Dari situlah kita dapat menduga alasan mengapa Matius membuat urutan pencobaan dari batu, Bait Allah dan puncak gunung yang tinggi.

Cara Lukas menulis

Injil Lukas mengawali pencobaan pertama dengan isi yang sama dengan injil Matius, yaitu mengubah batu menjadi roti. Dan tentu saja secara lokasi, hal itu terjadi atas permukaan tanah. Tetapi untuk pencobaan kedua dan ketiga, Injil Lukas memiliki urutan yang berbeda. Mengapa demikian?

Hal ini dikarenakan Injil Lukas punya penekanan yang berbeda dengan Injil Matius. Sementara Injil Matius menekankan pada ajaran tentang kemiskinan di hadapan Allah, Injil Lukas mengedepankan urutan peristiwa yang nantinya akan berpuncak pada Bait Allah.

Bait Allah adalah adalah setting utama dalam pemberitaan Lukas. Injil Lukas diawali dari Zakharia yang sedang melayani di Bait Allah (Lukas 1) dan diakhiri dengan para murid Tuhan Yesus yang berkumpul di Bait Allah (Lukas 24:53). Injil Lukas juga disusun sesuai irama perjalanan Tuhan Yesus, mulai dari Galilea menuju Yerusalem, yaitu tempat dimana Bait Allah berada.

Karena ditulis oleh orang yang sama, maka setting Injil Lukas juga memiliki kemiripan dengan setting dari Kisah Rasul, di mana jemaat setiap hari berkumpul di Bait Allah (Kis 2:46). Kemudian Bait Allah ini ditutup, rasul Paulus pun diseret keluar dari sana (Kis 21:30). Sampai akhirnya Kisah Rasul ditutup dengan pemberitaan Injil oleh rasul Paulus dari sebuah rumah sewaan di Roma, yang telah beralih fungsi menjadi seperti Bait Allah. (Kisah 28:30-31). Sangat jelas sekali, tulisan Lukas memang sangat berorientasi pada Bait Allah ini, baik Baik Allah secara jasmaniah yang ada di Yerusalem, maupun Bait Allah secara rohaniah, yaitu tempat manapun, rumah sewaan misalnya, yang dijadikan sebagai pusat pemberitaan Injil Allah.

Jadi tidak mengherankan apabila pencobaan iblis terhadap Tuhan Yesus menurut Injil Lukas, juga berpuncak di Bait Allah.

Penutup

Perbedaan Injil Matius dan Injil Lukas dalam menempatkan urutan pencobaan bukanlah disebabkan karena ketidakkonsistenan dalam menulis. Para penulis Injil tidak terpanggil untuk mencatat segala sesuatu perisitiwa dari sudut pandang kronologisnya saja, tetapi ada pesan yang mau disampaikan oleh para penulis Injil ketika mereka mencatat sesuatu.

Kita percaya bahwa peristiwanya sendiri memang sungguh-sungguh terjadi. Hanya saja cara penceritaan atau penulisan atas peristiwa tersebut bisa berbeda-beda antara penulis Injil yang satu dengan yang lain. Kita percaya bahwa masing-masing penulis injil digerakkan oleh Roh Kudus yang sama, dan Roh Kudus tahu kondisi penerima berita pada waktu itu seperti apa, sehingga mereka perlu mendengar kisah tersebut dengan cara seperti apa, dengan urutan seperti bagaimana dan seterusnya.

Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.