Tuesday, March 15, 2022

Apa yang dapat kita pelajari dari Kejadian Pasal 1 hingga 11?

Apakah arti penting dari Kejadian 1-11?
Apakah tulisan yang sudah sedemikian lama seperti itu
masih relevan bagi kita di masa sekarang ini?

 


Pendahuluan: pentingnya mempelajari masa lalu

Pertunjukkan dan hiburan yang memuat berbagai usaha untuk meramal masa depan adalah sesuatu yang senantiasa amat diminati, entah di media cetak maupun media elektronik. Sepertinya ada hasrat yang begitu besar dalam diri manusia untuk mengetahui masa depan. Apalagi pada saat pergantian tahun, orang ramai-ramai mencari tahu tentang apa yang mungkin terjadi di tahun yang baru tersebut.

Meskipun demikian, di tengah gegap gempitanya hasrat untuk mengetahui masa depan, ternyata manusia juga tidak dapat melepaskan diri dari keinginan hati mereka untuk menggali berbagai fakta yang terkubur di masa lalu. Setelah mengamat-amati perilaku zaman, Mircea Eliade - sejarahwan dan profesor Rumania yang pernah mengajar di University of Chicago - lalu menyimpulkan: “There is a veritable recuperation of the past, even of our primeval past.” [1]

Ilmu keturunan atau genealogy misalnya, yang belum lama ini cukup marak diberitakan oleh Internet, bukan saja diminati oleh orang-orang tua melainkan juga mulai menarik minat banyak anak-anak muda untuk mengetahui asal-usul keturunan mereka. Yang paling menarik buat saya adalah ketika beberapa waktu yang lalu, tersiar kabar tentang terungkapnya dugaan pertalian darah antara dua diva dunia, Madonna dan Celine Dion. Terlepas dari benar atau tidaknya berita populer tersebut, satu ciri utama dari ilmu keturunan semacam itu, sebagaimana halnya juga dengan arkeologi, adalah upaya-upaya yang mereka lakukan untuk menengok ke masa lalu, demi menggali fakta-fakta yang telah terkubur oleh waktu. “Futurology is mirrored by archeology,” kata seorang teolog Perancis bernama Henri Blocher. [2]

Dalam kaitan itu, saya ingin mengajak anda untuk juga menggali beberapa fakta penting di masa lalu yang memiliki dampak besar bagi hidup kita di masa kini. Bukan ilmu keturunan yang sedang saya bicarakan, bukan juga tentang arkeologi, lebih dari itu saya ingin mengajak anda untuk meneropong kitab Kejadian, khususnya Pasal 1 sampai 11.

 

Apa keistimewaan Kitab Kejadian pasal 1 sampai 11?

Tidak jarang orang menganggap kitab Kejadian, atau bahkan seluruh kitab dalam Perjanjian Lama, sebagai suatu barang yang sudah usang serta tidak relevan lagi, sehingga pada akhirnya mereka menyimpulkan bahwa kitab-kitab tersebut tidak ada manfaatnya lagi untuk dibaca. Clyde T. Fransisco, seorang profesor Perjanjian Lama dari Southern Baptist Theological Seminary Louisville Kentucky mengatakan:

Although the Bible is still the best seller among the world’s publications, it is not being read by the average person. This apathy is especially pronounced in regard to the Old Testament. [3]

Saya pikir gejala yang diamati oleh Fransisco tidaklah berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Saya berpendapat, sikap pengabaian terhadap pesan-pesan Perjanjian Lama ini, adalah sikap yang kurang bijaksana, bahkan tidak tepat.

Kitab Kejadian, dan juga kitab-kitab lain dalam Perjanjian Lama, adalah kitab yang tetap relevan, penting bagi jaman kita sehingga tidak sepatutnya diabaikan. Meskipun kitab-kitab tersebut telah ditulis pada jaman yang telah lama berlalu, namun apa yang dituliskan di dalamnya tetap berguna untuk kita saat ini. Segala sesuatu yang diuraikan dalam Kitab-kitab tersebut masih memiliki keterkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di zaman kita sekarang.

Ditinjau dari segi volume, Kejadian 1 – 11 hanya menempati sekitar 22% dari keseluruhan kitab Kejadian. Meskipun demikian, Musa - sang penulis kitab tersebut [4] - telah menjadikan kesebelas pasal pertama kitab Kejadian tersebut sebagai latar belakang (background setting) yang amat penting bagi segala sesuatu yang terjadi di pasal-pasal setelahnya (yaitu 12 – 50). Bahkan dapat saya katakan bahwa kesebelas pasal pertama itu, juga menjadi latar belakang bagi keseluruhan gagasan di dalam Alkitab, dari Kejadian sampai Wahyu. Bukankah itu hebat?

Dari apa yang saya amati, saya menemukan bahwa pemahaman kita atas 11 pasal pertama kitab Kejadian, sungguh-sungguh dapat menolong kita untuk semakin memahami misi dari Yesus Kristus datang ke dunia ini dan mendorong kita untuk semakin mengerti mengapa Yesus melakukan apa yang telah Dia lakukan di kayu salib.

Memahami 11 pasal pertama dalam kitab Kejadian, mampu menolong kita untuk menemukan hal-hal yang paling mendasar dari kehidupan kita, umat manusia sekarang ini, di zaman Postmodern ini. Justru gambaran-gambaran yang menyimpang di dalam dunia kita sekarang, dapat kita telusuri sampai kepada gambar aslinya di dalam pasal 1 – 11 kitab Kejadian.

Jika kita tidak pernah melihat gambaran asli dari sesuatu yang baik, maka kita tidak akan pernah tahu seberapa jauh kita telah menyimpang dari sasaran semula bukan?

Berbicara tentang Alkitab, tidak mungkin menghindar dari pembahasan tentang Yesus, karena Alkitab ditulis untuk membawa setiap orang yang membacanya kepada suatu hubungan pribadi dengan Yesus Kristus. Dalam kaitan itu, saya melihat bahwa tulisan-tulisan dalam Perjanjian Lama dapat menjadi alat bantu yang baik bagi kita untuk memahami prinsip-prinsip penting yang mengatur dunia ini dan untuk mengenal Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Juruselamat dunia. Karya besar Yesus dapat kita pahami secara utuh hanya jika kita memiliki pemahaman yang cukup baik terhadap Perjanjian Lama, khususnya dalam hal ini Kejadian 1-11. Semoga pada suatu saat, anda pun melihat hal tersebut dari sudut pandang yang sama dengan yang saya katakan.

Tuhan Yesus memberkati. (Oleh: izar tirta).


[1] Mircea Eliade, Aspects du mythe/Myth and Reality  trans. Willard R.Trask (New York: Harper and Row , 1963), 167.

[2] Henri Blocher, In The Beginning: The Opening Chapters of Genesis (England: InterVarsity Press, 1984), p 15.

[3] Clyde T.Fransisco, Introducing the Old Testament (Tennessee: Broadman Press, 1977), p 9.

[4] Saya percaya bahwa Alkitab ditulis 100% oleh Allah sendiri dan 100% oleh manusia. Maksudnya adalah, gagasan dari Alkitab adalah gagasan dari Allah sendiri, namun untuk menghadirkan gagasan tersebut ke dalam bentuk tulisan, Allah telah memakai manusia-manusia untuk membuatnya. Jadi sekalipun saya secara teologis memiliki keyakinan yang kuat bahwa Allah sendirilah Tokoh di balik penulisan kitab Kejadian, namun secara praktis saya juga dapat berkata bahwa Musa-lah sang penulisnya. Ini adalah satu di antara sekian banyak paradoks Alkitab yang perlu kita pahami.

 

Penciptaan: suatu pendekatan singkat dari sudut pandang etika

 


 

Pendahuluan

Etika berbeda dengan etiket, walau keduanya terdengar sama. Etika berbicara tentang karakter dan moral individu. Sedangkan etiket berbicara tentang bagaimana memelihara hubungan yang baik antar sesama manusia. Etika memiliki dua dimensi yaitu vertikal (antara Allah dan manusia) dan horizontal (antara sesama manusia), sedangkan etiket menitikberatkan hanya pada satu dimensi yaitu horizontal.[Baca juga: Darimana kita tahu bahwa Alkitab berisi berita yang dapat dipercaya? Klik disini.]

Sebagai contoh:
Tidak menjadi soal jika seseorang dilahirkan menjadi seorang Irian Jaya dan telah terbiasa sejak kecil untuk berpakaian minim di kampungnya. Tetapi hal ini mungkin akan menjadi persoalan jika ia bersikeras untuk tampil setengah telanjang pada saat diundang sebagai narasumber dalam suatu talkshow di televisi misalnya. (Persoalan etiket)

Tidak peduli apakah seseorang adalah pribadi yang terbiasa tampil setengah telanjang di kampung, ataupun apakah dia adalah seorang bankir yang biasa tampil necis setiap hari, ketika ia membunuh seseorang maka ia pasti akan menghadapi tuntutan keadilan yang sama. (Persoalan etika)

Dari contoh sederhana ini jelas terlihat bahwa persoalan etiket sangat erat kaitannya dengan budaya setempat, tetapi persoalan etika adalah persoalan jati diri kita sebagai manusia yang memiliki nilai-nilai moralitas yang berbeda dengan makhluk lain di dunia ini. [Baca juga: Arti penting penguasaan diri, ketekunan dan kesalehan. Klik disini.]

 

Etika hubungan Allah dan manusia dalam hidup keseharian

Jika kita suka melibatkan Allah di dalam hidup ini, apakah hal itu berarti kita seorang yang sok rohani secara berlebihan?

Jika kita barangkali pernah bertanya-tanya, mengapa dalam hidup ini kita harus mengenal Allah? Atau bahkan, mengapa istilah Allah harus disebut-sebut dalam hidup kita sehari-hari? Memangnya apa sih pentingnya Dia itu bagi hidup kita?

Sebagaimana kita ketahui, hidup keseharian ini diwarnai oleh berbagai persoalan, ada yang besar, ada yang kecil. Ada yang penting, ada pula yang tidak terlalu penting. Dan kita, setiap hari senantiasa harus memikirkan berbagai persoalan itu untuk dicarikan jalan keluarnya. Pertanyaannya, apa arti penting Allah sehingga kita harus pula mengikutsertakan Dia di tengah-tengah persoalan yang kita hadapi? Tidak cukupkah jika kita hanya memikirkan saja kebutuhan-kebutuhan hidup kita tanpa harus membawa-bawa istilah “Allah” dalam hidup kita? Ataukah, orang-orang yang suka melibatkan Allah di dalam kehidupan sehari-hari mereka, pada dasarnya tidak lebih dari orang-orang yang sok rohani atau sok suci belaka?

 

Dasar Alkitabiah

Musa melalui Kejadian 1:1 memberi kita suatu sudut pandang yang tepat bagi dasar-dasar etika kehidupan manusia, yaitu bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah hasil karya ciptaan Allah. Kalimat dalam Kejadian 1:1 berbunyi: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.”

“Cuma itu saja?” kita bertanya. Jika langit dan bumi saja yang diciptakan Tuhan, bagaimana dengan bintang, bulan dan planet-planet lainnya? 

Makna yang terkandung di dalam istilah “langit dan bumi” jauh lebih luas dari istilah itu sendiri karena yang dimaksud oleh ayat ini bukanlah langit yang kita lihat dan planet bumi yang kita diami ini saja, melainkan segala sesuatu yang terdapat di dalam dunia realitas.

Jika demikian, apa implikasi etis dari penciptaan langit dan bumi oleh Allah?

 

Implikasi etis pertama

Segala yang ada di langit dan bumi adalah milik kepunyaan Tuhan, bukan kita. Itu sebabnya kita tidak diajarkan untuk memakai secara semena-mena alam semesta ini, apalagi merusaknya. Ini sama seperti seseorang yang sedang bermain-main di halaman belakang rumah kita. Halaman belakang itu milik kita, juga segala hal yang ada di atasnya, entah itu pepohonan, binatang peliharaan, maupun meja kursi taman dan segala yang ada di taman itu. Tentu tidak etis jika orang yang kita izinkan bermain-main di halaman belakang kita itu dengan seenaknya memangkas pohon kamboja kesayangan kita, atau membanting beberapa pot bunga yang kita taruh di sana, atau membawa pulang seenaknya meja atau kursi taman yang ada di sana bukan?

Dengan kemajuan teknologi dan pertumbuhan masyarakat di berbagai belahan bumi ini, kita mulai merasa menjadi raja di atas bumi ini. Di satu sisi, memang ada benarnya bahwa kita telah diberi mandat budaya oleh Allah untuk mengelola bumi ini, tetapi di sisi lain, kita harus senantiasa kembali pada Kejadian 1:1 untuk mengingat bahwa bagaimanapun juga Tuhanlah yang memiliki bumi. Dengan kesadaran ini, kiranya kita dapat sedikit meredam hasrat merusak yang ada di dalam diri kita dan mulai memperlakukan ciptaan Tuhan dengan sikap yang lebih hormat.

 

Implikasi etis kedua

Implikasi lain dari penciptaan adalah bahwa Tuhan dan ciptaan adalah dua entitas yang berbeda sama sekali. Yang pertama sudah ada dan senantiasa ada, tetapi yang kedua baru ada setelah di-ada-kan oleh yang pertama. Dengan kata lain, Tuhan bersifat kekal, tetapi ciptaan tidak. Tuhan tidak bermula dan tidak berakhir, tetapi ciptaan memiliki permulaan [1]. Dengan mengumumkan suatu kalimat penting: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi,” Alkitab menantang dan menentang setiap orang yang menganut paham Panteisme.

Panteisme adalah suatu pandangan filsafat yang meyakini adanya suatu kesatuan antara allah dan ciptaan. Selengkapnya mengenai Panteisme, Lorens Bagus mengatakan:

Allah merupakan suatu prinsip impersonal, yang berada di luar alam, tetapi identik dengan-Nya. Panteisme meleburkan Allah ke dalam alam, seraya menolak unsur adikodrati-Nya. Menurut panteisme, segala sesuatu tidak merupakan substansi yang independen.[2]

Alkitab tidak mengajarkan paham panteisme ini, sebab berdasarkan Kejadian 1 ini jelas sekali bahwa ada suatu perbedaan hakikat antara Pencipta dan ciptaan. Allah tidak melebur di dalam ciptaan, melainkan Allah berkuasa di atas segala ciptaan tersebut.[3] Implikasi etisnya adalah bahwa kita tidak sepatutnya menyembah ciptaan Tuhan, melainkan Dia yang telah mencipta itulah yang patut disembah. Bayangkan jika suatu hari kekasih anda memberikan foto dirinya untuk disimpan, dengan harapan anda selalu ingat pada dirinya. Tetapi yang terjadi kemudian adalah anda jauh lebih mencintai foto tersebut ketimbang sang kekasih itu sendiri. Ini tentu tidak etis bukan?

 

Implikasi etis ketiga

Karena seluruh alam semesta ini adalah milik Dia, maka segala sesuatu yang ada dan terjadi di alam semesta ini berada di bawah pengawasan Dia. Entah Dia setuju atau tidak setuju pada apa yang sedang terjadi, tetapi satu hal yang pasti adalah bahwa Dia mengawasi segala yang terjadi di alam semesta ini.

Oleh karena itu, bekerja dan beraktifitas di dalam dunia ini adalah suatu hal yang sepatutnya kita lakukan untuk Dia atau bagi Dia.

Seringkali orang memiliki cara pandang yang sempit bahwa melayani Tuhan sama artinya dengan menjadi Pendeta. Melayani Tuhan hanya dipahami sebagai bermacam-macam aktivitas yang kita lakukan di gereja. Ini adalah cara pandang yang terlalu sempit dan perlu untuk diperbaiki.

Allah kita adalah Allah yang begitu besar, jauh lebih besar dari seluruh alam semesta ini sekalipun, tetapi kita telah seolah-olah mengurung Dia di dalam gereja kita yang kecil. Seolah-olah Allah hanya layak disembah, dibicarakan, dipikirkan atau dilayani dari dalam gereja saja, sehingga ketika kita keluar dari gedung gereja, maka hubungan kita dengan Dia terputus sudah. Ini tidak benar.

Karena Allah adalah Allah atas dunia ini maka segala pekerjaan baik yang ada di dalam dunia ini layak dipersembahkan bagi Dia. Tidak menjadi soal apakah anda bekerja sebagai seorang akuntan, ataukah sopir angkot. Tidak menjadi soal apakah anda bekerja di kota besar atau di daerah pedalaman. Tidak menjadi soal apakah pekerjaan anda terlihat oleh orang banyak dan memberi dampak yang luas bagi masyarakat ataukah pekerjaan anda begitu sunyi, tidak terlihat dan seolah memberi dampak yang kecil saja bagi kehidupan masyarakat. Tidak menjadi soal apakah anda adalah seorang wanita karier ataukah ibu rumah tangga. Tidak menjadi soal apakah anda pendeta ataukah seorang tukang semir sepatu. Semua pekerjaan itu layak dipersembahkan kepada Tuhan dan ketika anda melakukannya dengan sungguh-sungguh dan dilandasi moralitas yang baik, maka pada dasarnya anda juga sedang melayani Allah.

Menjadi pendeta tidaklah lebih mulia daripada menjadi seorang mekanik di sebuah bengkel mobil, jika kedua hal itu dilakukan dan dikerjakan secara bermoral dan dipersembahkan kepada Tuhan. Menjadi kasir supermarket yang jujur dan percaya kepada Allah, jauh lebih mulia ketimbang menjadi pendeta yang menipu jemaatnya. Duduk di belakang meja sambil memikirkan strategi pemasaran yang tepat bagi perusahaan anda jauh lebih mulia dibanding menjadi pendeta yang kerjanya hanya bermalas-malasan saja.

Saya selalu memakai contoh pendeta, bukan karena saya benci pada profesi tersebut, tetapi agar sifat kontrasnya dapat muncul dan mudah dipahami oleh kita semua bahwa seperti itulah cara pandang Alkitab yang sebenarnya mengenai etos kerja kita sehari-hari. Pekerjaan seorang manusia tidak dilihat dari jenisnya atau jabatannya, tetapi dilihat dari seberapa setia dan jujur kita melakukannya serta seberapa sungguh-sungguh kita melakukannya bagi Tuhan yang adalah Tuhan atas semua pekerjaan baik di dunia. Sebelum dunia terbentuk seperti sekarang ini, Dialah Pribadi yang telah terlebih dahulu melakukan pekerjaan di dunia ini.

 

Kesimpulan

Dengan mempertimbangkan berbagai implikasi etis di atas, maka adalah tidak mengherankan jika di dalam hidup ini kita melibatkan Allah dalam segala apa yang kita kerjakan. Hal itu adalah suatu konsekuensi wajar jika kita melihatnya dari sudut pandang yang benar, yaitu bahwa Dia adalah pencipta dari segala sesuatu.

Bukanlah suatu sikap yang sok rohani jika kita berusaha mencari kaitan antara apa yang kita kerjakan atau kita alami dengan Pribadi Tuhan, karena sebagaimana kita ketahui Tuhan adalah Pribadi yang berkuasa bukan saja di dalam dimensi material seperti kita tetapi juga dimensi rohani atau spiritual. Apa yang terjadi di dalam dunia materi memiliki kaitan dengan apa yang terjadi di dalam dunia spiritual. Tidak peduli seberapa jauh dimensi teknologi telah mencapai berbagai kemajuan, fakta yang satu ini tidak mungkin terhindarkan.

Kiranya melalui tinjauan singkat ini kita dapat semakin mampu memandang kehidupan dan pekerjaan kita dari sudut pandang yang etis serta sesuai dengan maksud dan tujuan Allah ketika Dia menciptakan kita.

Tuhan Yesus memberkati. (Oleh: Izar Tirta).


[1] Beberapa ciptaan akan berakhir, tetapi ada pula ciptaan Tuhan yang direncanakan untuk ada selama-lamanya. Jadi ada permulaan tetapi tidak ada akhiran.

[2] Lorens Bagus, Kamus Filsafat (Jakarta: Gramedia, 1996), 774.

[3] Anda mungkin heran mengapa saya mengangkat persoalan ini, tetapi jika kita cermati berbagai pandangan yang beredar di zaman Postmodern ini kita akan temukan bahwa Panteisme cukup subur berkembang di dalam benak masyarakat sekarang ini. New Age Movement adalah suatu paham atau gerakan yang juga menganut Panteisme ini. Nama gerakannya sendiri boleh memiliki kesan baru “new age” tetapi gagasan yang dijual sama sekali bukan “barang” baru.

Monday, March 14, 2022

Mengapa Allah membuat pakaian untuk manusia?

Sebuah renungan dari Kejadian 3:21

Mengapa Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia?

Mengapa pakaian yang dibuat oleh manusia tidak diterima oleh Allah?

 


 

 

Lewis Smedes, seorang pakar Psikologi dari Fuller Theological Seminary, di dalam bukunya yang berjudul Shame and Grace mengaku demikian: “Apa yang paling saya rasakan adalah rasa ketidaklayakkan yang tidak dapat dihubungkan dengan dosa tertentu yang saya lakukan. Apa yang lebih saya perlukan daripada pengampunan adalah perasaan bahwa Tuhan menerima saya, memiliki saya, memeluk saya, meyakinkan saya, dan tidak akan pernah melepaskan saya bahkan walaupun Ia tidak terlalu terkesan dengan apa yang ada di tangan-Nya itu.” [ Lewis B.Smedes, Shame and Grace (San Fransisco: Harper Collins, 1993), 80.]

 

Apa yang diutarakan oleh Smedes adalah jeritan setiap jiwa manusia, termasuk saya. Di satu sisi ada perasaan ingin diterima oleh Tuhan, tetapi di sisi lain ada perasaan bersalah aneh yang seolah terus menghantui diri, secara perlahan namun pasti, dengan suara yang halus namun terus menerus, berteriak di dalam batin mengenai sesuatu yang tidak beres dengan diri ini. Tetapi apa tepatnya?

 

Smedes mengungkapkannya dengan kalimat: “rasa ketidaklayakkan yang tidak dapat dihubungkan dengan dosa tertentu yang saya lakukan.” Artinya, kita tetap merasa ada yang salah dengan diri ini, sekalipun tidak ada kesalahan spesifik yang baru saja kita perbuat. Dunia Teologi secara umum menamakan kondisi ini sebagai “status berdosa.” Sementara para pengikut John Calvin menyebutnya sebagai “total depravity.”

 

Pakaian buatan manusia

Manusia pertama, Adam dan Hawa, juga mengalami hal itu ketika mereka jatuh ke dalam dosa. Alkitab melukiskan peristiwa itu demikian: Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. (Kejadian 3:7).

 

Sebelum mereka melanggar perintah Tuhan, hasrat mereka yang terbesar adalah “mengetahui apa yang baik dan yang jahat.” Dan Iblis sudah memprediksi bahwa jika mereka makan buah larangan itu, maka mata mereka akan terbuka.

 

Tragisnya, setelah mata mereka benar-benar terbuka, yang mereka lihat justru adalah kekurangan yang memalukan di dalam diri mereka. Apa yang dulu, di dalam sudut pandang mereka yang polos tanpa dosa,  merupakan hal yang biasa bagi mereka, yaitu suatu keterbukaan baik terhadap Allah maupun terhadap sesama. Kini mereka masing-masing merasakan ada sesuatu yang tidak beres, sesuatu kekurangan yang memalukan, yang tidak ingin diperlihatkan, baik kepada Tuhan, maupun kepada sesama.

 

Mereka berusaha menutup-nutupi kekurangan ini dengan “menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.”  Mengenai tindakan ini, Gordon J.Wenham punya pendapat demikian:

 

They realized they were nude, and they sewed fig leaves together. Fig leaves were probably used because they are the biggest leaves available in Canaan, though their heavy indentations must have made them less than ideal for a covering. [Gordon J.Wenham, Word Biblical Commentary Vol 1 (Texas: Word Books Publishers, 1987), 76.]

 

Mereka kelihatan agak kehabisan akal untuk menutup-nutupi kesalahan tersebut. Dengan bekal sarana seadanya, mereka membuat pakaian penutup itu, walaupun tidak memadai. Wenham kemudian melanjutkan: Though somewhat ineffective, these actions suggest urgency and desperation; the innocent serenity of 2:25 is shattered. [Gordon J.Wenham, Word Biblical Commentary Vol 1 (Texas: Word Books Publishers, 1987), 76.]

 

Perasaan tidak layak karena dosa seperti yang dialami oleh Adam dan Hawa adalah perasaan berdosa yang sama dengan yang saya miliki, dan mungkin juga kita semua, jika mau jujur. Dan sama seperti mereka, kita manusia dari zaman ke zaman, juga telah berupaya sedemikian rupa untuk menutup-nutupi apa yang tidak beres dengan diri kita ini.

 

Dari pengamatan saya selama ini, saya menyimpulkan ada dua kelompok besar dari upaya-upaya manusia untuk “menjalin dedaunannya sendiri” (istilah yang saya pinjam dari Alkitab) demi menutup-nutupi perasaan tidak layak karena dosa di hadapan Tuhan. Kelompok yang pertama saya kategorikan sebagai budaya sekularisme dan kelompok yang kedua adalah budaya agamawi.

 

Budaya sekularisme

Di dalam kelompok ini, saya memasukkan segala upaya manusia dari abad ke abad untuk menyingkirkan peranan Tuhan di dalam dunia. Peran Tuhan dalam hubungan dengan manusia ditekan begitu rupa sampai pada titik ketiadaan, nihil.

 

Budaya agamawi

Mungkin anda merasa heran melihat saya memasukkan budaya agamawi sebagai satu dari dua hal yang dilakukan manusia untuk menutup-nutupi dosanya di hadapan Tuhan. Bukankah agama seharusnya merupakan sarana untuk datang kepada Tuhan, mengapa justru dimasukkan sebagai unsur yang dihubungkan dengan upaya manusia untuk menjalin dedaunannya sendiri?

 

Jika kita perhatikan bagaimana Tuhan Yesus mengecam ahli-ahli agama di zaman-Nya, mungkin kita akan lebih mengerti mengapa hal tersebut perlu dilakukan.

 

Pakaian buatan Allah

Menanggapi perbuatan Adam dan Hawa, Alkitab kemudian menjelaskan: Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka.” (Kej 3:21)

 

Ayat ini sering luput dari perhatian kita, yaitu bagaimana Tuhan sendiri yang kemudian membuat pakaian untuk Adam dan Hawa. Pertanyaannya adalah, mengapa??

 

Jika manusia sudah membuat pakaiannya sendiri, tetapi Tuhan ternyata masih juga membuatkan pakaian untuk mereka, maka kemungkinannya hanya satu, yaitu bahwa Tuhan memandang pakaian buatan manusia tidak cukup baik sehingga Ia tidak menerimanya. Kabar baiknya adalah, Dia bersedia untuk membuatkan pakaian lain untuk manusia.

 

Tindakan Tuhan yang membuat pakaian untuk manusia tersebut, memberi indikasi bahwa di sepanjang Alkitab kita akan terus diberitahu bahwa dalam upaya penyelamatan manusia dari hukuman dosa, Tuhanlah subjeknya, bukan manusia. Kita tidak menyelamatkan diri sendiri, Tuhanlah yang menyelamatkan kita. Kejadian 3:21 memang tidak memberi indikasi apa-apa tentang tokoh Yesus Kristus, tetapi penelusuran Alkitab secara lebih jauh pada akhirnya pasti akan membawa kita kepada Dia.

 

Sebagaimana seekor binatang harus mati untuk menutupi ketelanjangan manusia, demikian pula Yesus Kristus harus mati untuk menutupi dosa manusia. Baik kematian binatang itu, maupun kematian Kristus, semuanya itu adalah karya Allah bagi manusia.

 

Apakah kita sudah mulai melihat hubungan di antara keduanya sekarang?

 

Akhir kata

Dari bagian-bagian awal Alkitab saja kita sudah diberi petunjuk bahwa Allah adalah sosok Pribadi yang berdaulat terhadap manusia. Kondisi kita yang berdosa, membuat diri kita tidak pantas bagi-Nya dan di dalam kedaulatan-Nya, Ia bisa saja membuang kita begitu saja. Jika Tuhan memutuskan untuk membiarkan saja kita di dalam kondisi berdosa ini, maka itu jelas bukan kesalahan-Nya. Kitalah yang pertama-tama telah berdosa pada-Nya.

 

Pesan Alkitab mengenai tindakan Tuhan yang membuat pakaian bagi manusia adalah bahwa di dalam upaya menanggulangi dosa serta segala konsekuensinya, hanya Dia yang mampu berbuat sesuatu untuk kita. Upaya kita hanya akan sia-sia dan tidak memadai di mata Allah. Jangankan menanggulangi dosa, menutupi ketelanjangan saja kita dinilai tidak mampu.

 

Mungkin kita akan tergelitik rasa keingintahuannya, jika dikatakan bahwa gagasan semacam ini adalah gagasan yang unik, khas, hanya ada di Alkitab. Tidak ada buku lain yang pernah melontarkan gagasan seperti ini.

 

Tuhan Yesus memberkati. (Oleh: izar tirta).