Tuesday, February 22, 2022

Kisah keluarga Yusuf diterima di tanah Mesir

Perenungan sederhana dari Kejadian 47:1-12


SECARA  RINGKAS

Saudara-saudara Yusuf bukanlah orang yang memiliki kisah kehidupan yang baik sehinga mereka layak menerima tempat terbaik di Mesir. Tetapi berkat Yusuf yang menjadi sang mediator bagi mereka, maka Firaun pun menerima dan memberikan tempat tersebut.

Kisah ini mengingatkan kita adalah dua hal:

  • Kasih Karunia dan pengampunan Ilahi
  • Panggilan kita untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Menjadi berkat bagi orang lain adalah kesempatan yang begitu indah untuk dimiliki oleh kita sebagai orang percaya. Dalam kondisi hidup yang susah sekalipun, kita anak-anak Tuhan tetap dipanggil untuk menjadi berkat bagi orang lain.

 

MARI  MERENUNGKAN  LEBIH  JAUH

 

Yusuf memberitahukan Firaun

Meskipun Yusuf memiliki jabatan yang penting di Mesir, tetapi ia tidak lupa bahwa ada orang yang lebih tinggi lagi darinya, yaitu Firaun. Yusuf tidak memutuskan sendiri apa yang ia anggap baik bagi saudara-saudaranya melainkan ia minta izin dengan sopan kepada Firaun.

Cara Yusuf minta izin pun terbilang sangat halus, ia seolah-olah hanya memberitahukan saja kepada Firaun bahwa ayah dan saudara-saudaranya telah tiba. Selanjutnya ia menyerahkan kebijaksanaan dan keputusan kepada Firaun tentang apa yang akan terjadi.

Ini merupakan tindakan iman juga, yaitu iman kepada Allah yang tercermin pada sikap percaya kepada Firaun pula. Kita tidak dapat mengatakan bahwa kita percaya kepada Allah jika di dalam hidup ini kita tidak bisa mempercayai siapapun. Sebab bagaimana mungkin mempercayai Allah yang tidak kelihatan sedangkan mempercayai manusia yang kelihatan pun kita tidak bisa?

Hati setiap manusia ada di tangan Tuhan, sehingga orang seperti Firaun yang tidak mengenal Allah Yahwe sekalipun, ada di bawah kendali-Nya. Jika Tuhan bisa memakai Yusuf untuk menyelamatkan Mesir, Tuhan juga bisa memakai Firaun untuk menyelamatkan keluarga Yusuf dengan membiarkan mereka tinggal di Mesir.

 

Hamba-hambamu ini gembala domba

Yusuf tidak malu mengakui di hadapan Firaun bahwa keluarganya adalah orang sederhna. Meskipun ia sendiri orang yang memiliki jabatan penting di Mesir, Yusuf tetap mengaku dengan rela bahwa keluarganya hanyalah orang sederhana yang sangat jauh status sosialnya dibandingkan dengan Yusuf atau apalagi dengan Firaun.

Tidak seperti banyak orang yang melupakan saudara-saudaranya setelah ia sendiri menjadi orang yang sangat sukses, Yusuf tidak melihat kesuksesannya sebagai suatu milik yang perlu dinikmati seorang diri saja. Sebaliknya yusuf justru melihat bahwa statusnya yang sedemikian tinggi itu adalah jalan yang disedikan Allah untuk menyelamatkan suatu bangsa yang dipilih oleh Allah untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain.

Alkitab mengajar kita untuk jangan melihat segala sesuatu dari sudut pandang diri kita sendiri saja. Kita harus belajar melihat kehidupan kita sebagai suatu rancangan yang besar di dalam pikiran dan perbuatan Allah.

Jika Yusuf melihat pada dirinya sendiri saja, mungkin ia segan menerima saudara-saudara yang dulu telah menjual dia. Tetapi bukan saja Yusuf menerima, mengampuni dan tidak membalas kejahatan saudaranya dengan kejahatan, tetapi Yusuf bahkan tidak malu mengakui mereka di hadapan Firaun.

Yusuf telah belajar melihat rancangan Allah yang telah mereka-rekakan kehidupannya menjadi suatu kebaikan bagi suatu bangsa.

 

Yakub memohonkan berkat bagi Firaun

Allah pernah berjanji kepada Abraham bahwa keturunannya akan menjadi berkat bagi bangsa lain. Salah satu penggenapan dari janji tersebut adalah ketika Yakub memohonkan berkat bagi Firaun seperti yang kita baca di dalam bagian ini.

Dimanapun kita berada, kita bertanggungjawab untuk menjadi berkat bagi orang-orang yang ada di sekitar kita. Ada orang yang di dalam hidupnya seringkali membuat susah orang lain bahkan ada pula orang yang di dalam hidupnya kerap kali melakukan kejahatan terhadap orang lain. Sebagai orang Kristen, memang kita tidak boleh berbuat kejahatan, akan tetapi tidak cukup jika kita hanya menjadi orang yang tidak suka membuat onar atau mengganggu orang lain saja. Kita dipanggil untuk secara aktif menjadi berkat bagi orang disekitar kita.

Abraham diminta untuk menjadi berkat bagi bangsa lain, tetapi ketika Abraham di Mesir ia bukan menjadi berkat bagi bangsa itu. Akibat ketiadaan iman dan karena terlalu memikirkan diri sendiri, Abraham nyaris saja membuat Mesir dikutuk oleh Allah. Bagi orang Kristen, pilihannya hanya dua, jika kita tidak menjadi berkat bagi orang lain, maka kita akan menjadi kutuk bagi orang lain. Ini merupakan prinsip Alkitab yang cukup mengerikan tetapi jarang dibicarakan.

 

Tempat yang terbaik di negeri itu

Saudara-saudara Yusuf sebetulnya adalah orang-orang yang tidak pantas menerima yang terbaik dari Firaun. Mereka bukan orang Mesir, mereka juga bukan orang yang memiliki moral yang tinggi. Kitab Kejadian berulang kali menceritakan betapa rusaknya moralitas kebanyakan dari saudara-saudara Yusuf tersebut.

Perbuatan mereka yang menjual Yusuf hanyalah satu di antara kejahatan dan perbuatan immoral lain yang mereka lakukan. Pembunuhan yang dilakukan terhadap sebuah kota dan perzinahan yang dilakukan oleh Yehuda bersama Tamar, adalah contoh-contoh lain dari perbuatan immoral tersebut.

Akan tetapi berkat Yusuf, mereka mendapat pengampunan, penerimaan dan bahkan mendapat tempat terbaik di Mesir. Ini tentu saja mengingatkan kita akan diri kita sendiri. Di hadapan Tuhan kita bukanlah orang yang memiliki moralitas yang sesuai dengan harapan Allah. Kita kerap berbuat dosa dan kejahatan yang dibenci oleh Allah.

Tetapi berkat Yesus Kristus Sang Mediator kita itu, Allah berjanji untuk memberikan kepada kita segala sesuatu kebaikan yang tidak pantas kita terima. Inilah berita Injil itu.

Semoga kita dapat mensyukuri kebaikan Allah ini dan belajar untuk hidup seturut dengan kehendak-Nya.

 

Ayat-ayat Firman Tuhan

1 Kemudian pergilah Yusuf memberitahukan kepada Firaun: "Ayahku dan saudara-saudaraku beserta kambing dombanya, lembu sapinya dan segala miliknya telah datang dari tanah Kanaan, dan sekarang mereka ada di tanah Gosyen."  2 Dari antara saudara-saudaranya itu dibawanya lima orang menghadap Firaun.  3 Firaun bertanya kepada saudara-saudara Yusuf itu: "Apakah pekerjaanmu?" Jawab mereka kepada Firaun: "Hamba-hambamu ini gembala domba, baik kami maupun nenek moyang kami."  4 Lagi kata mereka kepada Firaun: "Kami datang untuk tinggal di negeri ini sebagai orang asing, sebab tidak ada lagi padang rumput untuk kumpulan ternak hamba-hambamu ini, karena hebat kelaparan itu di tanah Kanaan; maka sekarang, izinkanlah hamba-hambamu ini menetap di tanah Gosyen."  5 Lalu berkatalah Firaun kepada Yusuf: "Ayahmu dan saudara-saudaramu telah datang kepadamu.  6 Tanah Mesir ini terbuka untukmu. Tunjukkanlah kepada ayahmu dan kepada saudara-saudaramu tempat menetap di tempat yang terbaik dari negeri ini, biarlah mereka diam di tanah Gosyen. Dan jika engkau tahu di antara mereka orang-orang yang tangkas, tempatkanlah mereka menjadi pengawas ternakku."  7 Yusuf membawa juga Yakub, ayahnya, menghadap Firaun. Lalu Yakub memohonkan berkat bagi Firaun.  8 Kemudian bertanyalah Firaun kepada Yakub: "Sudah berapa tahun umurmu?"  9 Jawab Yakub kepada Firaun: "Tahun-tahun pengembaraanku sebagai orang asing berjumlah seratus tiga puluh tahun. Tahun-tahun hidupku itu sedikit saja dan buruk adanya, tidak mencapai umur nenek moyangku, yakni jumlah tahun mereka mengembara sebagai orang asing."  10 Lalu Yakub memohonkan berkat bagi Firaun, sesudah itu keluarlah ia dari depan Firaun.  11 Yusuf menunjukkan kepada ayahnya dan saudara-saudaranya tempat untuk menetap dan memberikan kepada mereka tanah milik di tanah Mesir, di tempat yang terbaik di negeri itu, di tanah Rameses, seperti yang diperintahkan Firaun.  12 Dan Yusuf memelihara ayahnya, saudara-saudaranya dan seisi rumah ayahnya dengan makanan, menurut jumlah anak-anak mereka. (Genesis 47:1-12)

Amin. Tuhan Yesus memberkati. (Oleh: Izar Tirta)

 

Saturday, February 19, 2022

Rasa bersalah yang membawa kita pada pertobatan dan pengampunan

Eksposisi singkat Keluaran 43:15-34

 


Secara  ringkas

Kelaparan, kekurangan dan penderitaan telah memaksa saudara-saudara Yusuf datang ke Mesir dan tanpa mereka sangka-sangka, ternyata mereka justru bertemu dengan Yusuf adik mereka yang telah mereka jual sebagai budak.

Saudara-saudara Yusuf pernah melakukan kesalahan yang cukup besar, selayaknya mereka mendapat hukuman atas perbuatan tersebut. Akan tetapi Yusuf justru menunjukkan sikap pengampunan dan menerima mereka kembali.

Suatu hal yang perlu dicatat dalam kisah ini adalah bahwa saudara-saudara Yusuf sadar akan kesalahan mereka dan rasa bersalah itu menghantui mereka hingga pada saat mereka bertemu dengan Yusuf kembali. Meskipun mereka belum sadar bahwa orang yang mereka temui adalah Yusuf, tetapi mereka takut bahwa Allah akan membalas perbuatan mereka di masa lalu melalui pemimpin Mesir tersebut.

Rasa bersalah seperti itu tidak selalu harus dilihat sebagai hal yang negatif, sebaliknya kita perlu melihatnya sebagai hal yang positif, sebab hanya orang yang tahu bahwa dirinya bersalah itulah yang pada akhirnya dapat menghargai apa artinya diberi pengampunan.

Rasa bersalah yang dibawa ke hadapan Tuhan, akan diselesaikan oleh Tuhan melalui pengampunan. Dan jika orang itu sudah merasakan pengampunan yang diberikan oleh Tuhan, maka dari hatinya akan muncul cinta kasih kepada Tuhan dan juga cinta kasih kepada sesama. Orang yang telah merasakan pengampunan dari Tuhan, sewajarnya akan lebih mudah memberikan pengampunan pula kepada sesama yang bersalah.

 

Mari  MELIHAT  lebih  JAUH

 

Yusuf meminta kehadiran Benyamin

Benyamin adalah adik Yusuf yang sama-sama berasal dari satu ibu yaitu Rahel. Meskipun sudah terpisah lama, Yusuf ingin melihatnya dan ingin bertemu kembali dengan dia. Kasih persaudaraan adalah hal yang ditekankan di dalam Alkitab. Mengasihi saudara yang dekat adalah hal yang wajar dilakukan oleh siapapun, termasuk oleh kita orang percaya. Sebab bagaimana mungkin kita bisa mengasihi orang yang jauh atau yang tidak dikenal, apabila orang yang paling dekat dengan kita ternyata justru kurang dikasihi?

Yusuf kini sudah ada pada suatu posisi yang sangat baik, tetapi Yusuf tetap masih mengingat saudaranya. Ini mengingatkan kita agar ketika kita berada di posisi yang baik, biarlah kita juga ingat pada saudara-saudara kita yang masih dalam kesulitan. Janganlah kita asyik dengan diri kita sendiri, tetapi pikirkan pula bagaimana orang lain bisa ikut menikmati apa yang kita nikmati. Inilah salah satu prinsip hidup kristen yang penting.

Yusuf bisa menjadi sosok yang sangat egois apabila ia hanya memikirkan Benyamin, tetapi bukan cerita itu yang kita temukan di Alkitab. Selain melakukan kebaikan kepada Benyamin, Yusuf juga berbuat baik kepada saudara-saudaranya yang dulu pernah mencelakakan dia.

 

Saudara-saudara Yusuf mengembalikan uang yang diberikan kepada mereka

Dalam bagian sebelumnya, Yusuf menahan Simeon dan meminta saudara yang lain untuk pulang mengambil Benyamin. Simeon dipilih mungkin sebagai suatu bentuk pertanggungjawaban perbuatannya kepada Yusuf dahulu. Di antara kedua belas saudara itu, sebetulnya Rubenlah yang paling tua, namun Ruben tidak ditahan karena Yusuf kini mengetahui bahwa Ruben dulu satu-satunya orang yang menentang perbuatan jahat saudara-saudara yang lain.

Ajaran Alkitab bukanlah ajaran yang tidak mementingkan perbuatan seseorang. Bahkan di hari penghakiman nanti, setiap orang akan dihakimi menurut perbuatannya, bukan menurut imannya saja. Tapi kita jangan keliru dalam memahami prinsip ini, iman memang adalah bagian yang sangat penting di dalam kekristenan, akan tetapi iman yang sejati pasti akan disertai dengan perbuatan yang sesuai pula dengan iman tersebut.

Paulus pernah mengatakan: Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, (Roma 2:6,7)

Yohanes pun berulang-ulang mencatat di dalam kitab Wahyu, tentang arti pentingnya perbuatan manusia di hadapan Tuhan. Salah satu dari catatan tersebut berbunyi seperti ini: Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!." "Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya. (Wahyu 22:11-12)

Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa kita diselamatkan karena perbuatan, melainkan karena anugerah melalui iman. Iman adalah pintu masuk ke dalam hubungan dengan Allah, akan tetapi darimana kita tahu bahwa kita sudah ada di dalam hubungan yang benar dengan Allah? Jawabannya adalah dari perbuatan kita setelah kita mengaku beriman.

Selain menahan Simeon sebagai suatu bentuk tanggugjawab, Yusuf juga mengembalikan uang mereka yang semula dimaksudkan sebagai pembayaran atas makanan. Mengapa Yusuf melakukan hal ini?

Sangat mungkin ini dilakukan untuk menguji saudara-saudaranya dalam hal memilih prioritas di dalam kehidupan mereka. Dahulu kala, mereka tega untuk menjual Yusuf, mereka memilih uang ketimbang saudaranya sendiri. Apakah kali ini mereka akan memilih uang juga ketimbang Simeon?

 

Saudara-saudara Yusuf merasa takut dan heran

Setelah membawa uang untuk membeli makanan dan membawa Benyamin ke hadapan Yusuf, para saudara itu merasa heran karena mereka justru dibawa masuk ke dalam rumah dan bagi mereka disiapkan hidangan makan. Lebih dari itu, bahkan Yusuf sang pemimpin Mesir itupun berjanji untuk makan bersama-sama dengan mereka.

Mereka merasa takut karena mereka sadar keadaan diri mereka di hadapan pemimpin Mesir yang berkuasa, sebab mereka sendiri bukan orang yang berkuasa. Mereka juga sadar bahwa kondisi mereka yang sedang dilanda kelaparan itu, membuat mereka harus memposisikan diri di bawah orang yang punya kekuatan untuk menolong mereka dari bencana kelaparan tersebut.

Rasa takut, rasa kekurangan bahkan rasa bersalah, tidak selalu merupakan perasaan yang buruk. Sebab perasaan seperti itu, dapat dipakai Tuhan untuk membawa seseorang ke dalam kondisi yang lebih siap untuk menerima pengampunan. Tanpa adanya rasa takut, seseorang sulit merendahkan dirinya di hadapan orang lain. Tanpa adanya kekurangan, seseorang sulit mengharapkan belas kasihan dari orang lain. Tanpa adanya rasa bersalah, seseorang bahkan akan mustahil mengharapkan pengampunan.

Rasa takut, rasa kekurangan dan rasa bersalah, memang bisa saja membawa orang ke arah yang negatif, yaitu apabila orang itu di dalam ketakutannya kehilangan pengharapan akan pertolongan dari pihak lain. Rasa kekurangan juga bisa membawa orang ke dalam kondisi serakah atau berusaha merampas milik orang lain. Dan rasa bersalah bisa membawa orang ke dalam depresi.

Kita perlu memiliki perasaan-perasaan seperti itu, tetapi terutama kita membutuhkan pertolongan Tuhan agar semua perasaan itu membawa kita ke dalam pertobatan dan pengampunan Ilahi.

 

Rasa takut yang keliru

Seperti disebutkan di atas, rasa takut bisa membawa seseorang ke arah yang positif, tetapi bisa pula membawa orang ke arah yang negatif. Dalam ayat 18 kita membaca bahwa rasa takut yang dimiliki oleh saudara-saudara Yusuf membawa mereka ke dalam sifat curiga yang berlebihan.

Mungkin karena mereka sendiri sadar bahwa mereka pernah berbuat kejahatan, maka mereka cenderung menyangka bahwa orang lainpun akan berbuat jahat sama seperti mereka. Atau mungkin pula mereka melihat bahwa inilah saatnya pembalasan Ilahi atas perbuatan mereka di masa lalu terhadap Yusuf.

Rasa takut kita yang disebabkan oleh perbuatan dosa, hanya dapat diselesaikan oleh pengampunan yang diberikan oleh Tuhan. Oleh karena itu, jika kita memiliki rasa takut yang seperti itu, tidak ada jalan lain kita harus bertobat dan datang kepada Tuhan untuk memohon pengampunan-Nya.

 

Allahmu dan Allah bapamu telah memberikan kepadamu

Cukup ironis membaca kalimat ini mengingat yang mengucapkannya justru adalah kepala rumah Yusuf yang secara tradisi dan agama merupakan orang yang tidak satu kepercayaan dengan saudara-saudara Yusuf.

Sebagai keluarga yang memiliki hubungan dekat dengan Allah, saudara-saudara Yusuf justru kurang mengenal dan kurang memahami belas kasihan dan pemberian Allah kepada mereka. Hingga harus diingatkan oleh orang lain yang sama sekali tidak memiliki hubungan keluarga dan tidak memiliki tradisi iman yang dikenal oleh keturunan Abraham ini.

Hal ini merupakan bukti bahwa anugerah umum Tuhan memang bisa menjangkau siapa saja di muka bumi ini. Kita sebagai orang yang memiliki anugerah khusus, sepantasnya memiliki kesaksian yang lebih baik tentang Allah ketimbang orang lain yang memiliki anugerah umum saja.

Melalui kepala pelayan Yusuf, kita belajar bahwa Allah adalah Dia yang memberi segala sesuatu kepada kita dengan tujuan agar kita juga dapat belajar untuk memberi. Saudara-saudra Yusuf kali ini tidak melakukan kesalahan seperti yang dahulu pernah mereka lakukan pada Yusuf. Mereka tidak mau menerima uang yang tidak patut mereka terima. Mereka kembalikan uang tersebut kepada yang seharusnya memilikinya.

 

Kemudian dikeluarkannyalah Simeon dan dibawanya kepada mereka

Simeon dikeluarkan setelah saudara-saudaranya yang lain melakukan apa yang diperintahkan oleh Yusuf kepada mereka dan setelah Yusuf menguji hati mereka terhadap uang. Ketaatan para saudara Yusuf untuk mengembalikan uang Yusuf dan membawa Benyamin ke Mesir, membuat Simeon layak dikeluarkan dari penjara dan di bawa kepada saudara-saudara yang lain.

Ada suatu harga yang harus dibayar  bagi kelepasan jiwa yang terpenjara. Dibutuhkan ketaatan saudara-saudaranya dan dibutuhkan belas kasihan pula dari orang yang memberi perintah tahanan.

Dalam kehidupan orang Kristen kita sudah sangat terbiasa dengan pemahaman tentang penebusan Tuhan Yesus sedemikian rupa sehingga kita merasa bahwa tindakan Tuhan itu sepertinya biasa-biasa saja. Kita jadi kurang menghargai dan kurang menghayati akan betapa besarnya pengorbanan Tuhan Yesus dan betapa menakutkannya nasib kita apabila Tuhan Yesus tidak membayar hutang-hutang dosa kita itu. Tanpa Kristus yang membayar dengan darah-Nya maka tidak ada kemungkinan bagi hidup kita untuk dilepaskan dari penjara dosa dan hukuman maut di dalam kekekalan.

Alkitab berulang kali menjelaskan bahwa ada harga yang harus dibayar oleh manusia yang berdosa untuk dapat bersekutu dengan Allah yang suci. Sama seperti yang digambarkan dalam kisah ini, ada harga yang harus dibayar oleh saudara-saudara Yusuf untuk dapat mengeluarkan Simeon dari penjara tersebut.

 

Lalu minumlah mereka dan bersukaria bersama-sama dengan dia

Saudara-saudara Yusuf pada akhirnya makan bersama Yusuf dan orang-orang Mesir. Mereka yang miskin dipersatukan dengan mereka yang kaya. Mereka yang berkekurangan, dipersatukan dengan mereka yang berkelimpahan. Dan meskipun mereka bukan orang Mesir, tetapi mereka mendapat kesempatan untuk makan bersama. Dan meskipun mereka bersalah di hadapan Yusuf, mereka tidak mendapat penghukuman, tetapi diterima dalam suatu persekutuan meja (table felowship) yang indah.

Ini adalah gambaran dari diri kita sendiri di hadapan Allah. Kita pun memiliki kesalahan, kita pun tidak patut untuk makan bersama-sama dengan Tuhan. Tetapi apabila kita bertobat dan kembali kepada Tuhan, maka Tuhan akan memberikan pengampunan dan memberi kesempatan untuk menikmati table fellowship bersama Dia selama-lamanya. (Oleh: Izar Tirta)

 

Ayat-ayat Firman Tuhan:

15 Lalu orang-orang itu mengambil persembahan itu dan mengambil uang dua kali lipat banyaknya, beserta Benyamin juga; mereka bersiap dan pergi ke Mesir. Kemudian berdirilah mereka di depan Yusuf.  16 Ketika Yusuf melihat Benyamin bersama-sama dengan mereka, berkatalah ia kepada kepala rumahnya: "Bawalah orang-orang ini ke dalam rumah, sembelihlah seekor hewan dan siapkanlah itu, sebab orang-orang ini akan makan bersama-sama dengan aku pada tengah hari ini."  17 Orang itu melakukan seperti yang dikatakan Yusuf dan dibawanyalah orang-orang itu ke dalam rumah Yusuf. 18 Lalu ketakutanlah orang-orang itu, karena mereka dibawa ke dalam rumah Yusuf. Kata mereka: "Yang menjadi sebab kita dibawa ke sini, ialah perkara uang yang dikembalikan ke dalam karung kita pada mulanya itu, supaya kita disergap dan ditangkap dan supaya kita dijadikan budak dan keledai kita diambil."  19 Karena itu mereka mendekati kepala rumah Yusuf itu, dan berkata kepadanya di depan pintu rumah:  20 "Mohon bicara tuan! Kami dahulu datang ke mari untuk membeli bahan makanan,  21 tetapi ketika kami sampai ke tempat bermalam dan membuka karung kami, tampaklah uang kami masing-masing dengan tidak kurang jumlahnya ada di dalam mulut karung. Tetapi sekarang kami membawanya kembali.  22 Uang lain kami bawa juga ke mari untuk membeli bahan makanan; kami tidak tahu siapa yang menaruh uang kami itu ke dalam karung kami."  23 Tetapi jawabnya: "Tenang sajalah, jangan takut; Allahmu dan Allah bapamu telah memberikan kepadamu harta terpendam dalam karungmu; uangmu itu telah kuterima." Kemudian dikeluarkannyalah Simeon dan dibawanya kepada mereka.  24 Setelah orang itu membawa mereka ke dalam rumah Yusuf, diberikannyalah air, supaya mereka membasuh kaki; juga keledai mereka diberinya makan.  25 Sesudah itu mereka menyiapkan persembahannya menantikan Yusuf datang pada waktu tengah hari, sebab mereka telah mendengar, bahwa mereka akan makan di situ.  26 Ketika Yusuf telah pulang, mereka membawa persembahan yang ada pada mereka itu kepada Yusuf di dalam rumah, lalu sujud kepadanya sampai ke tanah.  27 Sesudah itu ia bertanya kepada mereka apakah mereka selamat; lagi katanya: "Apakah ayahmu yang tua yang kamu sebutkan itu selamat? Masih hidupkah ia?"  28 Jawab mereka: "Hambamu, ayah kami, ada selamat; ia masih hidup." Sesudah itu berlututlah mereka dan sujud.  29 Ketika Yusuf memandang kepada mereka, dilihatnyalah Benyamin, adiknya, yang seibu dengan dia, lalu katanya: "Inikah adikmu yang bungsu itu, yang telah kamu sebut-sebut kepadaku?" Lagi katanya: "Allah kiranya memberikan kasih karunia kepadamu, anakku!"  30 Lalu segeralah Yusuf pergi dari situ, sebab hatinya sangat terharu merindukan adiknya itu, dan dicarinyalah tempat untuk menangis; ia masuk ke dalam kamar, lalu menangis di situ.  31 Sesudah itu dibasuhnyalah mukanya dan ia tampil ke luar. Ia menahan hatinya dan berkata: "Hidangkanlah makanan."  32 Lalu dihidangkanlah makanan, bagi Yusuf tersendiri, bagi saudara-saudaranya tersendiri dan bagi orang-orang Mesir yang bersama-sama makan dengan mereka itu tersendiri; sebab orang Mesir tidak boleh makan bersama-sama dengan orang Ibrani, karena hal itu suatu kekejian bagi orang Mesir.  33 Saudara-saudaranya itu duduk di depan Yusuf, dari yang sulung sampai yang bungsu, sehingga mereka berpandang-pandangan dengan heran.  34 Lalu disajikan kepada mereka hidangan dari meja Yusuf, tetapi yang diterima Benyamin adalah lima kali lebih banyak dari pada setiap orang yang lain. Lalu minumlah mereka dan bersukaria bersama-sama dengan dia. (Kejadian 43:15-34)