Monday, June 1, 2026

Arti Penting Perjamuan Kudus bagi iman Kristen

Arti Penting Perjamuan Kudus bagi iman Kristen

Sasaran utama dalam menjadi orang Kristen bukanlah supaya semakin lama kita menjadi orang yang semakin baik, bukan pula agar semakin lama menjadi orang yang semakin bermoral. Oya?? Kalau begitu apa dong? Apakah sasaran utama hidup kita sebagai orang Kristen adalah supaya kita menjadi orang yang sombong dan jahat? Tentu saja bukan itu! 

Sasaran utama dalam kehidupan seorang Kristen adalah agar semakin hari kita boleh menjadi semakin serupa dengan Yesus Kristus. Hal itu dapat kita ketahui dari tulisan Paulus demikian: Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (Roma 8:29)

Jikapun di dalam perjalanan kita untuk memiliki keserupaan dengan Kristus itu, ternyata orang lain menilai kita sebagai orang yang baik dan bermoral, maka itu merupakan sebuah efek samping dari upaya menjadi serupa dengan Kristus tadi. Karena Kristus sendiri merupakan orang yang baik, saleh dan tentu saja memiliki moralitas yang tinggi, maka tidak mengherankan apabila para pengikut yang setia pun akan menjadi seperti itu, bukan?

Mengapa hal ini perlu kita bicarakan? Sebab apabila tujuan utama hidup keagamaan kita hanyalah untuk menjadi orang baik dan bermoral saja, maka sebetulnya kita tidak perlu menjadi orang Kristen.

Agama apapun akan berusaha mendorong umatnya untuk menjadi orang yang baik dan bermoral. Oleh karena itu, apabila tujuan hidup kita juga seperti itu saja, maka apakah bedanya antara menjadi orang Kristen dan bukan Kristen? Sebagai orang Kristen kita mempunyai panggilan yang lebih jauh dari sekedar menjadi orang baik dan bermoral, sebagai orang Kristen dipanggil untuk menjadi serupa dengan Yesus Kristus, Anak Allah yang Tunggal itu.

Dan di dalam keserupaan dengan Kristus itu, kita diajarkan untuk menyangkal diri, memikul salib, pergi ke segala penjuru dunia, membaptis, mengajarkan orang lain untuk melakukan segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Kristus. Hal seperti ini merupakan kategori yang melampaui standar moralitas secara umum, bahkan bukan tidak mungkin akan dianggap sebagai orang yang melawan tatanan masyrakat yang sedang berlaku.

Sebagai contoh, apabila di sebuah kerajaan yang memaksa warganya untuk menyembah sang raja seperti menyembah seorang dewa, maka orang Kristen pasti akan melawan peraturan seperti itu dan pastinya akan dianggap sebagai orang yang tidak baik, melawan pemerintah, tidak bermoral dan lain sebagainya. Hal seperti ini pernah terjadi di dalam masa para murid yang hidup di era pemerintahan Kaisar Romawi.

Baca juga:
Apakah tujuan hidup kita di dunia? Klik disini.
Mengapa kita mau menjadi pengikut Yesus Kristus? Klik disini.

Dalam rangka menjadi serupa dengan Kristus, Tuhan sudah memberi kita sarana yang terbaik yaitu Firman-Nya sendiri. Dan bagi kita orang Kristen di zaman ini, Firman itu sudah selesai dituliskan menjadi sebuah Kitab Suci, yaitu Alkitab. Akan tetapi, salah seorang dari antara para bapa Gereja (Church Fathers), yaitu Agustinus, mengusulkan dua bentuk Firman lain sebagai tambahan dari bentuk Firman yang tertulis tadi, sehingga secara keseluruhan ada 3 bentuk Firman Tuhan yang kita terima, yaitu:

  • Verbum Scriptura (Firman yang dituliskan), yaitu Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. 
  • Verbum Dicendi/Audibilis (Firman yang didengar, diucapkan), yaitu pemberitaan mimbar dan penginjilan
  • Verbum Visibilis (Firman yang kelihatan), yaitu Baptisan dan Perjamuan Kudus.

Firman Tuhan itu adalah satu, sebab berasal dari Allah yang satu. Akan tetapi bentuknya, atau katakanlah cara Firman itu disampaikan, memang bisa berlain-lainan, memakai sarana yang berbeda-beda. Ada yang tertulis, ada yang melalui ucapan dan ada pula yang melalui Sakramen. Tetapi sekali lagi, sumber dari semuanya itu tetap adalah satu, yaitu dari Allah Tritunggal.

Baca juga:
Apa sajakah bentuk-bentuk Firman Tuhan itu? Klik disini.

Menarik untuk diperhatikan dalam kaitan dengan Perjamuan Kudus adalah bentuk yang ke 3 dari Firman Tuhan yang diusulkan oleh Agustinus, yaitu Verbum Visibilis (Firman yang kelihatan). Pada zaman ketika Tuhan Yesus hidup di dunia, Firman yang kelihatan itu jelas adalah Pribadi Yesus Kristus sendiri. Dia adalah Pribadi yang diungkapkan oleh Yohanes demikian: Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup itulah yang kami tuliskan kepada kamu. (1 Yoh 1:1)

Tuhan Yesus adalah Pribadi yang oleh para rasul dapat dilihat bahkan dapat diraba dengan tangan, karena Beliau sungguh-sungguh hadir di tengah-tengah manusia pada waktu itu. Akan tetapi kemudian Tuhan Yesus naik ke sorga, dan kita tidak dapat melihat Diri-Nya secara jasmaniah lagi. Oleh karena itu, Tuhan Yesus memberikan tanda kehadiran-Nya di dalam bentuk yang lain.

Tanda kehadiran itulah yang kita kenal dengan istilah “Sakramen.” Dan di dalam iman Kristen ada dua Sakramen yang diakui oleh gereja berdasarkan Kitab Suci, yaitu Sakramen Baptis dan Sakramen Perjamuan Kudus.

Beberapa arti penting dari Perjamuan Kudus sebagai sarana untuk mengenal Tuhan Yesus dan menjadi semakin serupa dengan Dia adalah:

(1) Sebagai pengingat akan perbuatan Tuhan Yesus

Di dalam malam terakhir, yaitu sesaat sebelum menderita dan mati di atas kayu salib, Tuhan Yesus memecahkan roti dan melakukan sebuah Perjamuan Terakhir dengan para murid-Nya. Kitab Suci melukiskan hal tersebut demikian: Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku." (Lukas 22:19)

Oleh karena itu, kita belajar sebuah fakta penting selain mengingat dan mempelajari Firman Tuhan, yaitu untuk juga mengingat perbuatan Tuhan kita. Menurut pendapat Tuhan Yesus: kita akan mengenal Diri-Nya secara lebih dalam lagi apabila kita berusaha mengingat perbuatan-Nya selama di dunia, khususnya dalam kaitan dengan Perjamuan Kudus ini.

Mengingat perbuatan seseorang bukanlah hal yang mudah atau otomatis akan terjadi. Kita tidak secara natural terbiasa untuk mengingat-ingat apa yang orang lain lakukan. Jauh lebih mudah bagi kita untuk mengingat apa yang telah kita lakukan sendiri, apalagi jika perbuatan itu merupakan perbuatan yang kita anggap baik.

Oleh karena itu, bukan hal otomatis pula bagi orang Kristen untuk senantiasa mengingat hal apa saja yang telah dilakukan oleh Tuhan. Bahkan gejala semacam itu dapat kita lihat pula terjadi pada orang-orang yang tercatat di dalam Alkitab.

Ketika orang Israel dibebaskan dari tanah Mesir, Tuhan telah melakukan begitu banyak tanda-tanda ajaib, mulai dari 10 tulah, pembelahan Laut Merah, tiang awan dan tiang api, serta masih banyak lagi. Tetapi setelah segala keamanan diberikan oleh Tuhan, mereka pun melupakan Dia. Ada begitu banyak ayat yang menjelaskan bagaimana orang Israel melupakan Tuhan, salah satunya adalah: Orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, mereka melupakan TUHAN, Allah mereka, dan beribadah kepada para Baal dan para Asyera. (Hakim-hakim 3:7)

Bukan hanya orang-orang di zaman Perjanjian Lama, tetapi orang-orang di zaman Perjanjian Baru pun, ternyata bisa melupakan perbuatan Tuhan, padahal Tuhan Yesus pun masih hadir di tengah-tengah mereka. Hal itu dapat kita lihat misalnya: Belum juga kamu mengerti? Tidak kamu ingat lagi akan lima roti untuk lima ribu orang itu dan berapa bakul roti kamu kumpulkan kemudian? Ataupun akan tujuh roti untuk empat ribu orang itu dan berapa bakul kamu kumpulkan kemudian? (Matius 16:9-10)

Seperti orang Israel di zaman Perjanjian Lama, para murid pun sebenarnya sudah melihat perbuatan ajaib yang Tuhan lakukan, tetapi dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama mereka sudah melupakannya kembali.

Mengenal Tuhan memang bukan semata-mata tentang menghafal ayat-ayat Firman Tuhan, tetapi juga tentang mengingat apa saja yang Tuhan telah kerjakan di dalam hidup kita sehari-hari, berapa banyak berkat dan penyertaan yang telah Ia hadirkan di dalam hidup kita. Biarlah kita mengingat semua kebaikan-Nya itu, agar ketika kehidupan menjadi sulit, kita tidak segera mencurigai atau menyalahkan Tuhan. Termasuk di dalam hal ini adalah mengingat bagaimana Tuhan sudah memecahkan roti yang melambangkan Tubuh-Nya yang dipecahkan di atas kayu salib sebagai penebusan atas dosa-dosa kita.

Jadi sekali lagi untuk mengingat perbuatan Tuhan, kita tidak secara otomatis mampu melakukannya, melainkan harus diusahakan untuk mengingat, agar di dalam proses mengingat itu kita boleh semakin mengenal Pribadi Tuhan.

(2) Sebagai pengingat akan tanggungjawab perbuatan kita

Jadi, Perjamuan Kudus bukan saja merupakan cara yang Tuhan pakai untuk mengingat perbuatan-Nya, melainkan juga suatu bentuk tanggung jawab bagi orang Kristen, agar kita melakukan hal yang sama seperti Kristus.

Tuhan berkata: perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku, maka para murid pun melakukannya: Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa (Kisah Para Rasul 2:42)

Artinya, ada keberlanjutan antara perbuatan Kristus dan perbuatan orang percaya. Dan ini merupakan prinsip yang penting di dalam pengenalan akan Tuhan. Kita akan mengenal Tuhan lebih lagi jika kita melakukan apa yang Tuhan buat.

  • Tuhan Yesus menginjili; kita juga diberi tanggung jawab untuk menginjili.
  • Tuhan Yesus mengajar; kita juga diberi tanggung jawab untuk mengajar.
  • Tuhan Yesus melayani orang lain yang membutuhkan Dia, kita pun harus begitu.
  • Tuhan Yesus mengampuni orang yang bersalah, kita pun harus belajar mengampuni.
  • Tuhan Yesus kerap kali disalahmengerti, namun tetap bersabar. Maka kita pun harus belajar memiliki kesabaran yang demikian. Dan masih banyak lagi.

Melalui upaya melakukan apa yang Tuhan Yesus lakukan (imitating Christ) ini, kita belajar untuk menjadi semakin serupa dengan Dia.

Semua yang disebutkan di atas, dapat kita lakukan secara sendiri-sendiri, sesuai kesempatan dan pengalaman hidup kita sehari-hari. Misalnya menginjili, dapat kita lakukan secara bersama-sama, tetapi dapat pula kita lakukan secara sendiri di dalam suatu pelayanan pribadi. Mengampuni, meskipun dapat dilakukan secara bersama sebagai sebuah lembaga gereja, tetapi mungkin akan jauh lebih sering terjadi di dalam wilayah pribadi, karena pengalaman disakiti antara orang yang satu dengan orang yang lain bisa berbeda-beda, bukan?

Akan tetapi, Perjamuan Kudus, uniknya, dibandingkan dengan yang lain, justru harus dilakukan secara bersama-sama dengan umat percaya yang lain. Ada aspek komunal yang sangat ditekankan di dalam Perjamuan Kudus ini, sebagaimana yang akan saya bahas di dalam poin berikutnya.

(3) Sebagai tanda persekutuan

Orang Kristen tidak dipanggil untuk hidup sendirian, hanya dengan diri sendiri, hanya untuk diri sendiri, melainkan dipanggil untuk hidup dalam persekutuan di antara orang percaya, yaitu gereja.

Memang ada saatnya kita menggali Firman Tuhan secara sendiri, atau mendengarkan khotbah secara sendiri, atau berdoa sendiri, dan menjalin hubungan dengan Tuhan Yesus secara personal. Hal itu baik dan dianjurkan bagi orang Kristen.

Akan tetapi apabila berelasi dengan Kitab Suci selalu sendiri, berdoa selalu sendiri, dan relasi dengan Tuhan pun hanya dihayati secara sendiri saja, antara aku dan Yesus, maka hal seperti itu tentu menjadikan orang Kristen tersebut berada di dalam kondisi yang tidak sehat secara rohani. Sebab sekali lagi, kita semua dipanggil untuk masuk ke dalam persekutuan dengan sesama orang percaya, yaitu gereja. Oleh karena itu ada saat dimana kita harus berelasi dengan Firman secara bersama-sama, melalui mimbar gereja di dalam sebuah tempat dengan sesama orang percaya lainny. Ada saat dimana kita harus berdoa bersama-sama sebagai satu kesatuan tubuh Kristus.

Perjamuan Kudus adalah salah satu elemen penting di dalam iman Kristen yang pelaksanaannya justru harus secara bersama-sama. Kecuali apabila ada peristiwa khusus, seperti pandemi Covid yang pernah terjadi di dunia, dimana orang Kristen melakukan Perjamuan Kudus di rumah masing-masing sambil dipandu oleh Pendeta lewa zoom, maka Perjamuan Kudus di dalam konteks yang normal (default) justru harus dilakukan di gereja bersama-sama dengan umat percaya lainnya.

Makna dari memecahkan roti salah satunya adalah persekutuan di antara orang percaya
Dengan cara ini kita mengenal Tuhan kita.

Fellowship:

  • Persekutuan dengan sesama orang percaya
  • Tidak ada orang Kristen yang boleh hidup seorang diri

Kesetaraan:

  • Tidak ada yang mendapat roti dan anggur yang berbeda.
  • Semua sama di hadapan Tuhan

Apabila kamu berkumpul, kamu bukanlah berkumpul untuk makan perjamuan Tuhan. Sebab pada perjamuan itu tiap-tiap orang memakan dahulu makanannya sendiri, sehingga yang seorang lapar dan yang lain mabuk. Apakah kamu tidak mempunyai rumah sendiri untuk makan dan minum? Atau maukah kamu menghinakan Jemaat Allah dan memalukan orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa? (1 Kor 11:20-22).

Paulus menegur Jemaat karena terjadi kekeliruan dalam tata perilaku makan ketika perjamuan Tuhan berlangsung. Jemaat mementingkan peristiwa makan, tetapi tidak memperdulikan aspek kebersamaannya. Padahal justru aspek kebersamaan inilah yang harusnya ditekankan. Apabila urusan perjamuan Kudus hanya berkisar tentang urusan makan, maka Paulus mengatakan: Apakah kamu tidak mempunyai rumah sendiri untuk makan dan minum?

Artinya, datang ke gereja itu bukan utamanya untuk makan, tetapi terutama untuk makan bersama dengan umat percaya yang lain. Ada aspek komunal atau aspek persekutuan yang menjadi tekanan utama di sini.

Karena itu, saudara-saudaraku, jika kamu berkumpul untuk makan, nantikanlah olehmu seorang akan yang lain. Kalau ada orang yang lapar, baiklah ia makan dahulu di rumahnya, supaya jangan kamu berkumpul untuk dihukum. (1 Kor 11:33-34).

(4) Sebagai tanda pengorbanan, hidup yang dibagi-bagikan

Orang Kristen juga harus belajar membagi-bagikan kepunyaannya. Seperti Tuhan yang membagikan hidup-Nya supaya orang lain bisa hidup.

Kisah Para Rasul 2:44-45 (44) Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, (45) dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.

Kita akan lebih mengenal Tuhan jika kita mulai belajar untuk membagi-bagikan milik kita pada orang lain. Milik kita itu bisa berupa: uang, waktu, perasaan, tenaga bahkan doa-doa syafaat yang kita panjatkan untuk orang lain.

Berbeda dengan orang dunia yang hidup terus mengumpulkan bagi diri sendiri. Kita belajar untuk hidup berbagi dengan orang lain. Kita makin mengenal Kristus jika hidup seperti ini. Sebagaimana tubuh Tuhan yang dipecah-pecahkan bagi kepentingan orang lain, demikian pula Tuhan Yesus memanggil kita untuk memecah-mecahkan hidup kita bagi orang lain.

(5) Sebagai momen sakral dimana diri kita dipersatukan dengan Tuhan Yesus secara rohani

Hal ini sudah saya tuliskan secara cukup panjang lebar dalam tulisan berjudul: Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku. Klik disini.

(6) Sebagai pemberitaan akan kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus.

Hal ini sudah saya tuliskan secara cukup panjang lebar pula dalam tulisan berjudul: Perjamuan Kudus sebagai berita Kematian dan Kebangkitan Yesus Kristus. Klik disini

Amin

 

Saturday, January 3, 2026

Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku

Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku

Serie Perjamuan Kudus
Renungan dari Yohanes 6:56

 

Apa arti makan daging-Ku dan minum darah-Ku? Apa yang dimaksud dengan “ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia?”

 

Dalam tulisan saya sebelumnya, Beberapa Pandangan Mengenai Perjamuan Kudus [Klik disini], saya sudah memaparkan pandangan Reformed terhadap Perjamuan Kudus, yang mengkaitkan antara roti dan anggur dengan tubuh dan darah Tuhan Yesus.

Roti dan anggur adalah makanan jasmani, tetapi sekaligus menjadi batu loncatan untuk masuk ke dalam sebuah realita rohani, yaitu dimana tubuh rohani kita dipersatukan dengan tubuh Tuhan Yesus secara spiritual. Ketika roti dan anggur itu masuk ke dalam tubuh jasmani kita, maka secara spiritual tubuh kita pun dipersatukan ke dalam tubuh Tuhan Yesus. Pemahaman akan konsep seperti ini, akan memudahkan kita untuk memahami perkataan: Yohanes 6:56  Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.

Sebab bagaimana mungkin perkataan Tuhan Yesus dalam Yohanes 6:56 di atas dapat dimaknai secara jasmani? Hal itu akan menjadi sesuatu yang absurd sekali, bukan? Akan tetapi ketika kita memahami perkataan tersebut dari suduh pandang rohani, maka perkataan tersebut menjadi sesuatu yang dapat diterima serta dapat dipraktekkan. Dan salah satu cara untuk mempraktekkannya adalah melalui seremoni Perjamuan Kudus yang sedang kita bahas ini.

Jadi kalau boleh saya formulasikan sekali lagi, kaitan antara Perjamuan Kudus dengan Yohanes 6:56 adalah: ketika kita makan roti dan minum anggur, maka roti dan anggur yang merupakan representasi Tubuh Tuhan secara jasmani itu tinggal (dipersatukan) ke dalam tubuh kita, sementara pada saat yang bersamaan, tubuh rohani kita pun tinggal (dipersatukan) dengan tubuh rohani Tuhan Yesus, sehingga terciptalah kondisi yang sesuai dengan perkataan “ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.”

Sepasti roti dan anggur itu bersatu dengan tubuh kita, sepasti itu pulalah tubuh dan darah rohani Tuhan Yesus dipersatukan dengan tubuh rohani kita. Waktu kita makan roti dan minum anggur, maka dalam tempo yang cukup singkat, roti dan anggur sudah tidak dapat ditemukan lagi di dalam tubuh kita, sebab roti dan anggur itu sudah bersatu dengan keseluruhan elemen yang ada di dalam tubuh jasmani kita.

Demikian pula secara rohani, ketika kita menerima roti dan anggur itu, maka tubuh rohani kita pun dipersatukan dengan tubuh Kristus secara rohani pula.

 

Apa yang jasmani menjadi loncatan/jembatan bagi apa yang rohani

Prinsip yang kita gali dari seremoni Perjamuan Kudus ini, mengisyaratkan sebuah pola, yaitu dimana sebuah realita jasmani (roti dan anggur), telah membawa kita untuk masuk ke dalam sebuah realita rohani (dipersatukan dengan tubuh Kristus). Apakah hal seperti ini terdengar aneh? Seharusnya tidak.

Sebab, hal seperti yang saya ungkapkan di atas bukanlah hal yang baru di dalam Alkitab. Sebaliknya, Alkitab justru sarat dengan pola-pola seperti itu. Berikut ini saya akan memaparkan beberapa contoh dari Alkitab tentang adanya perubahan/pergerakan dari realita jasmani menuju kepada realita rohani, yaitu:

Contoh 1: Dua belas suku Israel dan dua belas rasul Kristus

Di dalam Perjanjian Lama kita mendapati bahwa 12 suku Israel terbentuk dari 12 orang yang merupakan saudara secara jasmani. Mereka semua adalah anak kandung atau darah daging dari Yakub atau Israel. Akan tetapi ketika kita membaca Perjanjian Baru, maka kita mendapati bahwa 12 rasul Tuhan Yesus bukan berasal dari saudara yang bersifat jasmani. Mungkin hanya beberapa yang merupakan saudara secara jasmani, yaitu Yakobus dan Yohanes, yang merupakan anak dari Zebedeus, serta Petrus dan Andreas yang merupakan anak dari Yunus.

Artinya, melalui Perjanjian Lama kita diajarkan bahwa sebagai umat percaya, kita semua adalah bersaudara, kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga. Tetapi di dalam Perjanjian Baru, pemahaman kita tentang persaudaraan dan kekeluargaan ini, diperluas secara lebih jauh. Persaudaraan menurut Perjanjian Baru, bukanlah semata-mata saudara secara biologis atau jasmani, tetapi saudara secara rohani. Sehingga para murid belajar, bahwa keselamatan itu bukan datang kepada bangsa Yahudi saja, tetapi juga kepada bangsa-bangsa lain yang bahkan tidak memiliki persaudaraan secara jasmani dengan orang Yahudi.

Contoh 2: Wujud dari berkat di Perjanjian Lama dan Perjanjian baru

Di dalam Perjanjian Lama, wujud dari berkat seringkali berwujud atau bersifat jasmaniah atau materi. Orang yang diberkati, biasanya ditandai dengan betapa banyaknya jumlah kekayaan materi yang dimilikinya. Orang yang diberkati, digambarkan sebagai orang yang memiliki banyak kambing, domba serta budak-budak. Abraham, Yakub, Ayub dan Yusuf adalah beberapa  contoh dari orang-orang yang hidupnya diberkati oleh Tuhan, dan Alkitab melukiskan mereka sebagai orang-orang yang memiliki banyak kekayaan materi.

Tetapi hal seperti ini tidak selalu terjadi di Perjanjian Baru. Kita ambil contoh Yohanes Pembaptis misalnya. Betapa sederhananya kehidupan Yohanes Pembaptis bukan? Apakah kita mau mengatakan bahwa Yohanes bukan seseorang yang diberkati oleh Tuhan? Tentu saja tidak bisa, bukan? Bahkan Tuhan Yesus sendiri mengatakan demikian: Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis … (Mat 11:11)

Menurut Tuhan Yesus, Yohanes Pembaptis adalah pribadi yang memiliki suatu kebesaran (greatness) yang tidak dimiliki oleh orang lain. Ini merupakan sebuah penghargaan luarbiasa yang diberikan oleh Tuhan sendiri. Akan tetapi sebagaimana kita ketahui, Yohanes Pembaptis hidup di dalam kesederhanaan yang sedemikian rupa, sehingga dapat dikatakan, tidak ada di antara kita yang ingin hidup seperti dia. Berkelana di padang gurun, memakai pakaian yang sangat sederhana, mengkonsumsi makanan sehari-hari yang juga sangat sederhana, segala sesuatu yang disediakan alam. Bahkan cara matinya pun sedemikian mengenaskan jika dilihat dari kacamata dunia. [Baca juga: Pelayanan, penangkapan dan pembunuhan terhadap Yohanes Pembaptis. Klik disini.]

Jadi dari satu contoh ini saja kita melihat adanya perbedaan sudut pandang, yaitu antara sudut pandang dunia dan sudut pandang Ilahi. Menurut sudut pandang dunia, orang yang diberkati adalah orang mengalami kehidupan yang secara kasat mata sungguh-sungguh beruntung, memiliki banyak harta, punya kuasa, hidup tenang dan damai hingga akhir menutup mata. Tetapi menurut sudut pandang Ilahi, apa yang terjadi di dunia ini belum merupakan petunjuk yang mutlak akan hidup yang diberkati. Orang yang hidupnya begitu makmur, bisa saja merupakan orang yang tidak diberkati. Sedangkan orang yang hidupnya begitu menderita, bisa saja justru merupakan orang yang sangat diberkati oleh Tuhan.

Selain itu, apabila kita melihat ke dalam bagian lain dari Alkitab, tulisan Paulus misalnya, maka kita akan mendapati bahwa yang dimaksud dengan berkat di dalam Perjanjian Baru, bisa merupakan kekayaan rohani, yaitu: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri. (Galatia 5:22,23)

 

Kesimpulan

Perjamuan Kudus adalah sebuah seremoni di dalam gereja untuk membawa kita bergerak dari realita yang bersifat jasmani menuju sebuah realita yang bersifat rohani. Perjamuan Kudus adalah suatu batu loncatan untuk mengerti, menghayati apa yang terjadi di dalam realita rohani, melalui kegiatan jasmani berupa menyantap roti dan meminum anggur.

Hal ini bukan berarti kita mengatakan bahwa apa yang jasmani tidak penting, melainkan untuk mengajar kepada kita bahwa ketika melihat sesuatu atau memahami sesuatu, maka janganlah berhenti pada apa yang jasmani saja, melainkan berusahalah untuk melihat realita rohani apa yang ingin disampaikan oleh Tuhan kepada kita.

Pandangan Transubstansiasi yang dianut oleh Gereja Katolik Roma, dan pandangan Consubstansiasi yang di usulkan oleh Martin Luther, justru memiliki arah yang berkebalikan (berlawanan) dengan pandangan Reformed mengenai Perjamuan Kudus.

Di mana pandangan Reformed berusaha membawa realitas jasmani ke dalam realita rohani. Pandangan Katolik dan Luther justru berusaha membawa apa yang rohani, ke dalam realita jasmani.

Saya menganggap apa yang diusulkan oleh Calvin (Reformed) sebagai usulan yang lebih sesuai dengan arah pergerakan pengajaran di dalam Alkitab, yang juga membawa realitas jasmani untuk masuk secara perlahan ke dalam realita rohani.

Calvin mengajak kita melihat sesuatu realita yang rohani melalui sebuah realita jasmani. Yang terjadi di dunia jasmani adalah: roti dan anggur yang jasmani itu, masuk ke dalam tubuh jasmani kita, bersatu dengan tubuh jasmani kita. Tetapi pada saat tubuh jasmani kita dipersatukan dengan roti dan anggur jasmani tadi, maka pada saat itu, tubuh rohani kita dipersatukan pula dengan tubuh Rohani Tuhan Yesus, sehingga tercapailah apa yang dikatakan Tuhan: tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia (Yoh 6:56).

Oleh karena itu, prinsip yang diusulkan oleh Calvin ini, menurut saya, jauh lebih penting, jauh lebih dalam, jika dibandingkan dengan suatu upaya untuk mengingat, merenung dan kontemplasi saja.

Kiranya apa yang saya sampaikan disini dapat bermanfaat dan menambah kazahan pemahaman kita terhadap Sakramen Perjamuan Kudus. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Baca juga:
Apakah keberadaan Tuhan sungguh-sunguh tersembunyi bagi manusia? Klik disini.
Apakah kubur Yesus Kristus telah ditemukan? Klik disini.
Di dalam Taurat adalah Kasih Kasih Karunia, di dalam Kasih Karunia pun ada Taurat. Klik disini.
Beberapa ciri gereja sesat serta contoh ajaran sesat yang populer di kalangan Kristen. Klik disini.
Perjamuan Kudus sebagai berita Kematian dan Kebangkitan Yesus Kristus. Klik disini