Saturday, January 3, 2026

Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku

Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku

Serie Perjamuan Kudus
Renungan dari Yohanes 6:56

 

Apa arti makan daging-Ku dan minum darah-Ku? Apa yang dimaksud dengan “ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia?”

 

Dalam tulisan saya sebelumnya, Beberapa Pandangan Mengenai Perjamuan Kudus [Klik disini], saya sudah memaparkan pandangan Reformed terhadap Perjamuan Kudus, yang mengkaitkan antara roti dan anggur dengan tubuh dan darah Tuhan Yesus.

Roti dan anggur adalah makanan jasmani, tetapi sekaligus menjadi batu loncatan untuk masuk ke dalam sebuah realita rohani, yaitu dimana tubuh rohani kita dipersatukan dengan tubuh Tuhan Yesus secara spiritual. Ketika roti dan anggur itu masuk ke dalam tubuh jasmani kita, maka secara spiritual tubuh kita pun dipersatukan ke dalam tubuh Tuhan Yesus. Pemahaman akan konsep seperti ini, akan memudahkan kita untuk memahami perkataan: Yohanes 6:56  Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.

Sebab bagaimana mungkin perkataan Tuhan Yesus dalam Yohanes 6:56 di atas dapat dimaknai secara jasmani? Hal itu akan menjadi sesuatu yang absurd sekali, bukan? Akan tetapi ketika kita memahami perkataan tersebut dari suduh pandang rohani, maka perkataan tersebut menjadi sesuatu yang dapat diterima serta dapat dipraktekkan. Dan salah satu cara untuk mempraktekkannya adalah melalui seremoni Perjamuan Kudus yang sedang kita bahas ini.

Jadi kalau boleh saya formulasikan sekali lagi, kaitan antara Perjamuan Kudus dengan Yohanes 6:56 adalah: ketika kita makan roti dan minum anggur, maka roti dan anggur yang merupakan representasi Tubuh Tuhan secara jasmani itu tinggal (dipersatukan) ke dalam tubuh kita, sementara pada saat yang bersamaan, tubuh rohani kita pun tinggal (dipersatukan) dengan tubuh rohani Tuhan Yesus, sehingga terciptalah kondisi yang sesuai dengan perkataan “ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.”

Sepasti roti dan anggur itu bersatu dengan tubuh kita, sepasti itu pulalah tubuh dan darah rohani Tuhan Yesus dipersatukan dengan tubuh rohani kita. Waktu kita makan roti dan minum anggur, maka dalam tempo yang cukup singkat, roti dan anggur sudah tidak dapat ditemukan lagi di dalam tubuh kita, sebab roti dan anggur itu sudah bersatu dengan keseluruhan elemen yang ada di dalam tubuh jasmani kita.

Demikian pula secara rohani, ketika kita menerima roti dan anggur itu, maka tubuh rohani kita pun dipersatukan dengan tubuh Kristus secara rohani pula.

 

Apa yang jasmani menjadi loncatan/jembatan bagi apa yang rohani

Prinsip yang kita gali dari seremoni Perjamuan Kudus ini, mengisyaratkan sebuah pola, yaitu dimana sebuah realita jasmani (roti dan anggur), telah membawa kita untuk masuk ke dalam sebuah realita rohani (dipersatukan dengan tubuh Kristus). Apakah hal seperti ini terdengar aneh? Seharusnya tidak.

Sebab, hal seperti yang saya ungkapkan di atas bukanlah hal yang baru di dalam Alkitab. Sebaliknya, Alkitab justru sarat dengan pola-pola seperti itu. Berikut ini saya akan memaparkan beberapa contoh dari Alkitab tentang adanya perubahan/pergerakan dari realita jasmani menuju kepada realita rohani, yaitu:

Contoh 1: Dua belas suku Israel dan dua belas rasul Kristus

Di dalam Perjanjian Lama kita mendapati bahwa 12 suku Israel terbentuk dari 12 orang yang merupakan saudara secara jasmani. Mereka semua adalah anak kandung atau darah daging dari Yakub atau Israel. Akan tetapi ketika kita membaca Perjanjian Baru, maka kita mendapati bahwa 12 rasul Tuhan Yesus bukan berasal dari saudara yang bersifat jasmani. Mungkin hanya beberapa yang merupakan saudara secara jasmani, yaitu Yakobus dan Yohanes, yang merupakan anak dari Zebedeus, serta Petrus dan Andreas yang merupakan anak dari Yunus.

Artinya, melalui Perjanjian Lama kita diajarkan bahwa sebagai umat percaya, kita semua adalah bersaudara, kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga. Tetapi di dalam Perjanjian Baru, pemahaman kita tentang persaudaraan dan kekeluargaan ini, diperluas secara lebih jauh. Persaudaraan menurut Perjanjian Baru, bukanlah semata-mata saudara secara biologis atau jasmani, tetapi saudara secara rohani. Sehingga para murid belajar, bahwa keselamatan itu bukan datang kepada bangsa Yahudi saja, tetapi juga kepada bangsa-bangsa lain yang bahkan tidak memiliki persaudaraan secara jasmani dengan orang Yahudi.

Contoh 2: Wujud dari berkat di Perjanjian Lama dan Perjanjian baru

Di dalam Perjanjian Lama, wujud dari berkat seringkali berwujud atau bersifat jasmaniah atau materi. Orang yang diberkati, biasanya ditandai dengan betapa banyaknya jumlah kekayaan materi yang dimilikinya. Orang yang diberkati, digambarkan sebagai orang yang memiliki banyak kambing, domba serta budak-budak. Abraham, Yakub, Ayub dan Yusuf adalah beberapa  contoh dari orang-orang yang hidupnya diberkati oleh Tuhan, dan Alkitab melukiskan mereka sebagai orang-orang yang memiliki banyak kekayaan materi.

Tetapi hal seperti ini tidak selalu terjadi di Perjanjian Baru. Kita ambil contoh Yohanes Pembaptis misalnya. Betapa sederhananya kehidupan Yohanes Pembaptis bukan? Apakah kita mau mengatakan bahwa Yohanes bukan seseorang yang diberkati oleh Tuhan? Tentu saja tidak bisa, bukan? Bahkan Tuhan Yesus sendiri mengatakan demikian: Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis … (Mat 11:11)

Menurut Tuhan Yesus, Yohanes Pembaptis adalah pribadi yang memiliki suatu kebesaran (greatness) yang tidak dimiliki oleh orang lain. Ini merupakan sebuah penghargaan luarbiasa yang diberikan oleh Tuhan sendiri. Akan tetapi sebagaimana kita ketahui, Yohanes Pembaptis hidup di dalam kesederhanaan yang sedemikian rupa, sehingga dapat dikatakan, tidak ada di antara kita yang ingin hidup seperti dia. Berkelana di padang gurun, memakai pakaian yang sangat sederhana, mengkonsumsi makanan sehari-hari yang juga sangat sederhana, segala sesuatu yang disediakan alam. Bahkan cara matinya pun sedemikian mengenaskan jika dilihat dari kacamata dunia. [Baca juga: Pelayanan, penangkapan dan pembunuhan terhadap Yohanes Pembaptis. Klik disini.]

Jadi dari satu contoh ini saja kita melihat adanya perbedaan sudut pandang, yaitu antara sudut pandang dunia dan sudut pandang Ilahi. Menurut sudut pandang dunia, orang yang diberkati adalah orang mengalami kehidupan yang secara kasat mata sungguh-sungguh beruntung, memiliki banyak harta, punya kuasa, hidup tenang dan damai hingga akhir menutup mata. Tetapi menurut sudut pandang Ilahi, apa yang terjadi di dunia ini belum merupakan petunjuk yang mutlak akan hidup yang diberkati. Orang yang hidupnya begitu makmur, bisa saja merupakan orang yang tidak diberkati. Sedangkan orang yang hidupnya begitu menderita, bisa saja justru merupakan orang yang sangat diberkati oleh Tuhan.

Selain itu, apabila kita melihat ke dalam bagian lain dari Alkitab, tulisan Paulus misalnya, maka kita akan mendapati bahwa yang dimaksud dengan berkat di dalam Perjanjian Baru, bisa merupakan kekayaan rohani, yaitu: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri. (Galatia 5:22,23)

 

Kesimpulan

Perjamuan Kudus adalah sebuah seremoni di dalam gereja untuk membawa kita bergerak dari realita yang bersifat jasmani menuju sebuah realita yang bersifat rohani. Perjamuan Kudus adalah suatu batu loncatan untuk mengerti, menghayati apa yang terjadi di dalam realita rohani, melalui kegiatan jasmani berupa menyantap roti dan meminum anggur.

Hal ini bukan berarti kita mengatakan bahwa apa yang jasmani tidak penting, melainkan untuk mengajar kepada kita bahwa ketika melihat sesuatu atau memahami sesuatu, maka janganlah berhenti pada apa yang jasmani saja, melainkan berusahalah untuk melihat realita rohani apa yang ingin disampaikan oleh Tuhan kepada kita.

Pandangan Transubstansiasi yang dianut oleh Gereja Katolik Roma, dan pandangan Consubstansiasi yang di usulkan oleh Martin Luther, justru memiliki arah yang berkebalikan (berlawanan) dengan pandangan Reformed mengenai Perjamuan Kudus.

Di mana pandangan Reformed berusaha membawa realitas jasmani ke dalam realita rohani. Pandangan Katolik dan Luther justru berusaha membawa apa yang rohani, ke dalam realita jasmani.

Saya menganggap apa yang diusulkan oleh Calvin (Reformed) sebagai usulan yang lebih sesuai dengan arah pergerakan pengajaran di dalam Alkitab, yang juga membawa realitas jasmani untuk masuk secara perlahan ke dalam realita rohani.

Calvin mengajak kita melihat sesuatu realita yang rohani melalui sebuah realita jasmani. Yang terjadi di dunia jasmani adalah: roti dan anggur yang jasmani itu, masuk ke dalam tubuh jasmani kita, bersatu dengan tubuh jasmani kita. Tetapi pada saat tubuh jasmani kita dipersatukan dengan roti dan anggur jasmani tadi, maka pada saat itu, tubuh rohani kita dipersatukan pula dengan tubuh Rohani Tuhan Yesus, sehingga tercapailah apa yang dikatakan Tuhan: tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia (Yoh 6:56).

Oleh karena itu, prinsip yang diusulkan oleh Calvin ini, menurut saya, jauh lebih penting, jauh lebih dalam, jika dibandingkan dengan suatu upaya untuk mengingat, merenung dan kontemplasi saja.

Kiranya apa yang saya sampaikan disini dapat bermanfaat dan menambah kazahan pemahaman kita terhadap Sakramen Perjamuan Kudus. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Baca juga:
Apakah keberadaan Tuhan sungguh-sunguh tersembunyi bagi manusia? Klik disini.
Apakah kubur Yesus Kristus telah ditemukan? Klik disini.
Di dalam Taurat adalah Kasih Kasih Karunia, di dalam Kasih Karunia pun ada Taurat. Klik disini.
Beberapa ciri gereja sesat serta contoh ajaran sesat yang populer di kalangan Kristen. Klik disini.
Perjamuan Kudus sebagai berita Kematian dan Kebangkitan Yesus Kristus. Klik disini

 

 

 

Tuesday, December 9, 2025

Mengapa Tuhan Yesus menyingkir ke Galilea?

 

Tuhan Yesus melayani di Galilea

 

Matius 4:12 Tetapi waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea.

Di dalam tulisan yang sebelumnya, saya sudah menguraikan bagaimana Yohanes Pembaptis ditangkap oleh Herodes karena Yohanes telah berani menegur Herodes secara terbuka di depan umum, atas perbuatannya yang tercela. [Baca: Pelayanan, Penangkapan dan Pembunuhan terhadap Yohanes Pembaptis. Klik disini.]

Dalam tulisan ini kita akan melihat melihat lebih jauh yaitu tentang bagaimana peristiwa penangkapan Yohanes Pembaptis itu, ternyata memberi pengaruh pula kepada aktivitas Tuhan Yesus. Injil Matius mengatakan bahwa peristiwa penangkapan itu telah membuat Tuhan Yesus menyingkir ke Galilea.

Yang akan kita coba gali dalam tulisan ini adalah mengapa penangkapkan Yohanes Pembaptis membuat Tuhan Yesus menyingkir ke Galilea? Ada beberapa alasan yang dapat kita renungkan dari peristiwa tersebut:

 

1. supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya 

Adakalanya Allah membiarkan kesulitan tertentu terjadi pada diri kita, supaya kita pergi ke tempat lain, yang memang sudah direncanakan oleh Tuhan. Penangkapan Yohanes Pembaptis membuat suasana keamanan di sekitar Yerusalem menjadi kurang kondusif. Akibatnya, pelayanan Tuhan Yesus di Yerusalem pun menjadi  agak terganggu atau sedikit terancam.

Hal ini membuat Tuhan Yesus, untuk sementara waktu, memilih untuk menunda pelayanan di Yerusalem, dan memilih untuk melayani di area Galilea sebagai gantinya. Secara manusiawi, keputusan ini terlihat seperti keputusan yang biasa saja. Sebuah tindakan masuk akal yang dapat dilakukan oleh seorang manusia. Akan tetapi dari sudut pandang Ilahi, ternyata tindakan menyingkir ke Galilea ini merupakan sebuah rencana besar Allah yang sudah ditorehkan sejak ratusan tahun sebelum.

Era nabi Yesaya terjadi sekitar 700 tahun sebelum era dimana Tuhan Yesus hadir di dunia. Di dalam era Yesaya tersebut, sudah ada sebuah pernyataan tentang masa depan yaitu bahwa di daerah Galilea tersebut akan terbit Terang yang sejati, sehingga orang-orang yang sebelumnya dianggap sebagai orang yang hidup dalam kegelapan, akan memperoleh kesempatan untuk melihat terang itu.

Adakalanya Tuhan menutup jalan kehidupan seseorang, adakalanya Tuhan bahkan sengaja menggagalkan rencana seseorang, demi supaya orang itu kemudian mencari jalan hidup yang lain atau mencoba rencana yang lain. Dan ketika orang itu menempuh jalan hidup yang baru tersebut, ternyata tanpa disadarinya, jalan hidup yang baru itu adalah jalan hidup yang sesuai dengan rencana yang sudah ditetapkan sebelumnya oleh Tuhan.

Aktivitas kegiatan pelayanan Tuhan Yesus diubah oleh peristiwa penangkapan Yohanes Pembaptis, dan perubahan itu ternyata justru menggenapkan rencana semula dari Bapa. Jika hal seperti ini terjadi pada diri Tuhan Yesus, maka bukan hal yang mengherankan lagi apabila terjadi pula pada diri kita. Sebagai manusia kita tidak selalu diberitahu secara langsung tentang apa yang menjadi rencana dan keinginan Tuhan, namun Tuhan berbicara dan mengarahkan kehidupan kita melalui peristiwa-peristiwa tertentu.

 

2. untuk menyelamatkan diri-Nya dari ancaman penangkapan

Alasan kedua Tuhan Yesus menyingkir ke Galilea adalah alasan yang terdengar sangat manusiawi sekali, yaitu mencari tempat yang lebih aman, demi menghindarkan diri-Nya dari bahaya.

Meskipun Tuhan Yesus datang untuk mati sebagai tebusan atas dosa, bukan berarti Tuhan Yesus mau mati konyol. Jika belum saatnya, dan bukan dengan cara yang sesuai, maka Tuhan Yesus pun sebagai manusia yang punya cara berpikir normal, tentu akan mencari jalan yang aman. Inilah yang disebut cerdik seperti ular, tetapi tulus seperti merpati.

Orang Kristen memang dipanggil untuk menyangkal diri, memikul salib dan ikut serta dalam penderitaan Kristus, tetapi tentu saja bukan berarti kita harus mencari penderitaan melalui cara-cara yang bodoh dan konyol, melainkan melalui cara-cara yang sesuai dengan prinsip Firman Tuhan serta karakter dari Allah Tritunggal itu sendiri.

Kalau kita misalnya terlibat judol, atau pinjol, lalu hidup jadi menderita, apakah itu namanya menderita bagi Kristus? Bukan, itu adalah sebuah kebodohan. Jika seseorang males-malesan, tidak mau kerja, menunggu dapat ilham yang jelas dari Tuhan baru mau mulai bekerja, lalu akhirnya jadi pengangguran, sulit dapat kerjaan, menderita, apakah itu menderita bagi Kristus? Bukan, itu adalah penderitaan yang disebabkan oleh kesalahan sendiri.

Ada anggapan yang keliru di kalangan orang Kristen tertentu tentang hubungan antara iman dan akal budi. Menurut anggapan mereka, iman dan akal budi itu bagaikan dua kubu yang bertentangan. Dalam arti, orang yang beriman dianggap sebagai orang yang tidak memakai akal budinya dengan baik. Orang beriman dianggap sebagai orang yang malas berpikir, bodoh, asal percaya saja. Sebaliknya, orang yang pintar, cerdas, bisa memakai akalnya dengan baik dianggap sebagai orang yang tidak beriman.

Anggapan seperti itu adalah anggapan yang sangat-sangat keliru. Iman yang sejati tidak pernah mematikan akal sehat kita. Sebaliknya, melalui akal sehat kita, iman itu pun dipertumbuhkan.

Ketika Tuhan Yesus menyingkir ke Galilea, maka hal itu bukan berarti bahwa Tuhan Yesus sudah tidak percaya lagi bahwa Bapa-Nya berkuasa untuk menyelamatkan Dia dari celaka atau mati secara konyol, melainkan Tuhan ingin mengajarkan bahwa di dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai orang Kristen perlu memakai akal sehat kita.

Keyakinan Tuhan Yesus kepada Bapa, bukan berarti lalu Dia bertindak sembrono saja tanpa perhitungan atau pertimbangan yang wajar.

 

3. untuk memulai pelayanan publik-Nya secara besar-besaran di tempat lain.

Alasan ketiga Tuhan Yesus menyingkir ke Galiela adalah karena daerah Kapernaum yang ada di Galilea itu merupakan tempat yang bukan saja aman untuk berlindung, aman untuk dijadikan sebagai kediaman, tetapi juga aman untuk dijadikan sebagai pusat kegiatan pelayanan-Nya.

Tuhan Yesus tidak menangisi kesempatan yang sementara waktu hilang untuk melayani di Yerusalem, tetapi Ia memakai kesempatan yang ada untuk menjadi berkat di tempat lain. Ini juga merupakan sebuah pelajaran bagi kita untuk bagaimana menjadi peka terhadap pimpinan Ilahi dan melihat tempat dimana kita berada sebagai ladang Tuhan yang perlu pula untuk kita garap.

Sebelum Yohanes Pembaptis ditangkap, Tuhan Yesus sudah memulai pekerjaan-Nya, baik di Galilea maupun di Yerusalem yaitu:

  • Memanggil beberapa murid, yaitu Petrus, Andreas, Filipus dan Natanael di Galilea
  • hadir dalam pernikahan di Kana dan membuat mukjizat pertama di Galilea.
  • menyucikan Bait Allah di Yerusalem
  • mengajarkan Nikodemus tentang kelahiran baru di Yerusalem
  • melakukan pelayanan dan pembaptisan di Yudea (Yoh 3:22)

Namun setelah Yohanes Pembaptis ditangkap, maka untuk sementara waktu, Tuhan Yesus memusatkan pelayanan-Nya di Galilea saja. Di Galiea inilah khotbah Tuhan Yesus di atas bukit itu disampaikan sehingga menjadi ajaran yang cuku populer di kalangan orang percaya hingga saat ini.

 

Kiranya melalui apa yang Tuhan Yesus lakukan ini, kita pun sebagai orang Kristen bisa belajar untuk menghidupi dan mengikuti jejak Tuhan Yesus di dalam kehidupan kita. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Baca juga:
Dari gelap menuju terang. Klik disini.