![]() |
| Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku |
Serie Perjamuan Kudus
Renungan dari Yohanes 6:56
Apa arti makan daging-Ku dan minum darah-Ku? Apa yang dimaksud dengan “ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia?”
Dalam tulisan saya sebelumnya, Beberapa Pandangan Mengenai Perjamuan Kudus [Klik disini], saya sudah memaparkan pandangan Reformed terhadap Perjamuan Kudus, yang mengkaitkan antara roti dan anggur dengan tubuh dan darah Tuhan Yesus.
Roti dan anggur adalah makanan jasmani, tetapi sekaligus menjadi batu loncatan untuk masuk ke dalam sebuah realita rohani, yaitu dimana tubuh rohani kita dipersatukan dengan tubuh Tuhan Yesus secara spiritual. Ketika roti dan anggur itu masuk ke dalam tubuh jasmani kita, maka secara spiritual tubuh kita pun dipersatukan ke dalam tubuh Tuhan Yesus. Pemahaman akan konsep seperti ini, akan memudahkan kita untuk memahami perkataan: Yohanes 6:56 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.
Sebab bagaimana mungkin perkataan Tuhan Yesus dalam Yohanes 6:56 di atas dapat dimaknai secara jasmani? Hal itu akan menjadi sesuatu yang absurd sekali, bukan? Akan tetapi ketika kita memahami perkataan tersebut dari suduh pandang rohani, maka perkataan tersebut menjadi sesuatu yang dapat diterima serta dapat dipraktekkan. Dan salah satu cara untuk mempraktekkannya adalah melalui seremoni Perjamuan Kudus yang sedang kita bahas ini.
Jadi kalau boleh saya formulasikan sekali lagi, kaitan antara Perjamuan Kudus dengan Yohanes 6:56 adalah: ketika kita makan roti dan minum anggur, maka roti dan anggur yang merupakan representasi Tubuh Tuhan secara jasmani itu tinggal (dipersatukan) ke dalam tubuh kita, sementara pada saat yang bersamaan, tubuh rohani kita pun tinggal (dipersatukan) dengan tubuh rohani Tuhan Yesus, sehingga terciptalah kondisi yang sesuai dengan perkataan “ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.”
Sepasti roti dan anggur itu bersatu dengan tubuh kita, sepasti itu pulalah tubuh dan darah rohani Tuhan Yesus dipersatukan dengan tubuh rohani kita. Waktu kita makan roti dan minum anggur, maka dalam tempo yang cukup singkat, roti dan anggur sudah tidak dapat ditemukan lagi di dalam tubuh kita, sebab roti dan anggur itu sudah bersatu dengan keseluruhan elemen yang ada di dalam tubuh jasmani kita.
Demikian pula secara rohani, ketika kita menerima roti dan anggur itu, maka tubuh rohani kita pun dipersatukan dengan tubuh Kristus secara rohani pula.
Apa yang jasmani menjadi loncatan/jembatan bagi apa yang rohani
Prinsip yang kita gali dari seremoni Perjamuan Kudus ini, mengisyaratkan sebuah pola, yaitu dimana sebuah realita jasmani (roti dan anggur), telah membawa kita untuk masuk ke dalam sebuah realita rohani (dipersatukan dengan tubuh Kristus). Apakah hal seperti ini terdengar aneh? Seharusnya tidak.
Sebab, hal seperti yang saya ungkapkan di atas bukanlah hal yang baru di dalam Alkitab. Sebaliknya, Alkitab justru sarat dengan pola-pola seperti itu. Berikut ini saya akan memaparkan beberapa contoh dari Alkitab tentang adanya perubahan/pergerakan dari realita jasmani menuju kepada realita rohani, yaitu:
Contoh 1: Dua belas suku Israel dan dua belas rasul Kristus
Di dalam Perjanjian Lama kita mendapati bahwa 12 suku Israel terbentuk dari 12 orang yang merupakan saudara secara jasmani. Mereka semua adalah anak kandung atau darah daging dari Yakub atau Israel. Akan tetapi ketika kita membaca Perjanjian Baru, maka kita mendapati bahwa 12 rasul Tuhan Yesus bukan berasal dari saudara yang bersifat jasmani. Mungkin hanya beberapa yang merupakan saudara secara jasmani, yaitu Yakobus dan Yohanes, yang merupakan anak dari Zebedeus, serta Petrus dan Andreas yang merupakan anak dari Yunus.
Artinya, melalui Perjanjian Lama kita diajarkan bahwa sebagai umat percaya, kita semua adalah bersaudara, kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga. Tetapi di dalam Perjanjian Baru, pemahaman kita tentang persaudaraan dan kekeluargaan ini, diperluas secara lebih jauh. Persaudaraan menurut Perjanjian Baru, bukanlah semata-mata saudara secara biologis atau jasmani, tetapi saudara secara rohani. Sehingga para murid belajar, bahwa keselamatan itu bukan datang kepada bangsa Yahudi saja, tetapi juga kepada bangsa-bangsa lain yang bahkan tidak memiliki persaudaraan secara jasmani dengan orang Yahudi.
Contoh 2: Wujud dari berkat di Perjanjian Lama dan Perjanjian baru
Di dalam Perjanjian Lama, wujud dari berkat seringkali berwujud atau bersifat jasmaniah atau materi. Orang yang diberkati, biasanya ditandai dengan betapa banyaknya jumlah kekayaan materi yang dimilikinya. Orang yang diberkati, digambarkan sebagai orang yang memiliki banyak kambing, domba serta budak-budak. Abraham, Yakub, Ayub dan Yusuf adalah beberapa contoh dari orang-orang yang hidupnya diberkati oleh Tuhan, dan Alkitab melukiskan mereka sebagai orang-orang yang memiliki banyak kekayaan materi.
Tetapi hal seperti ini tidak selalu terjadi di Perjanjian Baru. Kita ambil contoh Yohanes Pembaptis misalnya. Betapa sederhananya kehidupan Yohanes Pembaptis bukan? Apakah kita mau mengatakan bahwa Yohanes bukan seseorang yang diberkati oleh Tuhan? Tentu saja tidak bisa, bukan? Bahkan Tuhan Yesus sendiri mengatakan demikian: Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis … (Mat 11:11)
Menurut Tuhan Yesus, Yohanes Pembaptis adalah pribadi yang memiliki suatu kebesaran (greatness) yang tidak dimiliki oleh orang lain. Ini merupakan sebuah penghargaan luarbiasa yang diberikan oleh Tuhan sendiri. Akan tetapi sebagaimana kita ketahui, Yohanes Pembaptis hidup di dalam kesederhanaan yang sedemikian rupa, sehingga dapat dikatakan, tidak ada di antara kita yang ingin hidup seperti dia. Berkelana di padang gurun, memakai pakaian yang sangat sederhana, mengkonsumsi makanan sehari-hari yang juga sangat sederhana, segala sesuatu yang disediakan alam. Bahkan cara matinya pun sedemikian mengenaskan jika dilihat dari kacamata dunia. [Baca juga: Pelayanan, penangkapan dan pembunuhan terhadap Yohanes Pembaptis. Klik disini.]
Jadi dari satu contoh ini saja kita melihat adanya perbedaan sudut pandang, yaitu antara sudut pandang dunia dan sudut pandang Ilahi. Menurut sudut pandang dunia, orang yang diberkati adalah orang mengalami kehidupan yang secara kasat mata sungguh-sungguh beruntung, memiliki banyak harta, punya kuasa, hidup tenang dan damai hingga akhir menutup mata. Tetapi menurut sudut pandang Ilahi, apa yang terjadi di dunia ini belum merupakan petunjuk yang mutlak akan hidup yang diberkati. Orang yang hidupnya begitu makmur, bisa saja merupakan orang yang tidak diberkati. Sedangkan orang yang hidupnya begitu menderita, bisa saja justru merupakan orang yang sangat diberkati oleh Tuhan.
Selain itu, apabila kita melihat ke dalam bagian lain dari Alkitab, tulisan Paulus misalnya, maka kita akan mendapati bahwa yang dimaksud dengan berkat di dalam Perjanjian Baru, bisa merupakan kekayaan rohani, yaitu: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri. (Galatia 5:22,23)
Kesimpulan
Perjamuan Kudus adalah sebuah seremoni di dalam gereja untuk membawa kita bergerak dari realita yang bersifat jasmani menuju sebuah realita yang bersifat rohani. Perjamuan Kudus adalah suatu batu loncatan untuk mengerti, menghayati apa yang terjadi di dalam realita rohani, melalui kegiatan jasmani berupa menyantap roti dan meminum anggur.
Hal ini bukan berarti kita mengatakan bahwa apa yang jasmani tidak penting, melainkan untuk mengajar kepada kita bahwa ketika melihat sesuatu atau memahami sesuatu, maka janganlah berhenti pada apa yang jasmani saja, melainkan berusahalah untuk melihat realita rohani apa yang ingin disampaikan oleh Tuhan kepada kita.
Pandangan Transubstansiasi yang dianut oleh Gereja Katolik Roma, dan pandangan Consubstansiasi yang di usulkan oleh Martin Luther, justru memiliki arah yang berkebalikan (berlawanan) dengan pandangan Reformed mengenai Perjamuan Kudus.
Di mana pandangan Reformed berusaha membawa realitas jasmani ke dalam realita rohani. Pandangan Katolik dan Luther justru berusaha membawa apa yang rohani, ke dalam realita jasmani.
Saya menganggap apa yang diusulkan oleh Calvin (Reformed) sebagai usulan yang lebih sesuai dengan arah pergerakan pengajaran di dalam Alkitab, yang juga membawa realitas jasmani untuk masuk secara perlahan ke dalam realita rohani.
Calvin mengajak kita melihat sesuatu realita yang rohani melalui sebuah realita jasmani. Yang terjadi di dunia jasmani adalah: roti dan anggur yang jasmani itu, masuk ke dalam tubuh jasmani kita, bersatu dengan tubuh jasmani kita. Tetapi pada saat tubuh jasmani kita dipersatukan dengan roti dan anggur jasmani tadi, maka pada saat itu, tubuh rohani kita dipersatukan pula dengan tubuh Rohani Tuhan Yesus, sehingga tercapailah apa yang dikatakan Tuhan: tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia (Yoh 6:56).
Oleh karena itu, prinsip yang diusulkan oleh Calvin ini, menurut saya, jauh lebih penting, jauh lebih dalam, jika dibandingkan dengan suatu upaya untuk mengingat, merenung dan kontemplasi saja.
Kiranya apa yang saya sampaikan disini dapat bermanfaat dan menambah kazahan pemahaman kita terhadap Sakramen Perjamuan Kudus. Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Baca juga:
Apakah
keberadaan Tuhan sungguh-sunguh tersembunyi bagi manusia? Klik
disini.
Apakah kubur
Yesus Kristus telah ditemukan? Klik
disini.
Di dalam
Taurat adalah Kasih Kasih Karunia, di dalam Kasih Karunia pun ada Taurat. Klik
disini.
Beberapa
ciri gereja sesat serta contoh ajaran sesat yang populer di kalangan Kristen.
Klik
disini.
Perjamuan Kudus sebagai berita Kematian dan Kebangkitan Yesus Kristus. Klik disini.
