Monday, April 24, 2023

Berjalan dalam lembah kekelaman (Mazmur 23:4-5)


Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. (Mazmur 23:4-5)

Melalui tulisan ini kita akan belajar bahwa sekalipun Tuhan adalah Pribadi yang mahabaik, bukan berarti Tuhan tidak akan memperhadapkan kita pada kesulitan. Di dalam bijaksana-Nya yang mungkin tidak mudah untuk dimengerti, Tuhan dapat menguji kita melalui kesulitan agar kita belajar untuk bertumbuh.

Mazmur 23, dibuka dengan perkataan: TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; (Mazmur 23:1-2)

Kita tentu menyukai ayat ini sebab dikatakan dalam ayat tersebut, bahwa Tuhan akan membimbing kita ke air yang tenang. Dan tentu saja kalimat tersebut adalah sebuah kebenaran, sebab pada akhirnya memang Tuhan akan membawa kita ke tempat yang memungkinkan bagi jiwa kita untuk dapat beristirahat dengan tenang. Akan tetapi jangan lupa bahwa Mazmur 23 pun mencatat adanya perjalanan ke lembah kekelaman (ayat 4) dan musuh-musuh pun masih berkeliaran dengan bebas (ayat 5). 

Melalui ayat 4 dan ayat 5 tersebut, kita diingatkan bahwa gambaran dari kehidupan yang dipimpin oleh Allah, mungkin berbeda dengan gambaran ideal dari banyak orang, yaitu bahwa Tuhan akan selalu memimpin hidup manusia ke tempat atau situasi yang menyenangkan, atau Tuhan akan selalu menghindarkan kita dari kesulitan dan marabahaya. 

Ternyata, hidup yang dipimpin oleh Tuhan ke air yang tenang, bukanlah kehidupan yang sudah dibebaskan dari segala tantangan. Sebaliknya, menurut catatan Alkitab, orang-orang yang hidupnya dipimpin oleh Allah, justru tidak luput dari rencana Tuhan untuk membawa mereka ke tempat-tempat yang sulit, penuh tantangan, ujian dan bahkan kematian. Tidak ada satupun dari umat Tuhan yang sejati yang tidak mengalami ujian, tantangan dan bahkan penderitaan.

Abraham dikenal sebagai bapa kaum beriman, tetapi sebagai wakil dari kaum beriman, Abraham pun diuji oleh Tuhan melalui sebuah tantangan di Mesir, yaitu ketika pemimpin Mesir menginginkan istri Abraham untuk dijadikan permaisurinya. Abraham gagal dalam ujian ini, Tuhan turun tangan untuk membereskan situasi yang tidak beres itu. Dalam peristiwa yang lain, Abraham kembali diuji dalam tingkatan yang lebih besar lagi, yaitu ketika Allah meminta Abraham mengorbankan anaknya yang tunggal.

Yusuf diuji melalui perbuatan saudara-saudaranya, melalui berbagai kesulitan hidup sebagai budak Musa mengalami ujian berkali-kali selama memimpin bangsa Israel di padang gurun. Dan bahkan Tuhan Yesus sendiri pun diuji secara terus menerus dan diintai oleh marabahaya pada hampir setiap segmen dari kehidupan-Nya. Dan puncak dari segala kekelamanan yang harus dilalui oleh Tuhan Yesus adalah kematian di atas kayu salib.

Jadi kalau pemazmur ada pengalaman untuk berjalan di dalam lembah kekelaman, maka itu bukanlah sesuatu yang unik dialami oleh pemazmur saja, melainkan suatu bayang-bayang dari apa yang akan terjadi pada Yesus Kristus.

Iman Kristen adalah iman yang mengakui kepemimpinan Allah yang berdaulat, sambil menerima kenyataan bahwa Allah masih membiarkan kejahatan tetap ada. Pada saat ini kita tahu bahwa Tuhan Yesus sudah menjadi Raja di atas segala raja dan pemerintahan Tuhan Yesus meliputi seluruh alam semestas, baik semesta yang kelihatan, maupun bahkan yang tidak terlihat oleh mata kita. Akan tetapi apabila kita observasi keadaan dunia ini, kita tahu bahwa masih ada banyak sekali kekurangan dan kekacauan di dalam dunia ini.

Orang yang tidak membaca Alkitab dengan baik, akan mengatakan bahwa Tuhan Yesus belum menjadi Raja saat ini. Atau mungkin ada yang akan mengatakan bahwa Allah bukan Pribadi yang berkuasa, sebab Tuhan tidak mampu mengatasi segala kekacauan di dunia. Atau ada pula yang mengatakan bahwa Allah memang berkuasa, tetapi Ia tidak memiliki kasih. Tidak satupun dari anggapan itu yang benar. Semuanya merupakan keyakinan keliru yang disebabkan oleh ketidakmengertian isihati Tuhan yang dituangkan dalam Kitab Suci.

Menurut Alkitab, Allah adalah gembala yang baik, tetapi di dalam kebaikan-Nya itu Allah tetap akan memimpin manusia untuk masuk melewati lembah yang kelam sebagai ujian bagi iman orang-orang yang dikasihi-Nya. Menurut Alkitab, Tuhan Yesus adalah Raja, tetapi kerajaan yang dipimpin oleh Tuhan Yesus saat ini bukanlah kerajaan yang kebal dari kejahatan. Sebaliknya Tuhan Yesus masih membiarkan iblis untuk menabur benih-benih kesesatan di dalam dunia, sebagai penguji iman orang percaya, sekaligus sebagai alat di tangan Tuhan untuk memurnikan kehidupan orang percaya itu.


Penghiburan dari Tuhan

Orang-orang yang skeptis terhadap iman Kristen tidak akan dapat memahami bagaimana cara Tuhan memelihara kehidupan manusia di dunia yang berdosa ini. Di satu sisi Allah membaringkan umat-Nya di padang rumput yang hijau, tetapi di sisi lain Tuhan tidak menghindarkan  mereka dari lembah kekelaman dan dari incaran para musuh. 

Yang indah adalah, bahwa inipun belum keseluruhan dari cerita yang ingin disampaikan. Sebab Tuhan sendiri tidak membiarkan orang-orang yang percaya pada-Nya itu, berjalan sendirian di lembah kekelaman tersebut. Pemazmur mengatakan bahwa di tengah lembah kekelaman itu, Allah tetap memimpin dan melindungi umat-Nya dengan tongkat dan gada. Tongkat untuk memimpin, gada untuk menjaga kawanan domba dari bahaya. Manusia tidak akan mengerti apa artinya penghiburan dari Tuhan, jika ia tidak memahami marabahaya yang mengancam di sekitarnya. Manusia akan sulit menghargai pemberian Tuhan, jika mereka tidak sadar betapa banyak musuh yang sedang mengancam.

Bahwa di dalam hidup ini manusia akan melewati lembah kekelaman dan berhadapan dengan musuh, itu adalah hal yang tidak akan terhindarkan. Tidak ada manusia yang tidak melewati lembah kekelaman di dalam hidup ini. Yang terjadi adalah orang-orang yang hidup di dalam kekelamam, tetapi mereka tidak sadar bahwa mereka ada di dalam kekelaman. Yang terjadi adàlah, banysk orang yang sedang hidup dalam kekelaman tetapi Tuhan tidak berjalan bersama mereka. Ini merupakan keadaan yang sangat memprihatinkan, tetapi yang justru jarang disadari oleh manusia.

Kiranya Mazmur 23 ini mengingatkan kita untuk selalu bergantung pada Tuhan dan tetap percaya pada-Nya, sekalipun Ia membawa kita melewati lembah kekelaman. Tuhan Yesus memberkati.


 

Monday, April 17, 2023

Relevansi Alkitab


Sebagai orang Kristen, kita perlu melihat relevansi dari Alkitab sebagai pedoman nilai-nilai yang sejati dalam hidup jaman ini. Kita perlu melawan anggapan bahwa Alkitab adalah buku kuno yang nilai-nilainya tidak relevan lagi dengan kehidupan di jaman sekarang. Sehingga penting bagi kita untuk menempatkan perhatian dan posisi waktu yang lebih bagi pembacaan dan perenungan Alkitab di tengah kesibukan, kesenangan, persoalan hidup.

Berbicara tentang Alkitab dan relevansinya, artinya kita mempertanyakan apakah Alkitab masih ada gunanya buat hidup kita sekarang? Jika ya apa relevansinya? Sebab apabila ada sebuah tulisan yang dibuat ribuan tahun yang lampau, tetapi masih perlu dibaca hingga saat ini, maka pastilah tulisan tersebut memiliki nilai-nilai yang melampaui segala zaman.


Nilai kekal Firman Tuhan

Bahwa Firman Tuhan memiliki nilai-nilai sejati yang melampaui segala zaman, itu bukanlah pendapat gereja, atau kesimpulan dari pendeta tertentu, atau produk tafsiran dari teologi tertentu, melainkan ditetapkan okeh Tuhan Yesus Kristus sendiri.

Tuhan Yesus berkata: Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu. (Matius  24:35)

Tuhan Yesus berpendapat bahwa Firman-Nya atau perkataan-Nya itu memiliki keberadaan (eksistensi) yang melampaui segala zaman. Bahkan langit dan bumi yang keberadaannya jauh lebih besar serta jauh lebih lama daripada kehidupan manusia pun, pada suatu saat masih akan berlalu. Tetapi Firman Tuhan tidak akan berlalu, perkataan Tuhan masih akan terus ada dan pesan-pesannya pun tidak akan berubah.

Langit dan bumi adalah representasi dari segala sesuatu yang fana, yang terlihat. Sekaligus juga representasi dari segala sesuatu yang bersifat sementara saja. Langit dan bumi pernah dimulai, dan suatu saat akan diakhiri. Otomatis, segala sesuatu yang terlihat penting selagi masih ada di langit dan bumi ini, suatu saat akan berakhir.

Tetapi perkataan Tuhan Yesus itu jauh lebih besar dibandingkan dengan langit dan bumi. Adapun yang dimaksud "lebih besar" di sini bukanlah sesuatu yang bersifat kuantitatif, seperti "lebih besar dari ukuran bumi" misalnya, melainkan ungkapan yang bersifat kualitatif, yaitu "lebih bernilai" atau "jauh lebih penting" daripada langit dan bumi


Alkitab sebagai Firman Tuhan

Apakah Alkitab adalah Firman Tuhan? Tentu saja, Alkitab adalah Firman Tuhan, tetapi ada beda antara "Alkitab adalah Firman Tuhan" dengan "Firman Tuhan adalah Alkitab" sebab ada bentuk-bentuk lain dari Firman Tuhan yang kita kenal, yaitu:

  • Firman yang diucapkan langsung, misalnya perkataan Yahwe kepada Musa.
  • Firman yang menjadi Manusia, yaitu Tuhan Yesus.
  • Firman yang dituliskan, yaitu Alkitab yang terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
  • Firman yang dikhotbahkan. Ini adalah usulan dari seorang teolog bernama Karl Baarth. Namun ini masih diperdebatkan tentang apakah perlu dimasukkan dalam kategori ataukah tidak. Sebab msih diperlukan catatan tambahan atas point 4 ini, yaitu ketika Firman yang dikhotbahkan itu sudah memperhatikan sungguh-sungguh kaidah penafsiran (hermeneutik) dan kaidah berkhotbah (homiletik) yang baik. Kita perlu sadari bahwa tidak semua orang yang membaca Alkitab, pasti akan menafsirkan Alkitab itu dengan baik, dan tidak semua orang dapat mengkhotbahkannya dengan baik, sekalipun kita tahu ada kuasa Roh Kudus yang dapat menutupi kekurangan manusia.

Alkitab Perjanjian Lama, sudah dianggap sebagai Firman Tuhan sejak zaman Tuhan Yesus. Hal itu dapat kita ketahui dari pengakuan Tuhan Yesus sendiri. 

Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur." Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. (Lukas 24:44-45)

Menurut pendapat Tuhan Yesus, kitab Taurat Musa, kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur adalah Kitab Suci, bukan sembarang kitab, bukan sekedar kitab sejarah, tetapi adalah perkataan Tuhan sendiri.

Alkitab Perjanjian Baru memang belum ada ketika Tuhan Yesus masih hidup di dunia. Setelah Tuhan Yesus naik ke sorga, barulah tulisan-tulisan tentang Dia mulai dibuat dan dikumpulkan. Kita bisa membaca hal itu dalam Lukas 1:1-4.

Menurut pendapat murid-murid Tuhan Yesus, berita Injil bukanlah berita yang berasal dari manusia biasa, sekalipun ditulis oleh manusia. Rasul Petrus berpendapat bahwa berita Injil adalah pesan dari Roh Kudus bagi manusia. Pesan itu begitu berharganya hingga para malaikat pun ingin mengetahuinya. Rasul Petrus berkata:

Kepada mereka telah dinyatakan, bahwa mereka bukan melayani diri mereka sendiri, tetapi melayani kamu dengan segala sesuatu yang telah diberitakan sekarang kepada kamu dengan perantaraan mereka, yang oleh Roh Kudus, yang diutus dari sorga, menyampaikan berita Injil kepada kamu, yaitu hal-hal yang ingin diketahui oleh malaikat-malaikat. (1 Petrus  1:12)

Di dalam kesempatan lain, Rasul Petrus meyakinkan pembacanya bahwa pengajaran di dalam Kitab Suci bukan di hasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus. Rasul Petrus berkata:

Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah. (2 Petrus  1:20-21)

Dari berbagai uraian ini, kita sudah tahu bahwa Firman Tuhan itu kekal. Dan kita juga tahu bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan. Sekarang pertanyaannya apakah Alkitab yang bersifat kekal itu memang sama sekali tidak ada aspek perubahan apapun di dalamnya? Jika ada, hal apa yang berubah dan hal apa yang akan selalu sama?


Relevansi Alkitab

Apakah Alkitab itu memiliki relevansi yang bersifat sepanjang zaman? Apakah Alkitab masih memiliki kegunaan yang sama baik dulu maupun sekarang? Untuk menjawab hal itu, kita perlu memahami apakah ajaran di Alkitab mengalami perubahan ataukah tidak. Apakah ada perubahan dalam segala sesuatu yang dituturkan dalam Alkitab? Jawabnya adalah: Ya dan Tidak.

Ada hal-hal yang memang mengalami perubahan, antara yang digambarkan oleh Alkitab dengan apa yang ada di zaman sekarang. Yang mengalami perubahan itu adalah yang berhubungan dengan alat-alat kebudayaan atau yang merupakan kebiasaan hidup sehari-hari. Alkitab ditulis di zaman yang sudah lama berlalu di tengah suatu bangsa yang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan bangsa lain, tentu saja ada perbedaan dan perubahan dengan kebudayaan dan kebiasaan hidup bangsa Indonesia yang hidup di abad ke 21 ini. Sebagai contoh: orang Israel di zaman Tuhan Yesus memakai baju dan jubah, sedangkan orang Indonesia tidak berpakaian seperti itu. Atau contoh lain, pekerjaan di zaman Alkitab lebih sedikit jenisnya dibandingkan zaman sekarang. Alat musik yang dipakai juga berbeda dengan yang ada di jaman sekarang. 

Meskipun demikian, hal-hal yang bersifat prinsip spiritual atau nilai-nilai kehidupan tidak mengalami perubahan hingga sekarang, bahkan bersifat kekal selamanya. Sebagai contoh: orang yang hidup di zaman Tuhan Yesus diajar untuk mengasihi sesama. Orang Indonesia di zaman sekarang pun harus mengasihi sesama.

Oleh karena itu penting bagi kita untuk memiliki hikmat dalam menilai, apa yang merupakan alat-alat kebudayaan dan mana yang merupakan nilai-nilai atau karakter yang bersifat kekal tersebut.


Progressive Revelation

Progresive revelation artinya cara Tuhan dalam menyatakan ajaran-Nya secara bertahap kepada manusia. Hal itu kita ketahui dari dua unsur kata yang ada di dalamnya; revelation artinya menyatakan diri sedangkan progressive artinya bersifat semakin maju atau secara bertahap semakin lama semakin jelas.

Oleh karena Allah menyatakan diri-Nya secara bertahap, maka tentu saja ada hal-hal di dalam Alkitab yang diberitakan dengan cara yang seolah-olah berbeda. Padahal itu bukan perbedaan, melainkan perkembangan di dalam cara mengerti.

Sebagai contoh, di dalam Perjanjian Lama, orang Israel lebih ditekankan pada ajaran monotheistik, yaitu bahwa Allah adalah satu, tetapi di dalam Perjanjian Baru ajaran monotheistik itu semakin diperdalam yaitu monotheistik yang bersifat Tritunggal. Dengan ajaran tersebut, bukan berarti ajaran monotheistik di Perjanjian Lama itu keliru, melainkan belum diperdalam. Baru di jaman Perjanjian Baru orang Kristen diberi pengertian yang lebih lengkap.

Hal lain yang dapat kita perhatikan misalnya penekanan pada hal yang bersifat jasmani di Perjanjian Lama dan penekanan pada hal-hal yang bersifat spiritual pada Perjanjian Baru. Sebagai contoh: di Perjanjian Lama, kedua belas suku Israel adalah saudara-saudara yang memang punya relasi bersifat jasmaniah, yaitu mereka berasal dari ayah yang sama. Sedangkan di Perjanjian Baru, dua belas rasul itu bukan saudara yang bersifat jasmani tetapi saudara yang bersifat spiritual.

Jadi kalau kita ringkas kembali, kebudayaan adalah produk langsung dari manusia, bukan produk langsung dari Allah. Itu sebabnya kebudayaan bisa berubah, bergantung waktu, tempat dan situasi yang dihadapi oleh manusia. Tetapi nilai-nilai hidup yang berasal dari Allah tidak mungkin berubah. Demikian pula ajaran Alkitab tentang jati diri Allah, natur manusia, natur dosa, jalan keselamatan, hal-hal akhir, dan hubungan umat Allah, tidak akan berubah.


MENGAPA KITA PERLU MEMBERI PERHATIAN PADA AJARAN ALKITAB ?

Pertama:
Ajaran yang disampaikan dalam Alkitab bersifat kekal, karena berasal dari Allah yang kekal.

Kedua:
Nilai-nilai tersebut menyangkut kehidupan kita, baik kini maupun yang akan datang (hidup sesudah kematian)

Ketiga:
Ada kecenderungan dalam diri kita untuk menjalani hidup yang berbeda dengan yang ditawarkan oleh Alkitab. Natur kita yang berdosa ini ternyata sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh Alkitab. Sehingga jika kita tidak menaruh perhatian, maka natur berdosa itulah yang jauh lebih berkembang.


KESIMPULAN

Alkitab memiliki aspek budaya dan aspek kekal. Ada hal-hal di Alkitab yang memang dimaksudkan untuk berubah atau berkembang, tetapi ada hal-hal di Alkitab yang merupakan nilai kekal dan tidak akan berubah. Melalui Alkitab kita belajar bahwa Allah yang kekal dapat memakai kebudayaan manusia yang tidak kekal untuk mengajar nilai-nilai diri-Nya yang kekal.

Oleh karena itu, kita harus berhati-hati di dalam kehidupan ini. Jangan sampai kita terlalu fokus pada hal-hal yang tidak kekal, tetapi tidak memperhatikan apa yang kekal. Sebab yang kekal itulah yang penting dan akan menyelamatkan kita. Kiranya Tuhan menolong kita. Amin.



Tuesday, April 4, 2023

Mengapa Tuhan melarang kita bersandar pada pengertian kita sendiri? (Amsal 3:5-6)


Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. (Amsal 3:5)

Percayalah kepada TUHAN

Penulis Amsal mendorong pembacanya untuk percaya dan juga untuk bersandar kepada Tuhan. Dan menarik untuk diperhatikan bahwa istilah yang dipakai pada ayat ini adalah "TUHAN," yaitu nama dari Allah yang telah memperkenalkan diri kepada Israel. Oleh karena itu, kepercayaan kita kpada Tuhan bukanlah jenis kepercayaan yang tanpa ada relasi Pribadi. Di dalam kekristenan yang sejati, orang yang percaya adalah orang yang mengenal Allahnya serta menjalin hubungan dua arah dengan Allah yang dikenal itu.

Mempercayai Tuhan adalah tindakan yang baik dan benar yang seharusnya dilakukan oleh setiap manusia. Sebab sebagai manusia kita tidak mungkin tidak mempercayai sesuatu, itu adalah bagian dari natur diri kita sendiri. To be human is to believe something. Jika seseorang tidak mau mempercayai Tuhan, maka pastilah orang itu akan percaya pula pada sesuatu yang lain, entah percaya pada dirinya sendiri, atau percaya pada kekuatan alam atau percaya pada makhluk lain di luar bumi. Tidak ada manusia yang tidak percaya pada apapun.

Oleh karena manusia tidak mungkin terhindar dari kebutuhan untuk mempercayai seseorang atau sesuatu, maka sangatlah wajar apabila penulis Amsal mendorong pembaca tulisannya agar mempercayai Tuhan, mengapa? Pertama, sebab Tuhan-lah yang paling berkuasa dan paling mampu menjaga orang-orang yang percaya kepada-Nya. Kedua, sebab Dia pulalah sumber segala kebenaran, sehingga apapun yang diajarkan oleh Tuhan pastilah merupakan ajaran kebenaran. Mengapa manusia harus memilih kepalsuan? Sedangkan Sang Kebenaran sendiri telah membuka diri-Nya untuk dikenal dan dipercayai?

Mempercayai Tuhan dengan segenap hati

Apa yang dimaksud dengan mempercayai Tuhan dengan segenap hati? Mungkin pertanyaan seperti ini terdengar cukup sederhana, tetapi apakah kita pernah benar-benar merenungkan arti dari pernyataan tersebut? Mempercayai Tuhan dengan segenap hati berarti kepercayaan itu bukan hanya teori saja, bukan hanya sebatas tahu apa yang dipercayai, atau sebatas setuju saja dengan iman Kristen.

Percaya pada Tuhan dengan segenap hati berarti di dalam kepercayaan itu ada keterlibatan hati, yaitu:

  • Hati yang rela, bukan karena terpaksa.
  • Hati yang bersuka, bukan bersedih.
  • Hati yang mengasihi, bukan yang membenci.

Meskipun kekristenan berbicara banyak mengenai pengetahuan dan pengajaran serta memberikan banyak informasi tentang Allah, tentang manusia, alam semesta, dunia roh, akhir kehidupan dan lain sebagainya, tetapi inti sari dari kekristenan yang sejati bukanlah menjadikan manusia-manusia cerdas dengan segudang informasi di kepala. Inti sari dari kekristenan adalah cinta kasih kepada Allah dan kepada sesama manusia. Wujud nyata dari iman kepercayaan manusia kepada Allah adalah mengenal Dia dan di dalam pengenalan itu terjalin pula relasi cinta kasih yang timbal balik. Ada keterlibatan hati antara manusia dengan Allah, bukan pengetahuan yang bersifat cognitif belaka.

Apa gunanya mengetahui doktrin tentang dosa, apabila kita sendiri tidak merasa berdosa? Apa gunanya menjadi pandai dalam doktrin Allah Tritunggal, tetapi kita tidak mengasihi Allah dan tidak ada ketertarikan di dalam hati untuk menjalani kehidupan yang serupa dengan kehidupan Allah Tritunggal? Semua pengetahuan doktrinal itu menjadi tidak berguna.

Di sisi lain, ada pula orang Kristen yang menganggap bahwa yang paling penting di dalam kekristenan adalah unsur emosi atau perasaan, sambil mengabaikan arti penting dari pengajaran yang Alkitabiah. Ini juga sikap yang salah, sebab tanpa pengertian yang benar, emosi manusia pun bisa berjalan ke arah yang salah.

Tanpa pengetahuan kerajinan pun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah. (Amsal 19:2)

Perkataan yang diambil dari Amsal menegaskan betapa pentingnya pengetahuan itu. Tanpa adanya pengetahuan akan kebenaran, sikap tulus atau kerajinan pun bisa salah langkah.

Jangan bersandar pada pengertian sendiri

Penulis Amsal bukan saja memberikan dorongan yang positif, tetapi juga memberi larangan kepada pembacanya. Kekristenan tidak sama dengan motivator yang hanya bisa memberi dorongan atau hiburan atau kalimat-kalimat positif. Kekristenan juga berbicara tentang larangan, batasan dan bahkan teguran. Tuhan tidak pernah ada di dalam posisi yang diseret-seret oleh kebutuhan manusia narsistik, yang terus menerus butuh dihibur dan didorong. Manusialah yang harus mendengarkan Tuhan, bukan Tuhan yang harus mendengarkan manusia. Tuhan bebas untuk menegur manusia demi mengubah dan mempertobatkan manusia itu.

Penulis Amsal melarang pembacanya untuk bersandar pada sesuatu yang salah. Jadi dalam hal ini, bukan berarti bahwa bersandar itu merupakan suatu kesalahan. Bersandar pada sesuatu atau seseorang adalah hal yang natural atau wajar dilakukan oleh manusia, dikarenakan manusia pada dasarnya merupakan makhluk yang terbatas. Yang dilarang oleh penulis Amsal adalah bersandar pada pengertian manusia itu sendiri. Mengapa? Sebab pengertian manusia, seberapapun pandainya, tidaklah sempurna. Pengertian manusia itu bagaimanapun juga ada keterbatasan dan bahkan telah dicemari oleh dosa, sehingga pengertian itu dapat membawa manusia pada jalan kebinasaan.

Larangan yang diberikan oleh penulis Amsal ini sesungguhnya merupakan suatu tindakan kebaikan, yaitu agar manusia jangan terjebak oleh sesuatu yang tidak pasti dan dapat membawa mereka pada kecelakaan. Penulis Amsal mengarahkan pembacanya justru kepada jalan yang akan membawa mereka pada keselamatan.

Tidak semua orang di dunia tentu saja menyukai nasihat seperti ini. Sejak jaman Adam dan Hawa manusia sudah menunjukkan ketertarikan untuk mengerti sesuatu dengan pengertiannya sendiri tanpa harus bergantung pada pengertian yang berasal dari Tuhan. Di jaman sekarang pun gejala ini masih terlihat dengan sangat jelas, sebagai bukti betapa jauhnya manusia telah jatuh ke dalam dosa. 


Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. (Amsal 3:6)

Akuilah Dia dalam segala lakumu

Penulis Amsal mendorong kita sebagai pembaca, untuk mengakui peran serta Tuhan di dalam segala perbuatan kita. Dengan demikian, kita berarti mengakui keberadaan Tuhan dalam hidup kita. Kita sadar akan campur tangan serta kehadiran-Nya dalam hidup kita dalam setiap tindakan di dalam kehidupan ini.

Mengakui Tuhan dalam setiap tindakan dan setiap aspek hidup, sebetulnya merupakan hal yang wajar sekali, sebab Allah adalah pemilik segalanya di dalam kehidupan mamusia. Tidak ada satu aspek dari kehidupan manusia yang tidak berkaitan dengan Allah. Bumi, langit dan segala isinya adalah milik Allah. Manusia dicipta oleh Allah. Manusia dipanggil untuk bekerja pun oleh Allah. Manusia dipanggil untuk mengelola dunia oleh Allah. Manusia dipanggil untuk melayani sesama oleh Allah. Manusia dipanggil untuk beribadah juga oleh Allah. Manusia menikah juga atas kehendak dan panggilan dari Allah.

Tidak ada satu jengkal pun dari aspek kehidupan manusia yang tidak berelasi dengan Allah. Bahkan panggilan untuk menikmati ciptaan pun datangnya dari Allah. Jadi jika manusia diminta untuk mengakui Allah di dalam segala lakunya, maka itu wajar-wajar saja.

Yang tidak wajar adalah hal yang sebaliknya, yaitu meng-exclude Tuhan dari kegiatan kita. Yang sangat keliru adalah ketika Allah dikeluarkan dari kehidupan manusia. Itu adalah kesombongan manusia. Dan itu adalah dosa dimata Allah.

Jadi dosa itu tidak perlu sampai jauh-jauh membunuh atau mencuri. Dengan tidak mengakui Allah di dalam setiap tindakan kita sajapun, hal itu merupakan kesombongan.

Maka Ia akan meluruskan jalanmu:

Bagi orang yang sungguh-sungguh melibatkan Tuhan. Maka Tuhan yang adalah sumber terang sejati itu. Pasti akan meluruskan jalan kita. Sehingga kita tahu apa yang menjadi tujuan hidup kita.

Kita tahu bagaimana melakukan sesuatu di dalam kehidupan ini. Ketika hidup kita dipenuhi kelimpahan kita tahu bagaimana bersikap sehingga tidak jatuh oleh kelimpahan tersebut. Ketika hidup kita kekurangan, kita juga tahu bagaimana harus memandang kekurangan tersebut dan tidak menjadi kecewa kepada Tuhan.

Orang yang mengakui Allah di dalam setiap lakunya, akan mempunyai relasi yang intim dengan Allah. Orang itu akan semakin mengenal jalan pikiran Allah, sehingga ia dapat menjalani kehidupan yang lebih sesuai dengan apa yang menjadi kehendak Tuhan.

Hasil akhir dari mengakui Allah di dalam setiap laku kita, bukanlah pengekangan, melainkan justru suatu kebebasan. Kebebasan untuk berjalan bersama Allah. Kebebasan untuk mengenal, mengasihi, serta menikmati Dia. Kiranya Tuhan Yesus menolong kita. Amin.