Wednesday, December 1, 2021

Perenungan apa sajakah yang dapat kita pelajari dari Kitab Kejadian?

 


 

 

Tema-tema penting dalam Kitab Kejadian

Tulisan ini menjelaskan tentang beberapa tema penting yang dibicarakan di dalam Kitab Kejadian. Tentu saja Kitab Kejadian berbicara tentang begitu banyak hal penting yang dapat kita renungkan, tetapi setidaknya melalui tulisan ini saya ingin mengajak kita memfokuskan kepada beberapa tema yang cukup dominan, mendasar dan sekaligus penting, yaitu seperti:

 

Otoritas Tuhan.

Kitab Kejadian mengawali tulisannya dengan membicarakan Tuhan sebagai Pencipta dari segala sesuatu, sehingga sangat wajar jika kita memahami Dia sebagai Pribadi yang paling berdaulat atas seluruh alam semesta, maupun atas seluruh umat manusia. Kedaulatan Tuhan juga kemudian ditunjukkan melalui pemilihan atas Abraham. Bukan Abraham secara pribadi, bukan bangsa Israel atau bangsa apapun yang memutuskan bahwa ia atau mereka mau menjadi wakil Tuhan di dunia. Atas keputusan Tuhan di dalam kedaulatan-Nya itulah, Abraham dipilih, kemudian bangsa Israel dipilih dan seterusnya dan seterusnya. Pemberontakan manusia di Taman Eden, kejahatan Kain dalam membunuh, keberdosaan orang-orang pada zaman Nuh, serta kesombongan orang-orang yang ingin membangun menara Babel tidak mampu mengatasi kedaulatan Tuhan yang di dalam rencana-Nya ingin menyelamatkan manusia. Dan langkah awal dari karya keselamatan itu adalah dengan memilih Abraham melalui otoritas-Nya tersebut.

 

Penghakiman Tuhan

Kitab Kejadian juga mengisahkan tindakan Tuhan yang mengusir Adam dan Hawa karena mereka berbuat dosa terhadap Tuhan. Lalu Tuhan juga mengirimkan banjir untuk menghancurkan bumi yang penuh dengan kejahatan ataupun menghujani Sodom dan Gomora dengan api karena kota itu begitu bejatnya. Dari Kitab Kejadian kita belajar bahwa Tuhan itu kudus, dan dosa manusia harus dihukum. Meskipun demikian, Kitab Kejadian juga melukiskan Tuhan sebegai pemelihara kehidupan. Ia menjanjikan keturunan bagi Hawa, menyelamatkan keluarga Nuh dari air bah, menolong Yakub menghadapi murka Esau, serta Dia membiarkan Mesir bertahan dari kelaparan yang parah melalui hikmat Yusuf. Berbicara tentang penghakiman Tuhan, kita tidak mungkin mengabaikan anugerah-Nya yang besar. Sebaliknya, berbicara tentang anugerah, kita juga tidak mungkin tidak membicarakan penghukuman-Nya yang adil.

 

Pengorbanan darah

Kitab Kejadian juga mengajarkan kepada kita suatu konsep tentang pengorbanan melalui darah. Misalnya melalui kisah dimana Tuhan menguliti binatang untuk menutupi ketelanjangan Adam dan Hawa setelah mereka jatuh ke dalam dosa (Kej 3:21), maupun kisah ketika Allah menyediakan seekor domba jantan bagi Abraham sebagai ganti dari Ishak (Kej 22). Meskipun demikian motif pengorbanan darah akan jauh lebih banyak dibicarakan dalam kitab Imamat. Motif semacam ini adalah persiapan pengajaran kepada umat Tuhan akan pengorbanan darah Kristus di kayu salib kelak.

 

Covenant (Kovenan/Perjanjian)

Kovenan adalah perjanjian yang kudus dan mengikat yang menyatukan dua pihak atau lebih. Kovenan itu pada umumnya melibatkan janji, kondisi/syarat, janji berkat apabila menepati perjanjian, dan ancaman kutukan apabila melanggar kovenan tersebut. Kejadian beberapa kali berbicara tentang kovenan/perjanjian ini, yaitu misalnya perjanjian antara Allah dengan dunia setelah bencana air bah (Kejadian 9:1-17) dan perjanjian antara Allah dengan Abraham (Kejadian 15, 17). Tuhan menjanjikan Abraham yang tidak memiliki anak bahwa ia akan menjadi bapak bagi banyak suatu bangsa yang besar. Bahwa keturunannya akan memiliki tanah, dan bahwa dunia akan diberkati melalui mereka.

 

Anugerah

Dalam pasal dua belas, Tuhan berjanji untuk memberkati Abraham, memberkati sekutunya, mengutuk musuhnya, dan akhirnya, memberkati dunia melalui dia (12:1–3). Ini menendang sisa buku, sisa Taurat, dan memang sisa Alkitab ke dalam gigi. Sejak saat itu, Allah memiliki hubungan khusus dengan Abraham dan keluarganya. Sisa dari Kejadian menyaksikan janji ini terungkap—dan itu melibatkan banyak orang yang diberkati.

Narasi tentang berkat-berkat sangat penting ketika kita membaca sekitar setengah dari buku ini, ketika Yakub “mewarisi” (yaitu, menipu ayahnya untuk memberinya) berkat yang telah Allah berikan kepada Abraham dan Ishak. Berkat ini awalnya ditujukan untuk kakak laki-laki Yakub, Esau. Tapi sebelum situasi Kain dan Habel lain terjadi, Yakub melarikan diri ke negeri yang jauh, di mana ia memulai hidup baru. Ketika Yakub kembali, dia bergulat dengan Tuhan—yang memberkati dia.

 

Tanah yang dijanjikan

Tanah yang dijanjikan Tuhan kepada bangsa Israel, yaitu tanah Kanaan, juga merupakan sebuah tema yang penting untuk dibicarakan. Tuhan berjanji bahwa keturunan Abraham akan memiliki tanah itu di pasal 15, akan tetapi janji tersebut tidak terpenuhi sampai kitab Yosua. Abraham mengembara melalui Kanaan, Ishak menetap di sana, dan Yakub akhirnya menetap di sini juga. Namun, di akhir buku ini, bangsa Israel yang jumlah semakin besar itu justru tinggal sebagai tamu di Mesir. Baru pada empat kitab Taurat berikutnya, kita melihat bagaimana mereka kembali ke Kanaan.

 

Permulaan segala sesuatu

Kitab Kejadian memberi penjelasan tentang permulaan dari banyak hal yang penting dari realita seperti realita dari alam semesta, realita bumi, manusia, dosa dan realita rencana penyelamatan Allah. Kitab Kejadian mengajarkan bahwa dunia ini telah diciptakan dalam keadaan baik oleh Tuhan dan manusia adalah ciptaan yang istimewa. Allah adalah Pribadi yang menciptakan segalanya dan menopang seluruh alam semesta ini.

 

Ketidaktaatan

Semua orang akan selalu diperhadapkan pada pilihan-pilihan yang besar di dalam kehidupan. Ketidaktaatan terjadi ketika seseorang memilih untuk tidak mengikuti rencana Tuhan di dalam hidupnya. Kitab Kejadian menjelaskan mengapa manusia itu jahat, yaitu karena mereka memilih untuk melakukan apa yang salah, sementara Tuhan sudah memberikan segala yang baik kepada manusia. Tokoh-tokoh besar di dalam Alkitab pun tidak luput dari kesalahan dan ketidaktaatan seperti ini. Dan ketika manusia memilih tidak taat, maka disitulah dosa masuk menggerogoti jiwa manusia.

 

Kemakmuran atau kelimpahan hidup

Kelimpahan hidup yang dibicarakan di dalam Kitab Kejadian memiliki makna yang lebih dalam daripada sekedar kekayaan materi. Kelimpahan hidup yang sejati akan dialami oleh setiap orang yang hidupnya taat pada Allah. Sebab ketika seseorang taat kepada Allah, maka mereka akan mendapati kedamaian yang sejati, baik damai dengan Allah, dengan orang lain dan bahkan damai dengan dirinya sendiri.

 

Israel

Allah menciptakan  sebuah bangsa, yaitu bangsa Israel untuk menjadi suatu model dari kumpulan manusia yang memelihara hukum-hukum Ilahi di atas bumi ini, untuk memberitakan kepada dunia akan siapakah Allah itu dan menyiapkan dunia bagi kelahiran Sang Mesias. Hingga saat inipun Tuhan mencari orang-orang yang mau mengikut Dia untuk menjalan rencana yang sama seperti yang Tuhan lakukan terhadap Israel. Kita sebagai gereja juga dipanggil untuk memelihara hukum-hukum Ilahi tersebut, serta untuk memperkenalkan Kristus kepada dunia.

Amin

(Oleh: izar tirta)

Saturday, November 27, 2021

Mengenal Struktur Kitab Kejadian

 

 


Pendahuluan

Tulisan ini merupakan sarana untuk mengenal Kitab Kejadian yaitu melalui:

  • Struktur dari Kitab Kejadian
  • Beberapa karakter utama yang ada di dalamnya

Kitab Kejadian atau yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai Genesis, merupakan sebuah kitab yang berisi catatan-catatan tentang permulaan dunia, permulaan sejarah manusia, permulaan keluarga, asal usul peradaban dan bahkan permulaan dari rencana keselamatan Allah bagi manusia. Dari kitab Kejadian inilah kita dapat belajar tentang tujuan dan rencana Allah bagi ciptaan-Nya. Hal ini sesuai dengan istilah Ibrani dari kitab itu sendiri yang berarti permulaan atau asal usul.

Kitab Kejadian adalah kitab terpanjang kedua yang ada di dalam Alkitab. Kitab paling panjang yang terdapat di dalam Alkitab adalah Kitab Yeremia. Sebagai sebuah buku yang membahas tentang permulaan dari segala sesuatu, Kitab Kejadian menetapkan kerangka bagi keseluruhan Alkitab. Melalui kitab inilah kita diperkenalkan pada Pribadi dan sifat Allah, yaitu Allah sebagai Pencipta, Allah sebagai pemelihara alam semesta, Allah sebagai hakim dan juga sekaligus juga Allah sebagai penyelamat umat manusia dan beserta seluruh ciptaa-Nya.

Melalui kitab kejadian ini kita dapat belajar pula tentang nilai dan harga diri seorang manusia, yaitu sebagai makhluk yang diciptakan seturut gambar dan teladan Allah, diselamatkan berdasarkan anugerah dan dipakai oleh Tuhan untuk melaksanakan tugas pekerjaan Allah di dalam dunia ini.

 

Struktur Kitab Kejadian

Struktur dari Kitab Kejadian dapat dibagi ke dalam 7 kelompok, yaitu:

Kisah penciptaan: 1:1 – 2:3

Dalam bagian ini, dikisahkan tentang penciptaan alam semesta dan juga manusia. Melalui kisah ini kita belajar tentang betapa berharganya manusia yang telah diciptakan seturut dengan gambar dan rupa Allah.

Kisah Adam (2:4 – 5:32)

Dibicarakan tentang Adam, Hawa, Kain, Hable dan keturunan Adam yang lainnya. Pada waktu Adam dan Hawa diciptakan oleh Tuhan, mereka diciptakan tanpa dosa. Tetapi kemudian mereka jatuh ke dalam dosa ketika mereka melanggar perintah Tuhan untuk tidak memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat. Melalui kisah ini kita belajar betapa merusaknya dampak dosa bagi manusia dan bagi ciptaan secara keseluruhan.

Kisah Nuh (6:1 – 11:32)

Bagian ini membahas tentang kisah air bah, pemenuhan kembali umat manusia setelah air bah tersebut dan diakhiri dengan kisah menara babel. Melalui kisah ini kita belajar bagaimana Nuh diselamatkan dari air bah tersebut karena ia taat dan mau membangun bahtera meskipun diejek oleh orang-orang sezamannya. Kita juga belajar sebagaimana Tuhan melindungi Nuh dan keluarganya dari bencana global, maka Tuhan juga akan melindungi kita dari hukuman kekal apabila kita taat mengikuti Firman-Nya.

Kisah Abraham (12:1 – 25:18)

Beberapa hal yang dibicarakan dalam bagian ini adalah Tuhan menjanjikan munculnya sebuah bangsa kepada Abram, kisah Abram dan Lot, janji Tuhan kepada Abram tentang keturunan, Sodom dan Gomora, kelahiran dan permintaan untuk mengorbankan Isak, Isak dan Rebeka dan terakhir ditutup dengan kematian Abraham. Melalui kisah ini kita melihat bagaimana Abraham diminta untuk meninggalkan tanah kelahirannya untuk mengembara di tanah Kanaan. Dalam masa-masa pengembaraan itulah iman Abraham diuji sehingga kita boleh belajar tentang apa artinya menjadi orang yang beriman.

Kisah Isak (25:19 – 28:9)

Di dalam bagian ini kita belajar tentang Yakub dan Esau, Isak dan Abimelek serta bagaimana Yakub mendapatkan berkat hak kesulungan dari Isak. Malalui kisah ini, kita belajar bahwa Isak sendiri tidak pernah meminta sebuah jalan hidup bagi dirinya sendiri. Ia bahkan tidak memberontak ketika akan dikorbankan oleh Abraham. Dan pada waktunya, Isak juga menerima dengan gembira seorang istri yang dipilihkan baginya oleh orang lain. Dari Isak kita belajar bagaimana menaruh kepercayaan kita pada kehendak Tuhan yang berjalan di depan kehendak kita sendiri.

Kisah Yakub (28:10 – 36:43)

Dalam bagian ini diceritakan bagaimana Yakub memulai sebuah keluarga yang kelak kita tahu akan berkembang menjadi sebuah bangsa. Lalu bagian ini juga menceritakan tentang bagaimana Yakub pulang kembali ke kampung halamannya dan bergumul dengan susah payah sebelum akhirnya bertemu dengan Esau, yaitu saudara yang pernah ia tipu di masa lalu. Yakub bukan tipe seorang pribadi yang mudah menyerah. Dengan setia ia melayani Laban selama lebih dari 14 tahun. Pergumulannya melawan Tuhan, lebih tepat jika dilihat juga sebagai pergumulannya melawan dirinya sendiri. Meskipun Yakub bukan orang sempurna, banyak kekurangan, tetapi dari Yakub kita belajar bagaimana hidup melayani Tuhan.

Kisah Yusuf (37:1 – 50:26)

Dalam bagian ini kita melihat bagaimana Yusuf dijual sebagai budak, dibuang ke penjara hingga akhirnya justru menjadi seorang yang berkuasa di Mesir. Sebagai sisipan untuk memperbandingkan karakter Yusuf, bagian ini juga menceritakan tentang kisah Yehuda dan Tamar. Dan di bagian akhir dikisahkan bagaimana Yusuf bertemu kembali dengan saudara-saudaranya, lalu Yakub beserta seluruh keluarganya pindah ke Mesir untuk menghindar dari bencana kelaparan. Hingga akhirnya baik Yakub maupun Yusuf sama-sama meninggal di tanah Mesir. Dari kisah kehidupan Yusuf kita belajar bahwa penderitaan, betapapun hal itu tidak adil bagi orang yang mengalaminya, pada suatu saat dapat dipakai Tuhan untuk membentuk karakter yang kuat di dalam diri orang tersebut.

[Baca juga: Kisah Yehuda dan Tamar. Klik disini.]

 

Beberapa karakter utama di dalam Kitab Kejadian

Di dalam Kitab Kejadian ini kita akan melihat ada banyak karakter atau tokoh yang muncul. Namun dari sekian banyak karakter tersebut kita akan coba melihat beberapa karakter saja yang utama yaitu:

Tuhan (Yahweh)

Yahwe dilukiskan sebagai Pencipta langit dan bumi, termasuk juga Pencipta dari manusia pertama yaitu Adam dan Hawa. Yahwe membuat segala sesuatu dengan keadaan yang “sungguh amat baik,”

Tetapi kemudian manusia memberontak melawan Sang Pencipta itu, sehingga dunia yang sudah diciptakan dengan sangat baik itu, akhirnya tergelincir kembali ke dalam kekacauan. Pemberontakan manusia terhadap Tuhan itu telah membawa kutukan bagi dunia. Dan kekacauan yang ditimbulkankanya sedemikian hebat sehingga Tuhan memutuskan untuk membinasakan semua orang, kecuali Nuh dan keluarganya.

Setelah Nuh selamat dari air bah yang mulai memiliki banyak keturunan, ternyata umat manusia masih saja cenderung untuk memberontak kepada Tuhan sehingga Tuhan akhirnya memilih untuk memulai suatu pekerjaan penyelamatan melalui seorang pria yang kemudian dikenal dengan nama Abraham.

Adam

Manusia pertama yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sekaligus menjadi manusia pertama yang pernah menjalin hubungan pribadi yang sangat erat dengan Allah

Hawa

Wanita pertama yang sekaligus menjadi istri yang pertama dan ibu yang pertama. Meskipun ia dibentuk dari laki-laki, tetapi setelah itu tidak ada satu laki-lakipun yang tidak berasal dari wanita.

Nuh

Menjadi satu-satunya orang yang mengikuti suara Tuhan di tengah-tengah generasi yang tidak mengenal Allah.

Abraham (sebelumnya dikenal sebagai Abram)

Ia adalah seorang Mesopotamia yang dipilih Allah untuk menjadi sebagai bapa dari sebuah bangsa yang istimewa. Abraham melakukan perjalanan melalui tanah Kanaan, yaitu tanah yang Tuhan janjikan untuk diberikan kepada keturunan Abraham kelak. Tuhan kemudian mengadakan perjanjian (atau yang disebut juga sebagai kovenan) dengan Abraham. Dan berdasarkan kovenan itulah kisah Israel sebagai sebuah bangsa pun dimulai.

Yakub/Israel

Ia adalah cucu dari Abraham. Yakub menipu ayah dan saudara laki-lakinya, berusaha keras untuk menerima berkat khusus. Dia memiliki dua belas anak laki-laki, yang mana dua belas suku Israel menelusuri garis keturunan mereka kembali.

Yusuf

Anak kesayangan Yakub, yang suka bermimpi dan sekaligus mampu menafsirkan mimpi orang lain. Saudara-saudaranya menjualnya sebagai budak, tetapi melalui anugerah dan penetapan Tuhan, ia kemudian menjadi orang kedua paling penting di seluruh Mesir dan dipakai Tuhan untuk menyelamatkan bangsa Israel dari bahaya kelaparan.

Dalam tulisan-tulisan berikutnya kita akan membahas tentang:

  • Tema-tema penting yang dibicarakan dalam Kitab Kejadian
  • Apa tujuan Kitab Kejadian?
  • Siapa penulis dan siapa pembaca yang dituju?
  • Perkiraan waktu penulisan kitab.
  • Tempat-tempat penting yang dibicarakan
  • Ayat-ayat penting dalam Kitab Kejadian

Kiranya Tuhan memberkati kita dengan pengenalan akan Dia melalui struktur Kitab Kejadian ini dan juga melalui tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Amin

(Oleh: Izar tirta)

 

Thursday, November 18, 2021

Menentang berita kebangkitan Yesus Kristus dari kematian

Oleh: Izar tirta

Siapa sajakah yang menentang berita kebangkitan Yesus Kristus?
Bagaimana sikap orang-orang pada abad Pencerahan terhadap berita kebangkitan Kristus?
Apakah kebangkitan Kristus pasti dapat membuat setiap orang menjadi percaya?




Kebangkitan Yesus Kristus dari kematian adalah berita yang kerap kali ditentang oleh berbagai pihak. Persoalan yang muncul sehubungan dengan kebangkitan Yesus Kristus itu, biasanya berkisar tentang diterima atau ditolaknya kebangkitan Yesus Kristus sebagai suatu fakta sejarah.

Stanley J.Grenz, seorang ahli teologi dari Amerika, mengungkapkan sifat sejarah dari kebangkitan Yesus Kristus dengan cara demikian: Can we say that Jesus’ resurrection is a historical event? The tendency among theologians since the Enlightenment has been to deny the historicity of the resurrection. [Stanley J.Grenz, Theology for the Community of God (Grand Rapids Michigan: Eerdmans, 1994), 256.]

Pada umumnya kita membicarakan kebangkitan Yesus Kristus dari sisi spiritualitasnya saja. Pertanyaan yang sering diajukan misalnya: Apa kaitan antara kebangkitan Yesus Kristus dari kembatian dengan iman kita? Tentu saja pertanyaan semacam ini penting untuk kita ajukan, bukan?

Tetapi Stanley J.Grenz mencoba mengangkat kisah kebangkitan Yesus Kristus dari sisi yang lain, yaitu dari sisi ke-sejarahan peristiwa tersebut. Pertanyaan yang diajukan adalah: Apakah kebangkitan Yesus Kristus sungguh-sungguh merupakan fakta sejarah?

Dari apa yang dikatakan oleh Stanley J.Grenz kita mendapat kesan bahwa sebelum abad Pencerahan, orang tidak terlalu mempersoalkan tentang apakah kebangkitan Kristus itu merupakan fakta sejarah ataukah bukan. Orang tidak terlalu mempertanyakan hal itu karena mereka yakin bahwa hal itu memang merupakan fakta sejarah. Atau setidaknya orang pada zaman itu tidak terlalu memikirkan apakah ada gunanya jika kebangkitan Yesus Kristus itu merupakan fakta sejarah ataukah bukan.

Tetapi kemudian Grenz mengambil abad Pencerahan sebagai tolok ukur penolakan terhadap sifat historis dari kebangkitan Yesus Kristus tersebut. Mengapa demikian? Hal ini dilakukannya karena pada abad tersebut semangat penolakan terhadap sifat sejarah dari kebangkitan Kristus cukup subur terjadi di Eropa, yaitu benua yang (ironisnya) merupakan benua dimana Kekristenan justru berkembang secara luas.

Cukup mengherankan bukan? Bahwa jaman itu disebut sebagai abad Pencerahan, tetapi justru berisi orang-orang yang mata rohaninya menjadi sedemikian gelap sehingga hal yang sedemikian penting dan dahsyat seperti kebangkitan Kristus saja pun mereka tidak dapat lagi melihatnya sebagai suatu anugerah Ilahi yang harus dihargai.

Mereka tidak melihat itu sebagai karya yang besar dan berharga, yang telah dilakukan oleh Allah bagi manusia. Sebaliknya, peristiwa kebangkitan justru hanya dilihat sebagai semacam mitos atau dongeng atau sekedar kisah yang sebetulnya tidak pernah betul-betul terjadi.

Meskipun hal ini tentu saja menyedihkan bagi kita yang percaya, tetapi mungkin kita tidak perlu terlalu terkejut melihat manusia di abad Pencerahan begitu gigih menolak berita kebangkitan Yesus Kristus itu. Sebab apabila kita melihat ke dalam Alkitab sendiri, maka kita akan temukan bahwa penolakan atas kebangkitan Yesus Kristus sesungguhnya telah muncul bahkan segera setelah peristiwa itu terjadi.


Para penentang berita kebangkitan yang tercatat dalam Alkitab

Alkitab mencatat adanya orang-orang yang dengan sengaja memberitakan suatu kabar yang bertentangan dengan kabar kebangkitan Yesus Kristus. Mereka bukan sekedar tidak percaya saja, melainkan juga secara aktif memberitakan kebohongan di tengah-tengah masyarakat, yaitu bahwa pada dasarnya Yesus orang Nazaret itu tidak sungguh-sungguh bangkit dari kematian.

Sesungguhnya, para murid Kristus pun semula tidak percaya atau sangat ragu-ragu akan kebangkitan tersebut. Namun dengan berjalannya waktu para murid kemudian menjadi percaya, bahkan hingga memiliki suatu tingkat kepercayaan yang mampu membawa mereka melalui berbagai siksaan, bahkan penganiayaan hingga mati sekalipun.

Matius 28:12–15 mencatat suatu kebohongan yang dirancang oleh orang-orang yang ingin menentang berita kebangkitan Yesus Kristus itu. Matius mencatat: Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu dan berkata: "Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur. Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa." Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini.

Menurut catatan Matius, orang Yahudi sempat berunding untuk membahas bagaimana sikap mereka terhadap berita kebangkitan Kristus. Di dalam diskusi tersebut, mereka akhirnya mengambil keputusan. Diskusi untuk menghasilkan sebuah keputusan bersama, seharusnya merupakan sebuah hal yang baik. Tetapi di dalam peristiwa ini, kita melihat bahwa diskusi mereka bukan mengarah pada kesimpulan yang baik, melainkan justru menghasilkan suatu keputusan untuk melakukan perbuatan yang jahat.

Keputusan untuk memberi sejumlah besar uang adalah suatu tanda bahwa sebetulnya orang-orang Yahudi yang berdiskusi itu sudah tahu bahwa Yesus Kristus telah bangkit. Sebab jika mereka sangat-sangat yakin bahwa mayat Tuhan Yesus dicuri, maka sebagai otoritas yang berkuasa waktu itu, yang dilengkapi pula dengan kekuatan militer, seharusnya sama sekali bukan sesuatu yang menyulitkan untuk segera mencari para murid yang telah mencuri mayat Kristus.

Seharusnya mereka tidak perlu repot-repot menyogok serdadu dengan sejumlah besar uang. Seharusnya mereka hanya tinggal membuktikan saja bahwa mayat Kristus dicuri. Para murid Kristus juga sebagaimana diketahui semua masyarakat, hanyalah orang-orang sederhana yang tidak mempunyai ketrampilan seperti prajurit yang tangguh. Jika berhadapan dengan para serdadu, mereka dengan mudah dapat dikalahkan dan berita kebangkitan dengan mudah dapat dipatahkan melalui penemuan jasad Kristus. Tetapi bukan itu yang dilakukan oleh orang Yahudi.

Mereka seperti kehilangan akal, dan menemui jalan buntu terhadap berita kebangkitan yang sulit dibantah ini, sehingga jalan keluar terakhir adalah dengan menyuap dan menyebarkan berita palsu. Berdasarkan Matius 28:15 diketahui bahwa berita palsu tersebut akhirnya tersiar pula di antara orang Yahudi.

Catatan semacam ini tidak ditemukan di dalam kitab Injil lainnya. David Wenham, seorang teolog dari Inggris yang banyak mendalami Perjanjian Baru, melaporkan bahwa Injil Matius adalah Injil yang punya keunikan tertentu ketika menjelaskan adegan terakhir dalam kehidupan Yesus Kristus. Wenham mengatakan: Matthew’s account is distinctive in various ways. Dan di antara beberapa hal yang paling unik dalam Injil tersebut adalah tentang peristiwa penyuapan para penjaga kubur Yesus Kristus tersebut.

Kemudian Wenham melanjutkan: The guards are terrified but are bribed by the Jews to say that the disciples of Jesus stole the body. [David Wenham and Steve Walton, Exploring the New Testament: A Guide to the Gospels & Acts, Vol. I (Illinois: InterVarsity Press, 2001), 211.]

Wenham menyoroti sikap para penjaga yang merasa sangat ketakutan melihat peristiwa kebangkitan Yesus Kristus tersebut. Dan sulit dipungkiri bahwa rasa takut tersebut adalah rasa takut yang nyata (riil/genuine) karena melihat peristiwa menakutkan yang nyata pula. Tetapi sayangnya bukan pertobatan yang timbul di dalam hati mereka, melainkan justru ikut ambil bagian di dalam kejahatan yang lebih besar lagi, yaitu menyebarkan berita bohong.

Selain itu, Wenham juga berpendapat bahwa fakta penyuapan ini merupakan suatu bukti bahwa baik para penjaga maupun para imam dan tua-tua sebenarnya sudah mengetahui dengan pasti bukan para murid yang mencuri mayat tersebut. Mengapa? Sebab jika mereka memiliki keyakinan yang kuat berdasarkan bukti-bukti yang kokoh bahwa para murid yang mencuri mayat Yesus Kristus maka untuk apa mereka melakukan tindakan penyuapan tersebut?


Hati manusia yang keras dan jahat

Alkitab tidak menutup-nutupi keadaan jiwa manusia yang keras dan jahat. Sekalipun mereka sudah diperhadapkan pada bukti yang tak terbantahkan dari kebangkitan Yesus Kristus, hati mereka yang keras itu tetap saja tidak dapat menerimanya dan hati mereka yang jahat itu dengan sukarela mau mengerjakan hal-hal yang justru bertentangan dengan kenyataan yang ada.

Tidak jarang orang Kristen berpendapat bahwa mukjizat merupakan suatu tanda yang ampuh untuk membuat seseorang mau mempercayai Allah. Tetapi Alkitab kerap kali justru membuktikan bahwa hal yang sebaliknyalah yang terjadi.

Bangsa Israel sudah melihat tanda-tanda yang sangat ajaib ketika mereka keluar dari Mesir. Mereka melihat 10 tulah, mereka melihat laut terbelah, air yang memancar dari batu, makanan yang turun dari sorga dan lain sebagainya. Tetapi bukannya menjadi percaya, mereka justru kerap kali memberontak terhadap Allah dan merasa curiga pada-Nya.

Orang Yahudi sudah melihat bagaimana Kristus membangkitkan Lazarus dari kematian, tetapi mereka tidak menjadi percaya melainkan justru berniat untuk membunuh Yesus Kristus karena hal tersebut.

Dan kini, para prajurit sudah melihat bukti yang tak terbantahkan akan kebangkitan Kristus sendiri, tetapi hati mereka yang keras dan jahat tetap tidak percaya dan sekaligus mengajak lebih banyak lagi orang untuk tidak percaya akan hal itu.

Benarlah yang dikatakan oleh Yesus Kristus di dalam perumpamaan-Nya tentang Abraham: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati." (Lukas 16:31)

Seseorang yang memang diberi anugerah untuk percaya, tidak memerlukan tanda-tanda yang ajaib sebagai syarat untuk menjadi percaya. Melalui Firman Tuhan saja pun maka orang itu akan percaya. Tetapi bagi mereka yang tidak memperoleh anugerah pengampunan dari Allah, maka sekalipun di hadapan mereka sudah ada bukti-bukti yang sangat kuat sekalipun, mereka tetap tidak akan percaya.

Kiranya Tuhan Yesus menolong dan memberi kita anugerah untuk percaya kepada-Nya. Amin