Thursday, November 18, 2021

Menentang berita kebangkitan Yesus Kristus dari kematian

Oleh: Izar tirta

Siapa sajakah yang menentang berita kebangkitan Yesus Kristus?
Bagaimana sikap orang-orang pada abad Pencerahan terhadap berita kebangkitan Kristus?
Apakah kebangkitan Kristus pasti dapat membuat setiap orang menjadi percaya?




Kebangkitan Yesus Kristus dari kematian adalah berita yang kerap kali ditentang oleh berbagai pihak. Persoalan yang muncul sehubungan dengan kebangkitan Yesus Kristus itu, biasanya berkisar tentang diterima atau ditolaknya kebangkitan Yesus Kristus sebagai suatu fakta sejarah.

Stanley J.Grenz, seorang ahli teologi dari Amerika, mengungkapkan sifat sejarah dari kebangkitan Yesus Kristus dengan cara demikian: Can we say that Jesus’ resurrection is a historical event? The tendency among theologians since the Enlightenment has been to deny the historicity of the resurrection. [Stanley J.Grenz, Theology for the Community of God (Grand Rapids Michigan: Eerdmans, 1994), 256.]

Pada umumnya kita membicarakan kebangkitan Yesus Kristus dari sisi spiritualitasnya saja. Pertanyaan yang sering diajukan misalnya: Apa kaitan antara kebangkitan Yesus Kristus dari kembatian dengan iman kita? Tentu saja pertanyaan semacam ini penting untuk kita ajukan, bukan?

Tetapi Stanley J.Grenz mencoba mengangkat kisah kebangkitan Yesus Kristus dari sisi yang lain, yaitu dari sisi ke-sejarahan peristiwa tersebut. Pertanyaan yang diajukan adalah: Apakah kebangkitan Yesus Kristus sungguh-sungguh merupakan fakta sejarah?

Dari apa yang dikatakan oleh Stanley J.Grenz kita mendapat kesan bahwa sebelum abad Pencerahan, orang tidak terlalu mempersoalkan tentang apakah kebangkitan Kristus itu merupakan fakta sejarah ataukah bukan. Orang tidak terlalu mempertanyakan hal itu karena mereka yakin bahwa hal itu memang merupakan fakta sejarah. Atau setidaknya orang pada zaman itu tidak terlalu memikirkan apakah ada gunanya jika kebangkitan Yesus Kristus itu merupakan fakta sejarah ataukah bukan.

Tetapi kemudian Grenz mengambil abad Pencerahan sebagai tolok ukur penolakan terhadap sifat historis dari kebangkitan Yesus Kristus tersebut. Mengapa demikian? Hal ini dilakukannya karena pada abad tersebut semangat penolakan terhadap sifat sejarah dari kebangkitan Kristus cukup subur terjadi di Eropa, yaitu benua yang (ironisnya) merupakan benua dimana Kekristenan justru berkembang secara luas.

Cukup mengherankan bukan? Bahwa jaman itu disebut sebagai abad Pencerahan, tetapi justru berisi orang-orang yang mata rohaninya menjadi sedemikian gelap sehingga hal yang sedemikian penting dan dahsyat seperti kebangkitan Kristus saja pun mereka tidak dapat lagi melihatnya sebagai suatu anugerah Ilahi yang harus dihargai.

Mereka tidak melihat itu sebagai karya yang besar dan berharga, yang telah dilakukan oleh Allah bagi manusia. Sebaliknya, peristiwa kebangkitan justru hanya dilihat sebagai semacam mitos atau dongeng atau sekedar kisah yang sebetulnya tidak pernah betul-betul terjadi.

Meskipun hal ini tentu saja menyedihkan bagi kita yang percaya, tetapi mungkin kita tidak perlu terlalu terkejut melihat manusia di abad Pencerahan begitu gigih menolak berita kebangkitan Yesus Kristus itu. Sebab apabila kita melihat ke dalam Alkitab sendiri, maka kita akan temukan bahwa penolakan atas kebangkitan Yesus Kristus sesungguhnya telah muncul bahkan segera setelah peristiwa itu terjadi.


Para penentang berita kebangkitan yang tercatat dalam Alkitab

Alkitab mencatat adanya orang-orang yang dengan sengaja memberitakan suatu kabar yang bertentangan dengan kabar kebangkitan Yesus Kristus. Mereka bukan sekedar tidak percaya saja, melainkan juga secara aktif memberitakan kebohongan di tengah-tengah masyarakat, yaitu bahwa pada dasarnya Yesus orang Nazaret itu tidak sungguh-sungguh bangkit dari kematian.

Sesungguhnya, para murid Kristus pun semula tidak percaya atau sangat ragu-ragu akan kebangkitan tersebut. Namun dengan berjalannya waktu para murid kemudian menjadi percaya, bahkan hingga memiliki suatu tingkat kepercayaan yang mampu membawa mereka melalui berbagai siksaan, bahkan penganiayaan hingga mati sekalipun.

Matius 28:12–15 mencatat suatu kebohongan yang dirancang oleh orang-orang yang ingin menentang berita kebangkitan Yesus Kristus itu. Matius mencatat: Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu dan berkata: "Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur. Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa." Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini.

Menurut catatan Matius, orang Yahudi sempat berunding untuk membahas bagaimana sikap mereka terhadap berita kebangkitan Kristus. Di dalam diskusi tersebut, mereka akhirnya mengambil keputusan. Diskusi untuk menghasilkan sebuah keputusan bersama, seharusnya merupakan sebuah hal yang baik. Tetapi di dalam peristiwa ini, kita melihat bahwa diskusi mereka bukan mengarah pada kesimpulan yang baik, melainkan justru menghasilkan suatu keputusan untuk melakukan perbuatan yang jahat.

Keputusan untuk memberi sejumlah besar uang adalah suatu tanda bahwa sebetulnya orang-orang Yahudi yang berdiskusi itu sudah tahu bahwa Yesus Kristus telah bangkit. Sebab jika mereka sangat-sangat yakin bahwa mayat Tuhan Yesus dicuri, maka sebagai otoritas yang berkuasa waktu itu, yang dilengkapi pula dengan kekuatan militer, seharusnya sama sekali bukan sesuatu yang menyulitkan untuk segera mencari para murid yang telah mencuri mayat Kristus.

Seharusnya mereka tidak perlu repot-repot menyogok serdadu dengan sejumlah besar uang. Seharusnya mereka hanya tinggal membuktikan saja bahwa mayat Kristus dicuri. Para murid Kristus juga sebagaimana diketahui semua masyarakat, hanyalah orang-orang sederhana yang tidak mempunyai ketrampilan seperti prajurit yang tangguh. Jika berhadapan dengan para serdadu, mereka dengan mudah dapat dikalahkan dan berita kebangkitan dengan mudah dapat dipatahkan melalui penemuan jasad Kristus. Tetapi bukan itu yang dilakukan oleh orang Yahudi.

Mereka seperti kehilangan akal, dan menemui jalan buntu terhadap berita kebangkitan yang sulit dibantah ini, sehingga jalan keluar terakhir adalah dengan menyuap dan menyebarkan berita palsu. Berdasarkan Matius 28:15 diketahui bahwa berita palsu tersebut akhirnya tersiar pula di antara orang Yahudi.

Catatan semacam ini tidak ditemukan di dalam kitab Injil lainnya. David Wenham, seorang teolog dari Inggris yang banyak mendalami Perjanjian Baru, melaporkan bahwa Injil Matius adalah Injil yang punya keunikan tertentu ketika menjelaskan adegan terakhir dalam kehidupan Yesus Kristus. Wenham mengatakan: Matthew’s account is distinctive in various ways. Dan di antara beberapa hal yang paling unik dalam Injil tersebut adalah tentang peristiwa penyuapan para penjaga kubur Yesus Kristus tersebut.

Kemudian Wenham melanjutkan: The guards are terrified but are bribed by the Jews to say that the disciples of Jesus stole the body. [David Wenham and Steve Walton, Exploring the New Testament: A Guide to the Gospels & Acts, Vol. I (Illinois: InterVarsity Press, 2001), 211.]

Wenham menyoroti sikap para penjaga yang merasa sangat ketakutan melihat peristiwa kebangkitan Yesus Kristus tersebut. Dan sulit dipungkiri bahwa rasa takut tersebut adalah rasa takut yang nyata (riil/genuine) karena melihat peristiwa menakutkan yang nyata pula. Tetapi sayangnya bukan pertobatan yang timbul di dalam hati mereka, melainkan justru ikut ambil bagian di dalam kejahatan yang lebih besar lagi, yaitu menyebarkan berita bohong.

Selain itu, Wenham juga berpendapat bahwa fakta penyuapan ini merupakan suatu bukti bahwa baik para penjaga maupun para imam dan tua-tua sebenarnya sudah mengetahui dengan pasti bukan para murid yang mencuri mayat tersebut. Mengapa? Sebab jika mereka memiliki keyakinan yang kuat berdasarkan bukti-bukti yang kokoh bahwa para murid yang mencuri mayat Yesus Kristus maka untuk apa mereka melakukan tindakan penyuapan tersebut?


Hati manusia yang keras dan jahat

Alkitab tidak menutup-nutupi keadaan jiwa manusia yang keras dan jahat. Sekalipun mereka sudah diperhadapkan pada bukti yang tak terbantahkan dari kebangkitan Yesus Kristus, hati mereka yang keras itu tetap saja tidak dapat menerimanya dan hati mereka yang jahat itu dengan sukarela mau mengerjakan hal-hal yang justru bertentangan dengan kenyataan yang ada.

Tidak jarang orang Kristen berpendapat bahwa mukjizat merupakan suatu tanda yang ampuh untuk membuat seseorang mau mempercayai Allah. Tetapi Alkitab kerap kali justru membuktikan bahwa hal yang sebaliknyalah yang terjadi.

Bangsa Israel sudah melihat tanda-tanda yang sangat ajaib ketika mereka keluar dari Mesir. Mereka melihat 10 tulah, mereka melihat laut terbelah, air yang memancar dari batu, makanan yang turun dari sorga dan lain sebagainya. Tetapi bukannya menjadi percaya, mereka justru kerap kali memberontak terhadap Allah dan merasa curiga pada-Nya.

Orang Yahudi sudah melihat bagaimana Kristus membangkitkan Lazarus dari kematian, tetapi mereka tidak menjadi percaya melainkan justru berniat untuk membunuh Yesus Kristus karena hal tersebut.

Dan kini, para prajurit sudah melihat bukti yang tak terbantahkan akan kebangkitan Kristus sendiri, tetapi hati mereka yang keras dan jahat tetap tidak percaya dan sekaligus mengajak lebih banyak lagi orang untuk tidak percaya akan hal itu.

Benarlah yang dikatakan oleh Yesus Kristus di dalam perumpamaan-Nya tentang Abraham: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati." (Lukas 16:31)

Seseorang yang memang diberi anugerah untuk percaya, tidak memerlukan tanda-tanda yang ajaib sebagai syarat untuk menjadi percaya. Melalui Firman Tuhan saja pun maka orang itu akan percaya. Tetapi bagi mereka yang tidak memperoleh anugerah pengampunan dari Allah, maka sekalipun di hadapan mereka sudah ada bukti-bukti yang sangat kuat sekalipun, mereka tetap tidak akan percaya.

Kiranya Tuhan Yesus menolong dan memberi kita anugerah untuk percaya kepada-Nya. Amin

Tuesday, November 9, 2021

Arti penting kebangkitan Yesus Kristus dari kematian

Oleh: Izar Tirta

 

Pendahuluan

Tulisan ini merupakan satu dari tiga rangkaian tulisan yang membahas tentang kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian. Peristiwa itu begitu penting bagi iman Kristen dan sebagai orang percaya, sudah selayaknya kita terus menerus belajar dan merenungkan peristiwa itu di dalam hidup kita. Meskipun demikian, berita kebangkitan itu sendiri bukan sebuah berita yang mudah diterima oleh banyak orang. Tidak sedikit orang yang menentang kebangkitan Kristus dan mencoba membangun berbagai argumentasi untuk menyangkali hal itu.

Meskipun peristiwa kebangkitan Kristus dicatat di dalam Perjanjian Baru, namun Perjanjian Lama pun bukan sama sekali tidak pernah membicarakannya. Seperti apa pandangan Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama tentang kebangkitan dapat direnungkan melalui tulisan lain.


Arti penting kebangkitan Yesus Kristus bagi iman Kristen

Kebangkitan Yesus Kristus dari kematian adalah faktor yang amat penting bagi iman Kristen. Rasul Paulus mengatakan: “Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.” (1 Kor 15:17). Tanpa kebangkitan maka iman kita adalah iman yang kosong karena tidak memiliki objek yang jelas. Selain itu, tanpa kebangkitan status kita di hadapan Allah pun masih belum dapat diperdamaikan.

George Eldon Ladd mengomentari 1 Korintus 15:17 dengan beberapa pertanyaan, katanya: Is it not faith in the living God that is fundamental to life? Can faith in the living God be disturbed by the reality or the unreality of a single event? [George Eldon Ladd, A Theology of The New Testament (Cambridge: Lutherworth Press, 1991), 317.]

Melalui pertanyaan-pertanyaan tersebut Ladd ingin mengajak pembacanya untuk merenungkan satu pertanyaan sederhana terhadap gagasan Paulus: Mengapa kebangkitan Yesus Kristus menjadi faktor yang begitu penting sehingga seolah-olah beriman kepada Allah saja tidak cukup?

Para ahli memperlihatkan arti penting kebangkitan dari berbagai sudut pandang, bukan disebabkan karena pesan kebangkitan begitu kabur sehingga tidak dapat mencapai kata sepakat, melainkan agar cara pandang kita terhadap peristiwa kebangkitan itu dapat semakin diperkaya.

Donald Guthrie, misalnya, melihat arti penting kebangkitan dari sudut pandang para murid dengan mengatakan: The astonishing development of an exalted view of Christ in the thought of the early disciples demands an adequate explanation. That explanation can be found only in the resurrection. [Donald Guthrie, New Testament Theology (Illinois: InterVarsity Press, 1981), 375.]

Menurut Guthrie, sikap, cara pandang dan kerangka berpikir para murid Tuhan Yesus yang mula-mula telah mengalami suatu perubahan yang begitu drastis. Dan perubahan drastis ini tidak akan menemukan suatu penjelasan yang memadai jika kita mengesampingkan fakta kebangkitan. Antara kebangkitan dengan cara berpikir dan cara melayani para murid, terdapat suatu keterkaitan yang sangat kuat.

Dengan ungkapan yang senada, Leon Morris juga mengutarakan adanya hubungan antara pelayanan para murid dengan peristiwa kebangkitan. Morris mengatakan: Kisah Para Rasul menjelaskan bahwa kebangkitan Yesus menguasai pikiran para pewarta Injil Kristen yang mula-mula. [Leon Morris, Teologi Perjanjian Baru (Malang: Gandum Mas, 1996), 225.]

Bagi Morris, bukan hanya sikap, cara berpikir dan semangat melayani para murid saja yang berubah tetapi juga berbagai hal yang lain. Morris menjelaskan: Kebangkitan mengubah segala-galanya dan mengawali zaman baru. Hal ini benar, sebab Allah telah bekerja secara amat nyata dan perkasa dalam kebangkitan Kristus, sehingga tidak ada sesuatu pun yang tidak akan berubah. Kematian telah dikalahkan. Lahirlah hidup baru. Dengan demikian kebangkitan memberi kia jaminan mengenai kenyataan “zaman yang akan datang.” [Leon Morris, Teologi Perjanjian Baru (Malang: Gandum Mas, 1996), 90.]

Dapat dilihat dari ungkapan Morris, betapa luas dampak perubahan yang telah dibawa dan akan dibawa oleh fakta kebangkitan Yesus tersebut. Sementara itu, Everett Ferguson melihat arti penting kebangkitan dari kematian melalui sudut pandang para rabi Yahudi. Ferguson mengatakan: The doctrine of the resurrection became one of the essential dogmas of rabbinic orthodoxy. [Everett Ferguson, Backgrounds of Early Christianity (Grand Rapids Michigan: Eerdmans, 2003), 554.]

Meskipun demikian, Ferguson mengamati bahwa gagasan tentang natur dari kebangkitan itu sendiri cukup beragam di antara para rabi tersebut. Ferguson lebih lanjut menjelaskan: There remained varying ideas about the nature of the resurrection body. [Everett Ferguson, Backgrounds of Early Christianity (Grand Rapids Michigan: Eerdmans, 2003), 554.]

Di sisi lain, Stanley J.Grenz membahas arti penting kebangkitan dari sudut pandang ke-Ilahi-an Yesus. Grenz mengatakan: The future orientation of Jesus’ claim to uniqueness leads us to another possible historical foundation on which to ground the Christian affirmation of Jesus’ deity, namely his resurrection. [Stanley J.Grenz, Theology for the Community of God (Grand Rapids Michigan: Eerdmans, 1994), 256.]. Menurut Grenz, kebangkitan Yesus merupakan suatu keunikan yang penting karena melalui keunikan yang bersifat historis tersebut, sifat Ilahi yang dimiliki Yesus menjadi semakin nyata. Dan berkat keunikan ini pula, terbentuklah suatu dasar pemahaman dan keyakinan orang Kristen mula-mula tentang jati diri Yesus yang mereka beritakan. Grenz mengatakan demikian: The resurrection formed the foundation for the early Christian understanding of the identity of Jesus. [Stanley J.Grenz, Theology for the Community of God (Grand Rapids Michigan: Eerdmans, 1994), 259.]

Apa yang dikatakan oleh Grenz mengenai hubungan antara kebangkitan dan jati diri Yesus sejalan dengan pendapat Guthrie. Mengenai hubungan tersebut Guthrie menjelaskan: The major significance of the resurrection is the contribution it makes to our understanding of the person and work of Christ. [Donald Guthrie, New Testament Theology, 390.] Dalam hal ini Gutrie menghubungkan kebangkitan bukan hanya dengan pribadi Yesus Kristus tetapi juga dengan pekerjaan-Nya.

Dari berbagai pendapat ini, semakin jelaslah bagi kita bahwa kebangkitan itu memiliki arti penting bagi iman kita sehingga patut dibicarakan dan didiskusikan secara terus menerus. Guthrie melihat dari sudut pandang perubahan para murid sedangkan Leon Morris melihat dari sudut pandang perubahan yang lebih besar, yaitu perubahan menuju zaman yang baru. Everett Ferguson melihat dari sudut pandang para rabi sementara Stanley Grenz melihat dari sudut pandang Pribadi Yesus Kristus serta pekerjaan-Nya.

Kembali kepada beberapa pertanyaan yang diajukan George Eldon Ladd pada awal tulisan ini, ia sendiri mempunyai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ladd mengatakan: If Christ is not risen, faith is a futile thing. The reason for this is not obscure. The God who is worshipped in the Christian faith is not the product of that faith nor the creation of theologians or philosophers. He is not a God who has been invented or discovered by men. He is the God who has taken the initiative in sepaking to men, in revealing himself in a series of redemptive events reaching back to the deliverance of Israel from Egypt, and beyond. God did not make himself known through a system of teaching nor a theology nor a book, but through a series of events recorded in the Bible. The coming of Jesus of Nazareth was the climax of these series of redemptive events; and his resurrection is the event that validates all that came before. If Christ is not risen from the dead, the long course of God’s redemptive acts to save his people ends in a dead-end street, in a tomb. If the resurrection of Christ is not reality, then we have no assurance that God is the living God, for death has the last word. Faith is futile because the object of that faith has not vindicated himself as the Lord of life. [George Eldon Ladd, A Theology of the New Testament, 318.]

Melalui perkataannya itu, Ladd ingin menegaskan bahwa tidak cukup bagi siapapun untuk hidup semata-mata beriman pada satu pribadi Allah tanpa menghiraukan fakta kebangkitan Yesus Kristus. Iman kepada Allah tidak mungkin lepas dari iman kepada fakta bahwa Yesus Kristus telah bangkit dari kematian.

Meskipun demikian pentingnya arti kebangkitan itu, persoalan demi persoalan terus membayangi topik tersebut. Mulai sejak terjadinya peristiwa kebangkitan itu sampai hari ini, selalu ada saja pihak-pihak yang ingin menyangkali kebangkitan Yesus Kristus. Seperti apakah bentuk-bentuk penyangkalan terhadap kebangkitan Yesus Kristus dan bagaimana penulis Perjanjian Baru sendiri memaknai kebangkitan Kristus sebagai suatu berita yang penting bagi para pembacanya akan saya bahas dalam tulisan yang lain (Klik disini)


Kesimpulan

Kebangkitan Yesus Kristus jelas sekali merupakan sesuatu aspek yang sangat penting di dalam iman Kristen. Dan kebangkitan yang dimaksud oleh Alkitab, bukanlah suatu kebangkitan spiritual semata-mata di dalam diri para murid Tuhan melainkan sesuatu yang secara historis sungguh-sungguh telah terjadi.

Kebangkitan Yesus Kristus melahirkan iman para murid dan iman para murid melahirkan gereja. Sehingga kehidupan gereja saat ini tidak dapat lepas dari fakta historis kebangkitan Yesus Kristus.

Berbagai pertentangan mengenai kebangkitan itu sudah dikemukakan sejak pertama kali peristiwa itu terjadi, sebagaimana yang telah dibahas dalam tulisan ini, hingga abad Pencerahan dan bahkan sampai abad Postmodern sekarang ini. Tetapi tidak satupun dari tentangan itu yang pada akhirnya menemukan keberhasilan. Satu persatu keraguan dan pertentangan terhadap kebangkitan Yesus Kristus dapat dibungkamkan oleh kebenaran fakta kebangkitan itu sendiri.

Kegagalan para penentang dari segala zaman itu terletak pada sikap mereka yang mengabaikan begitu saja fakta-fakta yang terurai di dalam laporan pandangan mata para penulis Injil. Para penentang ini kemudian mengembangkan sendiri paham atau paradigma yang mereka anggap paling benar. Dan karena isi dari penentangan mereka sendiri hanya dikemas oleh suatu paradigma dan bukan didasarkan pada fakta-fakta yang kokoh, maka pada akhirnya tentangan mereka itu akan pupus sendiri dihadapan kebenaran fakta-fakta sejarah.

Sebagaimana yang telah dievaluasi dalam bagian awal tulisan ini, isi dari tentangan yang diajukan dari zaman ke zaman adalah bahwa kebangkitan Yesus Kristus tidak terjadi secara historis. Model tentangannya dapat berbeda-beda, kemasan yang dipakai untuk mengajukan tentangan juga dapat berbeda, tetapi intinya adalah sama. Berbicara mengenai aspek sejarah suatu peristiwa, seperti kebangkitan Yesus misalnya, Wolfhart Pannenberg mengemukakan pandangannya demikian: Historicity does not necessarily mean that what is said to have taken place historically must be like other known events. The claim to historicity that is inseparable from the assertion of the facticity of an event simply involves the fact that it happened at a specific time. [Wolfhart Pannenberg, Systematic Theology, Vol 2., trans Geoffrey W.Bromiley (Grand Rapids Michigan: Eerdmans Publishing Company, 1991), 360.]

Dalam pandangan Pannenberg, kebangkitan Yesus Kristus adalah peristiwa sejarah, sekalipun tidak atau belum ditemukan peristiwa lain yang serupa dengan itu. Pannenberg juga mengingatkan bahwa sejarah yang sedang berlangsung ini tidak dapat dijadikan sebagai ukuran terhadap nyata atau tidak nyatanya suatu peristiwa di masa lalu. Sebab masih selalu ada kemungkinan bahwa apa yang terjadi di masa lalu, akan terjadi pula secara nyata di masa mendatang.

Aspek eskatologis dari sejarah tidak dapat dikesampingkan begitu saja. Hubungan antara kebangkitan Yesus Kristus, sifat historis dan eskatologis diterangkan oleh Pannenberg demikian: In the case of the resurrection of Jesus, all Christians must realize that the facticity of the event will be contested right up to the eschatological consummation of the world because its uniqueness transcends an understanding of reality that is oriented only to this passing world and because the new reality that has come in the resurrection of Jesus has not yet universally and definitevely manifested itself. Nevertheless, Christian faith maintains that the eschatological life of the resurrection of the dead has already become an event in the crucified Jesus. [Wolfhart Pannenberg, Systematic Theology, Vol 2., trans Geoffrey W.Bromiley (Grand Rapids Michigan: Eerdmans Publishing Company, 1991), 361.]

Berhasil atau tidaknya seseorang dalam merangkul berita kebangkitan Yesus Kristus sebagai sesuatu yang historis amat tergantung pada pengertian awal seseorang terhadap apa yang dimaksud dengan realitas. Pannenberg mengatakan: Our judgment regarding the historicity of the resurrection of Jesus depends not only on examining the individual data but also on our understanding of reality, of what we regad as possible or impossible prior to any evaluation of the details. In this regard Paul is right that if we donot think the dead can rise in any circumstances, then we cannot regard the resurrection of jesus as a fact, no matter how strong the evidence may be that supports it. We must concede, however, that a judgment of this type rests on a prior dogmatic decision and does not deserve to be called critical. [Wolfhart Pannenberg, Systematic Theology, Vol 2., trans Geoffrey W.Bromiley (Grand Rapids Michigan: Eerdmans Publishing Company, 1991), 362.]

Jika Pannenberg lebih cenderung membuat antisipasi terhadap dasar filosofis para penentang kebangkitan Yesus. Stanley J.Grenz melakukan antisipasi yang bersifat lebih teknis yaitu menelanjangi satu persatu isi dari tentangan terhadap kebangkitan. Terhadap berbagai teori anti-kebangkitan yang dibangun untuk menjelaskan kubur yang kosong, Grenz menjelaskan: The appeal to the empty tomb is controversial. Critics offer several other explanations for this phenomenon. Some suggest that the women being strangers in the city, went to the wrong tomb. In response, however, we note that many other persons, including the disciples, viewed the same tomb; it seems unlikely that so many would make the same mistake concerning where Jesus’ body had been laid. An ancient explanation is that the disciples of Jesus stole his body. This alternative seems unlikely insofar as the persons who purportedly perpetrated such a hoax were subsequently willing to die as martyrs for their declaration that Jesus was risen. The suggestion that the Jerusalem authorities took the body is even less plausible, for these same authorities could then have squelched the entire Christian movement by merely producing the body when the story of Jesus’ resurrection began to circulate in the city. Since the Enlightenment the theory that Jesus did not actually die but merely went into a swoom has repeatedly gained adherents. However, the unlikelihood that Jesus could even have survived the ordeal of the final hours of Passion Week, let alone have given the impression that he had conquered death, makes the swoon theory border on the incredible. [Stanley J.Grenz, Theology for the Community of God, 258.]

Terhadap berbagai teori anti-kebangkitan yang dibangun untuk menjelaskan penampakan Yesus setelah kebangkitan, Grenz menjelaskan: Some suggest that the supposed appearances were fabrication. But the strength of this proposal is diminished by the appeal to living witnesses found in what may be the earliest assertion of the resurrection, that of Paul (1 Cor 15:3-8). Equally unsatisfying is the suggestion that the appearances were hallucination or subjective visions. The appearances of Jesus as described by the witnesses do not occur in the kinds of situations that are conducive to hallucination, namely, a strong inward desire or a predisposing outward setting. On the contrary, the followers of Jesus saw no hope of seeing Jesus again after his crushing death, and the setting of the appearances were varied in location and in time of day. Nor were these experiences merely subjective visions, for they were apprehended by several persons at the same time. [Stanley J.Grenz, Theology for the Community of God, 258.] 

Kebangkitan dari kematian bukanlah sesuatu yang hanya terjadi pada Yesus Kristus saja, Alkitab Perjanjian Baru saja setidaknya mencatat seorang bernama Lazarus yang bangkit dari kematian dan para hari Yesus Kristus mati di kayu salib, Alkitab juga menyaksikan bahwa ada banyak orang yang bangkit dari mati. Keunikan dari kebangkitan Yesus Kristus adalah bahwa Dia telah mengatakan segala sesuatu yang akan terjadi pada diri-Nya dan secara sukses mengerjakan semua yang dikatakan-Nya, termasuk perihal kematian dan kebangkitan ini.

Gabungan antara klaim Pribadi untuk bangkit dari kematian dan kemampuan dalam melaksanakan kebangkitan itulah yang menjadi bukti kokoh bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi Manusia.

Kiranya melalui tulisan ini keyakinan kita terhadap Yesus Kristus yang telah mati untuk menebus dosa dan bangkit untuk memberi hidup yang kekal, dapat semakin diperkaya.


Saturday, November 6, 2021

Tema-tema penting dalam Perjanjian Baru

Oleh: izar tirta


Tulisan ini merupakan sajian akan tema-tema yang sering dibicarakan di dalam kitab-kitab Perjanjian Baru. Tentu saja ada begitu banyak hal penting yang dibicarakan di dalam Perjanjian Baru tersebut, dan setiap orang dapat beragumentasi tentang mana yang penting dan mana yang kurang penting. Tetapi tulisan ini tidak dimaksudkan untuk masuk ke dalam argumentasi semacam itu.

Tulisan ini hanya mencoba menyajikan beberapa tema yang memiliki kaitan erat dengan hal-hal yang dibicarakan di dalam Perjanjian Baru, yaitu misalnya:

  • Kerajaan Allah dan Pelayanan Yesus Kristus.
  • Injil Kerajaan Allah
  • Kebangkitan Yesus Kristus
  • Pemberita Pertama
  • Rasul Paulus
  • Rasul Petrus
  • Penulis Surat Ibrani
  • Rasul Yohanes

Dalam kesempatan lain mungkin kita akan membicarakan tema-tema seperti doktrin Allah, manusia dan dunianya, Kristologi, Misi Kristus, Roh Kudus, kehidupan kristen, gereja dan hal-hal yang berkaitan dengan masa yang akan datang, atau pun pendekatan Perjanjian Baru terhadap etika. [Baca juga: Peran penting para saksi mata di dalam pemberitaan Injil. Klik disini.]


Kerajaan Allah dan Pelayanan Yesus Kristus

Berita Kerajaan Allah diakui oleh banyak ahli Perjanjian Baru sebagai berita yang cukup dominan di dalam Teologi Perjanjian Baru.

Donald Guthrie seorang ahli Perjanjian Baru melihat arti penting dari tema Kerajaan Allah ini dengan mengatakan: One of the most prominent features of the teaching of Jesus in the synoptics was his emphasis on the kingdom of God. This teaching must be considered as a major contribution to our understanding of the mission of Jesus.[Donald Guthrie, New Testament Theology (Illinois: InterVarsity Press, 1981), 409]

Penulis buku Teologi Perjanjian Baru lainnya yang cukup baru (bukunya diterbitkan pada tahun 2008, jika dibandingkan dengan Guthrie yang pertama dipublikasikan tahun 1981), bernama Thomas R.Schreiner juga melihat tema Kerajaan Allah sebagai tema yang penting. Schreiner menempatkan tema itu di bagian awal dari bukunya dan ia berkomentar demikian: We begin with the kingdom of God, which certainly is of prime importance in NT theology. [Thomas R.Schreiner, New Testament Theology: Magnifying God in Christ (Michigan: Baker Academic, 2008), 41.]

Berita tentang Kerajaan Allah memiliki kaitan yang erat sekali dengan Tuhan Yesus dan Pelayanan-Nya. Beberapa peristiwa yang menguatkan dugaan tersebut dapat dilihat misalnya pada waktu pembaptisan Yesus Kristus. Dalam pembaptisan itu ada dua hal yang memberi indikasi bahwa Pribadi dan Pelayanan-Nya memiliki kaitan yang erat dengan Kerajaan Allah.

Ada ungkapan yang muncul ketika Tuhan Yesus dibaptis, ungkapan ini tidak dapat didengar oleh siapapun kecuali murid-murid-Nya sendiri dan ungkapan ini disebut sebagai suara Allah yang berbunyi: “Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepada-Mu-lah Aku berkenan.” Ungkapan ini merupakan kutipan yang berasal dari Mazmur 2:7 dan Yesaya 42:1. Uniknya istilah yang dipakai dalam Mazmur dan Yesaya tersebut adalah istilah yang digunakan untuk penobatan Raja Mesianis Israel (Mazmur 2:7) dan untuk pentahbisan Hamba Tuhan (Yesaya 42:1).

Hal lain yang menguatkan pesan Kerajaan Allah dalam Injil Markus adalah laporan tentang turunnya Roh Kudus. Dalam Alkitab, Roh Kudus adalah kuasa yang menciptakan, yang mahakuasa, kuasa di mana Allah sendiri bertindak. Oleh sebab itu turunnya Roh berarti dilengkapinya Yesus dengan kuasa Allah. [Baca juga: Bersaksi di dalam kuasa Roh Kudus. Klik disini.]

Kata yang dipakai oleh Yesus untuk membuka pelayanan-Nya di Galilea: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat,” lebih cocok jika dikaitkan dengan gambaran tentang seorang Anak Allah yang sedang mempersiapkan jemaat-Nya untuk bertempur melawan kerajaan Iblis daripada gambaran seorang guru biasa yang sarat akan ajaran hikmat dan kebaikan. Dalam gambaran tersebut jelas sekali bahwa Kerajaan Allah sedang dalam status peperangan dan Tuhan Yesus adalah pemimpin serangan itu.

Gambaran yang lain tentang hubungan antara Tuhan Yesus dengan Kerajaan Allah dapat ditemukan dalam Mrk 8:27-33, dimana Tuhan mencari kepastian apakah murid-murid-Nya mengerti pokok perbantahan antara diri-Nya dengan musuh-musuh-Nya. Jawaban Petrus mengenai Mesias dibenarkan oleh Kristus tetapi Ia melanjutkan dengan informasi bahwa Mesias harus menderita, lalu mati, sebelum akhirnya menang.

Istilah yang dipakai Tuhan Yesus adalah istilah yang unik. Istilah ini pernah dianggap sebagai ungkapan manusia biasa, tetapi kini tidak lagi demikian. Gelar ini adalah gambaran yang muncul dalam Daniel 7:13, yaitu tentang seorang tokoh misterius yang menerima suatu kerajaan dari Allah dan yang ditentukan untuk memerintah sebagaimana Allah sendiri memerintah. Yesus Kristus menyamakan diri-Nya dengan tokoh yang Agung ini; namun Ia juga serentak menekankan bahwa penderitan dan kematian menantikan-Nya sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah.

Bagi Petrus dan juga orang Yahudi pada umumnya ketika itu, gagasan bahwa Mesias harus menderita sungguh merupakan gagasan yang tidak masuk akal. Tetapi kemudian Petrus ditegur dengan sangat keras oleh Tuhan Yesus karena telah membayangkan ke-Mesias-an menurut pandangan manusia, bukan menurut pandangan Allah.

Dalam minggu terakhir-Nya, Tuhan Yesus mengajak para murid-Nya untuk makan malam bersama-sama. Perlu diingat bahwa perumpamaan makan malam itu pernah dipakai Tuhan kita sebagai lambang dari Kerajaan Allah. Lagipula makan malam yang khusus ini diadakan pada malam hari Paskah atau bahkan mungkin merupakan Paskah itu sendiri.

Dalam momen-momen terakhir-Nya, Tuhan Yesus berdiri di hadapan Imam Besar dan ditanyai tentang jatidiri-Nya sebagai Mesias. Tuhan Yesus mengakui diri-Nya sebagai Mesias dan menambahkan dengan kata-kata: “dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang dengan awan-awan di langit.” Istilah yang dipakai oleh Tuhan Yesus itu diambil dari Daniel 7:13-14 ditambah dengan perkataan yang berasal dari Mazmur 110:1.

Setidaknya ada dua kesimpulan penting yang dapat ditarik dari fakta-fakta di atas, yaitu:

Pertama, riwayat Yesus Kristus tidak dapat diceritakan tanpa memasukkan teologi, terutama eskatologi ke dalamnya. Tanpa adanya makna teologis tertentu, maka kisah kehidupan-Nya agak sulit dipahami dari sisi Kerajaan-Nya. Mungkin kunci dalam memahami aspek teologis dari sifat ke-Raja-an Kristus di dalam Pernjanian Baru dapat kita gali dari nyanyian tentang Hamba Yahwe dalam kitab Yesaya dan dalam gambaran dari Anak Manusia dalam Kitab Daniel 7.

Kedua, Tuhan Yesus sendiri meyakini dan menyadari sepenuhnya bahwa Kerajaan Allah memang sungguh-sungguh hadir di dalam diri-Nya dan juga di dalam pelayanan-Nya itu. Tuhan kita sungguh mengerti bahwa pelayanan-Nya sebagai Mesias merupakan penggenapan dari nubuat-nubuatan para nabi di Perjanjian Lama.


Injil Kerajaan Allah

Ada orang yang memahami Kerajaan Allah  sebagai sebuah negeri yang hanya ada di dalam angan-angan manusia atau sebuah metafora dari suatu komunitas yang harus didirikan oleh manusia berdasarkan ajaran-ajaran Kristus. Ada pula yang menganggap Kerajaan Allah itu sebagai semacam proses Alkitabiah yang setara dengan proses evolusi. Hal ini tidak benar karena penulis Alkitab tidak membayangkan suatu proses evolusi dari dalam sejarah melainkan sebagai suatu campur tangan (intervensi) langsung Allah dari luar sejarah.

Sementara itu, ada kecenderungan lain yang dimulai oleh Agustinus, yaitu kecenderungan untuk menyamakan kerajaan itu dengan gereja. Ini juga kurang tepat, sebab anggapan seperti ini telah mencampuradukkan pemerintahan Allah dengan orang-orang yang hidup di bawahnya. Begitu juga dengan pandangan liberal mengenai kerajaan itu sebagai pemerintahan Allah di dalam hati manusia atau ketaatan manusia pada kehendak Allah. Hal ini mengacaukan respons (jawaban) manusia dengan kegiatan Allah.

Pemerintahan Allah itu ada, terlepas dari bagaimana manusia memberi respons. Dan Kerajaan itu sungguh-sungguh menuntut ketaatan manusia. Entah mereka suka atau tidak suka, entah mereka menerima atau menolak.

Untuk mengerti hal itu, kita perlu ingat bahwa ungkapan Kerajaan Allah sendiri berarti: pemerintahan rajani Allah atau pemerintahan Allah sebagai Raja dan di dalamnya tercakup pengertian Alkitabiah tentang Allah, Allah yang bertindak, yang karya-Nya ada dalam sejarah dan yang sedang melaksanakan maksud-Nya yang agung ke arah suatu tujuan yang sudah ditentukan.

Kerajaan Alah itu bersifat dinamis dan kita dapat melihat kerajaan itu dari aspek perbuatan Allah di dalam sejarah. Kerajaan Allah itu juga bersifat eskatologis, yaitu pemerintahan Allah yang menjadi semakin nyata di dalam dunia yang akan datang.

Kerajaan Allah adalah nama lain dari zaman Mesianik dan dapat diartikan pula sebagai seluruh karya keselamatan yang datang dari Allah. Kerajaan itu adalah benih perbuatan Allah, bukan perbuatan manusia. Allah yang memerintah dan menebus dan pemeritahan-Nya itu sungguh-sungguh berlaku dalam hidup manusia. Allah adalah Dia yang mengunjungi dan menebus umat-Nya.

Tema yang menguasai pemberitaan Kristus adalah Kerajaan Allah, dan raja dalam kerajaan-Nya itu adalah seorang Bapa. Istilah Bapa bukan istilah yang dipakai oleh orang-orang Yahudi di zaman itu untuk menyebut Allah. Tetapi Yesus Kristus menyebut Allah sebagai Abba, yaitu istilah yang dipakai oleh anak-anak Yahudi dalam memanggil ayah-ayah duniawi mereka. Jadi tidak ada seorang Yahudi yang saleh akan berani memakai istilah itu kepada Allah yang Mahakudus, Tuhan Yesus yang pertama menggunakannya.

Tuhan Yesus juga tidak pernah memberitakan tentang Allah sebagai Bapa kepada orang banyak. Teologi ke-Bapa-an Allah bukanlah sesuatu yang lazim. Ia hanya berbicara tentang Allah sebagai Bapa kepada murid-murid-Nya secara khusus. Tuhan Yesus tidak pernah mengajarkan ke-bapa-an yang universal dari Allah. Tetapi Ia berbicara mengenai Allah sebagai Bapa-Nya sendiri dan mengajarkan bahwa orang-orang lain boleh menjadi anak-anak-Nya. Tetapi untuk hak istimewa ini mereka harus datang kepada Yesus Kristus. Mereka bukan anak-anak Allah secara alamiah, melainkan mereka dapat menjadi anak-Nya oleh karena rahmat-Nya melalui Sang Mesias.

Etika Tuhan Yesus yang diringkaskan dalam Khotbah di Bukit adalah etika yang berlaku di dalam Kerajaan Allah. Khotbah ini menurut pendapat umum adalah ungapan terluhur dalam sejarah mengenai kehidupan moral. Keenam antitesis yang menyusul dalam khotbah itu membentangkan dengan jelas bagaimana cita-cita moral kerajaan itu. Kehendak Allah bagi Israel baru sebagaimana ditafsirkan oleh Yesus Kristus, meminta kebenaran di dalam batin  dan menuntut moralitas yang mendarah daging. Cita-cita itu mencengangkan kita, dan sekaligus juga membuat para murid Tuhan tercengang karena tingginya tuntutan-tuntutan tersebut.

Namun kita bersyukur bahwa keselamatan kita tidak didasarkan oleh keberhasilan atau kesempurnaan kita dalam memenuhi tuntutan hukum Ilahi tersebut, sebab Allah yang memberikan hukum itu bukanlah Pribadi yang ingin mencekik leher kita melalui hukum tersebut, melainkan Ia adalah Abba, seorang Bapa. Dan kita diselamatkan bukan oleh hukum undang-undang tersebut melainkan oleh kasih karunia-Nya.

Kasih merupakan kunci utama bagi etika dan moralitas Kerajaan Allah. Dengan kasih, Tuhan Yesus tidak memaksudkan semacam emosi yang sentimental; juga tidak dimaksudkan-Nya bahwa kita haru mengambil keputusan untuk menyukai orang-orang tertentu. Kasih, sebagaimana diartikan Tuhan dalam perkataan dan permupamaan, berarti menaruh perhatian terhadap (mengindahkan), semua orang yang kita jumpai di jalan hidup kita, bukan hanya orang yang layak dan berjasa, melainkan semua yang memerlukan bantuan kita, bahkan musuh-musuh sekalipun. Karena raja dan kerajaan itu adalah seorang Bapa yang mengindahkan juga orang yang tak mengenai ampun dan terima kasih, Bapa yang tabiat paling dalam-Nya adalah kasih.

Kerajaan Allah melibatkan salib. Ketika Tuhan Yesus memulai pelayanan-Nya di Galilea, Ia mengumumkan “Pemerintahan Allah telah mulai.” Menjelang akhir pelayanan itu, kata-Nya: “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Sebagaimana ditafsirkan Tuhan Yesus sendiri, seluruh jalan hidup-Nya di bumi ini adalah krisis bahwa Kerajaan Allah yang sudah lama dinantikan itu telah datang kepada manusia. Krisis itu mulai ketika Ia memulai pelayanan-Nya; dan krisis itu selesai, ketika Ia kembali dari maut. Hal itu sudah terjadi. Orang tidak usah lagi berkata: “Anak Manusia akan datang”; Ia sudah datang; Ia duduk di atas takhta kemuliaan-Nya, Raja yang tidak kelihatan atas umat manusia. Itulah iman Perjanjian Baru.

Sifat kedatangan Tuhan Yesus merupakan penggenapan Kerajaan Allah dan memiliki beberapa ciri: Pertama, kedatangan itu harus berarti kemenangan terakhir bagi Allah atas kerajaan kejahatan. Kedua, kedatangan itu harus merupakan saat di mana waktu dan segala sesuatu dalam sejarah yang berkenan kepada Allah akan diangkat ke dalam kekekalan. Ketiga, kedatangan itu harus berarti bahwa Allah menghadapi manusia di dalam Kristus.


Kebangkitan

Setiap orang Kristen yakin dan percaya bahwa Allah membangkitkan Yesus Kristus dari antara orang mati. Bukan hanya Yesaya yang meramalkan kenbangkitan bagi Hamba Tuhan melainkan juga kitab-kitab Injil pun memberi kesaksian bahwa Yesus Kristus telah melihat dari semula bahwa sesudah maut akan datang kemenangan dan hidup.

Sudah sering dikatakan bahwa bukti utama kebangkitan itu adalah adanya Gereja Kristen. Bagaimana para pengikut yang ketakutan, para penigkut seorang Rabi yang disalibkan dapat menjadi inti suatu gereja yang militan, suatu gereja yang telah bertahan selama sembilan belas abad? Perjanjian Baru mendasarkan perubahan yang mengherankan ini pada murid Kristus dengan keyakinan mereka bahwa Allah sudah membangkitkan Guru mereka dari antara orang mati dan bahwa mereka sudah melihat Dia hidup dan sudah berbicara dengan-Nya. Ia selalu muncul kepada orang-orang milik-Nya dan dengan cara yang sedemikian rupa, hingga Ia memasuki hubungan pribadi dengan mereka.

Di samping adanya gereja, dapat pula kita tambahkan penetapan hari Tuhan sebagai bukti dari kebangkitan (Wahyu 1:10; Kis 20:7; 1 Kor 16:2). Mengapa orang-orang Kristen mula-mula itu yang sebagian besar adalah orang-orang Yahudi, mengganti hari kudus mereka dari hari Sabtu menjadi hari Minggu? Mereka berbuat demikian karena pada hari itulah Yesus Kristus bangkit dari antara orang mati.

Akhirnya, kita harus memperhatikan tulisan-tulisan Perjanjian Baru sendiri. Kepercayaan kepada Kristus yang telah bangkit itu memenuhi halaman-halaman Perjanjian Baru. Teori yang mengatakan bahwa mayat Kristus dicuri atau disembunyikan tentu saja tidak masuk akal dan tidak tahan uji.

Sebab seandainya orang-orang Roma atau orang-orang Yahudi yang memindahkan mayat itu dengan diam-diam maka mudah saja untuk membantah pengakuan orang Kristen dengan mengeluarkan mayat itu, bukan? Tetapi mereka tidak dapat. Juga mustahil bahwa para murid sendiri menyembunyikan mayat-Nya lalu mereka keluar untuk memberitakan bahwa Dia telah bangkit dari antara orang-orang mati.

Jika kita terima bahwa kubur itu kosong maka satu dari dua penjelasan terbuka bagi kita. Entah kita katakan bahwa Tuhan Yesus bangkit dari kubur itu dengan tubuh-Nya yang dulu. Atau boleh juga kita setujui bahwa tubuh jasmnai Tuhan kita diubah di dalam kubur mejadi tubuh rohani, suatu tubuh yang tidak lagi takluk pada batas-batas biasa yang disebabkan oleh ruang dan waktu.

Apakah arti kebangkitan bagi orang-orang Kristen pertama? Dan peristiwa macam apakah yang mendasari pemberitaan para rasul?

Kebangkitan berarti pembelaan atas kebenaran. Sebab riwayat Tuhan Yesus terakhir di kayu salib adalah tragedi yang hebat dan merupakan bukti bahwa tidak ada ketertiban rohani dan akal budi dalam alam semesta. Selain itu kebangkitan juga menandakan kekalahan maut.


Pemberita pertama

Satu generasi sebelum Injil Markus diterbitkan dan sekurang-kurangnya lima belas tahun sebelum Paulus menulis suratnya yang pertama, para rasul telah giat dalam menyampaikan berita keselamatan, yaitu berita Injil yang berakar dalam kisah hidup yang diberitakan oleh Yesus.

Peristiwa Pentakosta merupakan bukti nyata walaupun Tuhan sudah ditinggikan di dalam sorga namun Ia masih ada bersama-sama mereka dengan perantaran Roh dan tujuan-tujuan yang untuknya Ia hidup dan mati, sekarang sedang dicapai oleh kuasa baru yang asing ini, yang sedang berkarya di tengah-tengah kita. Apa yang kita temukan di dalam fasal-fasal pertama Kisah Para Rasul ialah orang-orang yang tiba-tiba sadar akan suatu kuasa baru yang dilepaskan ke dalam dunia dan ke dalam diri mereka.

Roh Kudus adalah suatu pengalaman yang tidak dapat dipisahkan dari Kristus, sebab pengalaman roh merupakan tanda bahwa Kristus hadir di tengah-tengah mereka, sambil menguatkan mereka untuk tugas misioner mereka.

Persekutuan Roh Kudus ialah gereja. Tentu saja Gereja Yerusalem-lah yang disebut ekklesia dalam fasal-fasal pertama kisah rasul. Namun hubungan dengan tempat tertentu bukanlah hal yang primer karena dalam Kisah 9:31 kita dengar tentang gereja-gereja di seluruh Yudea, Galile dan Samari. Dengan kata lain ekklesia itu mula-mula bertempat di Yerusalem, namun dengan penyebaran Injil, timbullkan paham tentang ekklesia setempat sebagai suatu mikrokosmos atau sebagai pertumbuhan dari ekklesia yang satu ini.

Kepala ekklesia adalah Tuhan Yesus yang di dalam nama-Nya mereka membaptiskan dan yang pengakuan akan ketuhanan Yesus merupakan pengakuan iman Kristen tertua. Umat Allah yang baru itu berpendapat bahwa mereka mempunyai suatu misi yang melihat jauh ke seberang melampaui batas-batas Yudaisme.


Rasul Paulus

Paulus memiliki dua penuntun yang membawanya kepada Kristus, Yahudi dan Yunani, sebab ia belajar Yudaisme dalam lingkungan hellenistis. Pengaruh Yahudi misalnya dalam hal pengkauannya sebagai orang Yahudi asli, ia termasuk dalam sekte orang Farisi, telah mendapat didikan rabinis, antitesisnya mengenai roh dan daging berasal dari kepercayaan Yahudi, istilah-istilah unik yang dipakai seperti “Adam yang terakhir” dan “Taurat yang baru.”

Pengaruh Hellenistis didapat karena ia membaca kitab Suci dalam terjemahan Yunani Septuaginta, menulis surat dalam bahasa Yunani koine, menghabiskan sebagian besar waktu pelayanannya di negeri-negeri dengan kebudayaan Yunani.

Injil Kristus sebagaimana yang dipahami Paulus adalah Kabar Gembira tentang keselamatan yang telah disediakan Allah bagi orang-orang berdosa melalui inkarnasi, kematian, kebangkitan dan kuasa hidup Kristus dan yang kini ditawarkan Allah kepada semua orang yang percaya.

Kata keselamatan menandakan kesejahteraan dalam segala bentuknya dan keutuhan tubuh sampai pada ideal tertinggi yakni kesehatan rohani. Keselamatan adalah situasi yang dicari-cari semua yang bersungguh-sungguh pada zaman Paulus.

Injil Paulus berpusat pada Kristus. Segalanya berpusat dalam Dia. Tetapi ini tidak berarti bahwa bagi Paulus Kristus telah merampas tempat Allah. Sebaliknya, Allah yang menghadapi manusia di dalam Kritus, Allah yang pernah bertindak dalam penciptaan. Menurut pandangan Paulus Allah ini dkenal sebagai Juruselamat hanya di dalam Kristus karena di dalam Dia Allah mendekati orang-orang berdosa dan mengulurkan tangan-Nya untuk menolong. Kristus ini bukanlah tokoh sejarah saja, tetapi kehadiran yang hidup dan yang menyelamatkan yang mendiami hati orang percaya melalui kuasa Roh Kudus.


Petrus

Petrus menggambarkan permulaan kehidupan Kristen sebagai suatu kelahiran baru yang diberikan oleh Allah kepada manusia melalui Firman-Nya. Iman, bagi Petrus, adalah percaya kepada Allah melalui Yesus Kristus sebagai Pengantara. Kelahiran baru ialah kelahiran ke dalam kehidupan baru gereja. Walaupun Petrus tidak pernah memakai kata ekklesia namun Ia yakin bahwa greja adalah Israel baru, umat sejati Allah.


Penulis surat Ibrani

Siapa yang menulis surat Ibrani, sebagaimana dilihat oleh Origenes dahulu, hanyalah diketahui oleh Allah. Kemungkinan besar surat itu ditulis sebelum keruntuhan Yerusalem pada tahun 70 M karena dalam tulisn tersebut rupanya Bait Allah masih berdiri.

Yang mendasari teologi sang penulis ialah Injil dengan eskatologi Yahudi. Baginya inti pokok agama yang sebenarnya ialah hak untuk datang kepada Allah, suatu hak yang bekerja melalui ibadah. Tetapi dosa merintangi hak ini, dosa merusakkan persekutuan dengan Allah yang merupakan kebaikan tertinggi bagi manusia. Kekristenan adalah agama yang mengajarkan bahwa melalui pengorbanan Kristus, kita diberi hak untuk masuk ke hadirat Allah, yaitu suatu hak istimewa yang hanya dapat dibayang-bayangkan oleh agama Yahudi.


Yohanes

Banyak yang menganggap Yohanes sebagai penafsir yang sangat istimewa karena dia melihat peristiwa-peristiwa yang ditafsirkannya dalam artinya yang paling abadi, sehingga Kristus tidak lagi tampil sebagai sorang tokoh dalam sejarah lampu saja, melainkan sebagai tokoh masa kini yang Agung.

Tema yang mempersatukan Injil Yohanes adalah tema kehidupan. Kepada Nikodemus, Tuhan Yesus menawarkan hidup yang kekal, kepada perempuan Samaria Kristus menawarkan air hidup. Tuhan memarahi orang-orang yang tidak mau datang untuk mendapat air hidup, dan kepada Marta Tuhan Yesus mengaku sebagai kebangkitan dan hidup.

Menurut Yohanes, Tuhan Yesus adalah Anak Allah yang di dalam diri-Nya sendiri terkandung rencana penyelamatan Allah, Ia mengambil rupa manusia demi kita manusia dan demi keselamatan kita dan yang oleh kematian-Nya sudah memberikan hidup kekal kepada kita.