Sunday, June 4, 2023

Diubahkan lewat persoalan, dibentuk melalui kesulitan hidup


Mengalami persoalan dan kesulitan hidup merupakan hal yang tentu saja sangat tidak menyenangkan. Akan tetapi Alkitab mengajak kita untuk melihat suatu cara pandang yang berbeda, yaitu bahwa Tuhan dapat memakai setiap persoalan dan kesulitan hidup itu sebagai sarana untuk membentuk karakter kita agar menjadi semakin serupa dengan Kristus.

Buku "Memulai Kembali" Klik disini.

Apabila kita perhatikan, di dalam kehidupan sehari-haripun sebetulnya dapat kita lihat bagaimana kesukaran itu bukanlah selalu merupakan sesuatu yang buruk. Seorang yang sedang dipersiapkan untuk menjadi prajurit yang tangguh, tidak mungkin dibiarkan menikmati kehidupan yang mudah, nyaman, tidak ada kesulitan dan tantangan. Sebaliknya orang yang dipersiapkan untuk menjadi prajurit yang tangguh itu, justru akan diberikan berbagai kesulitan, ujian dan tantangan yang berat di dalam keseharian mereka.

Di dalam dunia olah raga, ataupun di sekolah, tidak ada orang yang bisa mencapai kemajuan, entah secara intelek ataupun secara fisik, yang tidak dengan sengaja diperhadapkan pada kesulitan atau kesukaran, ujian, tekanan dan berbagai hal yang tidak nyaman lainnya. Kita tahu bahwa meskipun semua itu tidak nyaman, tetapi semua kesulitan itu diperlukan bagi kemajuan kita sendiri.


Tuhan memiliki suatu tujuan di balik segala kesulitan hidup.

Tuhan dapat memakai berbagai keadaan dan peristiwa yang terjadi di dalam hidup kita sebagai sarana untuk mengembangkan karakter kita. Tuhan Yesus memperingatkan bahwa kita akan menghadapi beraneka persoalan di dunia ini (Yohanes 16:33). Tidak ada seorang pun yang kebal terhadap penderitaan atau terlindungi dari penderitaan, dan tidak seorang pun yang akan menjalani kehidupan ini tanpa masalah. Setiap kali kita berhasil memecahkan satu masalah, masalah lain sudah menanti untuk muncul. Memang tidak semua masalah itu besar, tetapi semuanya berperan penting dalam proses pertumbuhan yang disiapkan Tuhan bagi kita.

Tuhan sendiri, melalui Petrus, meyakinkan kita bahwa masalah yang dihadapi oleh pengikut-Nya adalah sesuatu yang normal, dengan mengatakan: "Janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu." (1Petrus4:12)

Tuhan memakai berbagai masalah dan kesulitan hidup, untuk menarik diri kita lebih dekat kepada Diri-Nya. Alkitab mengatakan, "Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya."(Mazmur 34:18).

Berdasarkan ayat di atas, bagaimana mungkin kita dapat merasakan kedekatan dengan Tuhan apabila kita belum pernah mengalami peristiwa yang membuat kita patah hati? Dan bagaimana mungkin kita merasakan pengalaman diselamatkan oleh Tuhan, apabila kita sendiri tidak pernah mengalami jiwa yang remuk oleh dosa?

Pengalaman-pengalaman penyembahan kita yang paling mendalam justru seringkali terjadi ketika kita tengah mengalami masa-masa tergelap dalam hidup ini. Ketika patah hati, merasa ditinggalkan, tidak dipilih, atau ketika mengalami penderitaan jasmani yang luar biasa, pada saat itu biasanya kita akan datang kepada Tuhan. Selama dalam penderitaan itulah kita belajar untuk menaikkan doa-doa kita yang paling murni, sepenuh hati, dan jujur kepada Allah. Ketika kita berada di dalam penderitaan, kita tidak lagi memiliki tenaga untuk menaikkan doa-doa yang dangkal.

Joni Eareckson Tada menulis, "Ketika hidup terasa menyenangkan, kita mungkin menikmatinya dengan kerinduan untuk mengetahui tentang Yesus, dengan meniru Dia dan mengutip perkataan-Nya serta membicarakan-Nya. Tetapi hanya dalam penderitaanlah kita akan benar- benar mengenal Yesus." Kita akan mengenal lebih dalam siapakah Tuhan kita, justru di dalam dan melalui penderitaan, karena hal itu tidak mungkin dapat kita pelajari dengan cara lain lagi.

Tuhan tentu bisa saja mencegah agar Yusuf tidak masuk penjara (Kej 39:20-22), agar Daniel tidak dimasukkan ke dalam gua singa (Daniel 6:16-23), agar Yeremia tidak dimasukkan ke dalam perigi (Yeremia 38:6), agar Paulus tidak mengalami karam kapal, apalagi sampai tiga kali (2 Kor 11:25). Tuhsn bisa mencegah tiga pemuda Ibrani agar tidak dibuang dalam perapian yang menyala-nyala (Daniel 3:1-26). Tetapi Tuhan tidak mencegah itu semua terjadi. Tuhan mengizinkan masalah-masalah yang berat, bahkan mengerikan tersebut terjadi. Dan sebagai hasilnya, setiap orang tersebut ditarik lebih dekat kehadirat-Nya, masuk ke dalam pengenalan yang baru akan Pribadi Tuhan.

Berbagai masalah yang muncul di dalam kehidupan kita, dapat dipakai Tuhan untuk mendorong kita lebih bergantung pada-Nya dan bukan pada diri kita sendiri. Paulus memberikan kesaksian tentang hal ini: Kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati." (2 Kor 1:9).

Tidak ada satu pun masalah yang bisa terjadi tanpa seizin Tuhan, karena Dialah pemegang kendali tertinggi dari segala sesuatu yang ada. Rasul Paulus mengatakan hal ini dalam Roma 8:28-29: "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya."


Bagaimana sebaiknya kita menyikapi datangnya kesulitan hidup?

Masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan tidak secara otomatis menghasilkan apa yang baik sebagaimana seharusnya. Banyak orang malah menjadi kecewa dan bukannya mendekatkan diri pada Tuhan. Oleh karena itu, kita perlu memiliki cara pandang seperti Tuhan Yesus sendiri dalam melihat problem kehidupan.

Pertama: selalu ingat bahwa rencana Tuhan itu baik

Tuhan mengetahui apa yang terbaik bagi kita dan Ia memperhatikan kepentingan kita. Tuhan memberitahu Yeremia, "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (Yeremia 29:11).

Yusuf memahami kebenaran ini pada saat dia memberitahu saudara- saudaranya yang telah menjualnya dalam perbudakan, "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan," (Kej 50:20)

Hizkia juga turut menyuarakan perasaan yang sama tentang penyakit yang menjadi ancaman nyawanya: "Sesungguhnya, penderitaan yang pahit menjadi keselamatan bagiku;" (Yesaya 38:17).

Dari beberapa contoh ayat yang disajikan di atas, kita mendapati bahwa orang-orang yang mengalami penderitaan dan kesulitan itu pada akhirnya menyadari bahwa Tuhan telah bekerja demi kebaikan mereka justru dengan memakai kesulitan tersebut.

Benarlah yang dikatakan penulis Ibrani: " Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya." (Ibrani 12:10b).

Penting bagi kita untuk tetap fokus pada rencana Allah, bukan pada penderitaan atau masalah yang kita alami. Inilah cara Tuhan Yesus menanggung penderitaan salib, dan kita didorong untuk mengikuti teladan-Nya: "Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia," (Ibrani 12:2a).

Corrie ten Boom, yang menderita di dalam sebuah kamp maut Nazi, menjelaskan tentang kuasa dari fokus yang dimiliki seseorang: "Jika Anda memandang kepada dunia, Anda akan menderita. Jika Anda memandang diri sendiri, Anda akan tertekan. Namun jika Anda memandang Kristus, Anda akan tenang!"

Apa yang menjadi fokus kita, akan memberi pengaruh cukup besar bagi perasaan-perasaan kita. Rahasia ketekunan ialah mengingat bahwa penderitaan kita bersifat sementara, tetapi upah yang kita akan terima adalah kekal.

Musa tekun menjalani kehidupan yang penuh masalah "sebab pandangannya ia arahkan kepada upah" (Ibrani 11:26). Paulus tekun menanggung kesulitan dengan cara yang sama. Dia berkata, "Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami." (2 Kor 4:17).

Kedua: belajar bersukacita dan belajar mengucap syukur karena Tuhan

Alkitab mengajarkan kita untuk "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1Tesalonika 5:18)

Perhatikan bahwa Tuhan menyuruh kita untuk mengucap syukur "dalam segala hal" bukan "atas segala hal." Tuhan tidak meminta kita bersyukur atas kejahatan, atas dosa, atas penderitaan, atau atas akibat-akibat menyakitkan dari hal-hal tersebut di dalam dunia. Sebaliknya, Allah ingin kita mengucap syukur pada-Nya karena Dia akan memakai masalah-masalah kita itu untuk menggenapi tujuan-Nya.

Alkitab mengatakan, "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan!" (Filipi 4:4). Alkitab tidak mengatakan, "Bersukacitalah atas penderitaanmu." Itu merupakan masokisme (kepuasan yang diperoleh dari penderitaan). Kita bersukacita karena ada kasih, perhatian, hikmat, kuasa, dan kesetiaan dari Tuhan. 

Kita bersukacita karena mengetahui bahwa kita akan melewati penderitaan itu bersama Tuhan. Kita bukan melayani Tuhan yang jauh dan tidak perduli, yang mengucapkan kata-kata klise yang membesarkan hati hanya dari pinggir lapangan yang aman. Sebaliknya, Tuhan telah turut masuk ke dalam penderitaan kita. Tuhan Yesus melakukannya di dalam sepanjang hidup-Nya dan berpuncak di salib, Roh Kudus juga melakukannya di dalam diri kita sekarang ini. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita sendiri.

Ketiga : jangan menyerah, tapi belajar bertekun

Bersabar dan bertekunlah. Alkitab mengatakan, "Sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun." (Yakobus 1:3,4). 

Pembentukan karakter merupakan proses yang lambat. Kapan pun kita berupaya menghindari atau melarikan diri dari kesulitan di dalam kehidupan, kita memotong proses tersebut, menunda pertumbuhan kita, dan akan berakhir dengan jenis penderitaan yang lebih parah yang diakibatkan karena kita tidak bertumbuh.

Bila kita memahami konsekuensi-konsekuensi kekal dari pengembangan karakter kita yang dikerjakan oleh Tuhan, maka kita akan lebih jarang menaikkan doa-doa yang sifatnya "puaskan akui" (misalnya: "Tolong Tuhan supaya aku merasa nyaman"). Tetapi kita akan lebih banyak menaikkan doa-doa "Bentuklah aku" (misalnya: "Pakailah peristiwa ini untuk menjadikanku lebih serupa dengan Engkau").

Kita sekarang tahu bahwa kita sedang menjadi dewasa bila mulai melihat tangan Allah di dalam lingkungan kehidupan yang acak, membingungkan, dan sepertinya tanpa arti. Oleh karena itu apabila kita sedang menghadapi penderitaan sekarang, jangan bertanya, "Mengapa aku mengalami penderitaan ini?" Tetapi bertanyalah, "Apa yang Engkau ingin agar aku pelajari?" kemudian percayalah kepada Allah dan tetap melakukan apa yang benar. 

"Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu." (Ibrani 10:36)

Kiranya Tuhan Yesus menolong kita. Amin 

Friday, May 26, 2023

Apa yang dimaksud dengan disiplin rohani?

 


 

Mendengar kata "disiplin rohani" kita bisa terasosiasi pada sesuatu yang berat, sesuatu yang sulit, tidak natural serta tidak menyenangkan. Hal ini mungkin tidak terlalu aneh atau mengejutkan, mengapa? Sebab kita semua adalah orang yang berdosa yang cenderung untuk bersikap malas dan cenderung ingin menyenangkan apa yang menjadi sifat kedagingan kita. Sementara di sisi lain, disiplin adalah sesuatu yang harus diusahakan dan dikerjakan secara terus menerus.

 

Buku "Membangkitkan Kembali Semangat Disiplin Rohani"
Klik disini.

Tetapi coba bayangkan seorang pelari yang tidak disiplin berlatih, apakah dia akan dapat terus berlari dengan baik? Tentu saja tidak, bukan? John Stephen Akhwari, pria kelahiran pada 1938 di Mbulu, Tanganyika, Tanzania, membuat catatan penting yang akan dikenang sepanjang masa. Saat bendera dikibarkan, saat lomba baru dimulai beberapa saat, Akhwari telah terhadang cedera. Pria berkulit legam itu terjatuh, yang menyebabkan ia terluka parah. Akhwari mengalami lepas engsel pada sendi lututnya. Sakit? Tentu saja. Rasa nyeri bersarang dilututnya. Akibat lukanya, Akhwari mengalami demam hebat. Pihak panitia pun menyarankan agar ia mengundurkan diri dari lomba. Tapi Akhwari malah memutuskan untuk terus berlari dan melanjutkan perlombaan. Sambil mengatasi rasa nyerinya, Akhwari terus berlari hingga mencapai finish. Setelah usai, Akhwari ditanya oleh wartawan mengapa ia terus berlari. Akhwari menjawab sederhana, “Negaraku tidak mengirim aku sejauh 5000 mil ke Mexico City untuk memulai perlombaan. Mereka mengirim aku untuk menyelesaikannya.” John Stephen Akhwari bukan saja disiplin secara fisik, tetapi juga disiplin secara mental.

Kata Disiplin sendiri mempunyai pengertian:

Ketaatan atau kepatuhan terhadap nilai-nilai yang diyakini oleh seseorang.

Apabila kita yakin pada sesuatu, maka kita secara otomatis akan taat atau patuh pada keyakinan tersebut. Akhwari yakin bahwa dia diutus untuk menyelesaikan, maka ia patuh. Ada hubungan yang erat antara keyakinan dan kepatuhan.

Makin kita yakin, makin kita patuh. Sebaliknya...
Jika kita tidak patuh, maka mungkin kita tidak terlalu yakin, malah tidak yakin sama sekali.

Tuhan Yesus pernah mengatakan hal ini:

Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya. (Matius 7:13,14 dan Lukas 13:23,24)

Mengapa Tuhan Yesus mengatakan hal seperti itu? Apakah Tuhan ingin mempersulit hidup kita? Tentu saja bukan. Tuhan Yesus hanya mengatakan suatu kebenaran bahwa menjadi orang percaya itu bukan perkara mudah. Orang percaya sejati, harus memiliki hati yang disiplin. Ciri-ciri dari orang percaya yang sejati adalah disiplin. Orang Kristen yang tidak tertarik pada kedisiplinan rohani atau sama sekali tidak pernah ingin didisiplinkan secara rohani, maka mungkin sekali orang itu memang bukan termasuk orang yang sudah lahir baru..

Saat ini ada banyak orang yang memanggil nama Tuhan Yesus atau mengaku percaya. Tetapi apakah itu berarti bahwa kekristenan memang sungguh-sungguh sedang berkembang? Bagaimana dengan orang yang mengaku percaya Yesus tetapi pada saat yang sama juga percaya pada agama-agama lain?

Matius 7 di atas, adalah saringan atau filter untuk mengetahui mana orang percaya sejati, mana orang yang percaya yang palsu. Orang percaya sejati, pasti akan mengalami “pintu yang sesak itu.” Istilah ini dapat kita ganti sebagai suatu kedisiplinan, artinya ada ketidakbebasan.

 

Beberapa bentuk kedisiplinan rohani:

Ada beberapa bentuk dari kedisiplinan rohani yang bisa kita latih, yaitu:

Disiplin dalam membaca Firman.

Ada kecenderungan di antara orang-orang Kristen untuk tidak lagi mementingkan penggalian Firman Tuhan dan menggantinya dengan pengalaman rohani. Ini merupakan kecenderungan yang berbahaya dan dapat dipastikan bukan merupakan hal yang disukai oleh Tuhan.

Pengalaman rohani bukan secara unik dimiliki oleh orang Kristen saja, semua orang dari agama apapun dapat memiliki pengalaman rohani mereka sendiri karena manusia pada dasarnya adalah makhluk yang memiliki aspek rohani di dalam kepribadiannya.

Tanpa adanya disiplin dalam membaca Firman, kita tidak tahu apa yang menjadi isi hati dan isi pikiran Allah yang ingin disampaikan kepada manusia. Akibatnya, manusia secara subjektif menafsirkan sendiri kehendak Tuhan di dalam hidup mereka.

Pembacaan Firman Tuhan menolong kita untuk terhindar dari kepercayaan subjektif tentang Tuhan dan mendorong kita untuk memiliki iman yang objektif, yaitu iman kepada apa yang diFirmankan oleh Tuhan. Perbedaan orang percaya yang sejati dan yang tidak sejati adalah dari sikap mereka terhadap pembacaan Firman.

Disiplin dalam mempercayai Firman.

Membaca Firman adalah satu hal, dan itu penting sekali. Tetapi dalam hal ini tentu bukan hanya membaca saja yang harus dipentingkan, melainkan apakah kita juga percaya pada apa yang kita baca?

Sebab jika hanya membaca, iblis pun membaca Alkitab. Pendiri sekte-sekte keagaaman yang sesat pun baca Alkitab. Hollywood pun membaca Alkitab. Tetapi tidak semua orang membaca Alkitab dengan tujuan untuk mempercayai apa yang ada di dalamnya. Tidak jarang orang membaca Alkitab dengan tujuan untuk memutarbalikkan pesan yang ada di dalamnya, untuk menghinanya, atau untuk menyesatkan orang-orang yang tidak membaca Alkitab dengan teliti.

Disiplin dalam melakukan Firman.

Kita membaca di dalam Alkitab adanya perintah untuk memberitakan Injil, tetapi seberapa disiplin atau seberapa taatkah kita dalam melakukan hal ini? Atau kita membaca perintah untuk mengampuni, tetapi berapa banyak orang yang telah kita ampuni? Kita membaca tentang pikul salib, tetapi berapa banyak orang yang sudah melaksanakannya?

Membaca Alkitab adalah suatu hal yang baik, mempercayai apa yang dikatakan Alkitab adalah hal yang bahkan lebih baik lagi, tetapi semua itu dapat dikatakan belum ada artinya, apabila kita tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh Alkitab. Orang yang percaya adalah orang yang taat dan setia untuk melakukan apa yang Alkitab katakana.

Disiplin dalam berdoa.

Berdoa seharusnya bukanlah sebuah kewajiban. Sebab melalui doa kita diundang untuk menjalin komunikasi dengan Allah yang hidup. Tetapi kadang, kita enggan berdoa pada Tuhan. Kita lebih cenderung percaya pada diri kita sendiri dalam menghadapi apapun di dunia ini. Apabila kita percaya dan taat kepada apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan, maka sewajarnya kita akan terdorong untuk berdoa, sebab apa yang dikatakan oleh Firman tidak mungkin dapat kita lakukan dengan kekuatan kita sendiri. Kita butuh kekuatan dan pertolongan dari Tuhan, dan kita dapat meminta hal itu melalui doa.

Disiplin dalam melayani Tuhan.

Orang yang kelihatan giat melayani belum tentu merupakan tanda bahwa orang itu adalah orang percaya yang sejati. Orang percaya sejati, pasti terdorong untuk melayani Tuhan. Dan ketika mereka melayani, yang dilayani adalah Tuhan, bukan diri sendiri. Sebagai manusia berdosa, kita bisa kehilangan arah di dalam melayani, kita bisa kehilangan semangat pula dalam melayani. Itu sebabnya, melayani Tuhan pun butuh perjuangan, butuh kedisiplinan di dalam melakukannya.

 

Bahaya disiplin? Rutinitas dan sombong rohani

Pada saat bangsa Israel keluar dari pembuangan dan pulang kembali ke tanah mereka. Bangsa itu sadar bahwa mereka telah melanggar Taurat Tuhan. Itu sebabnya mereka kemudian menjadi sangat ketat dalam menerapkan Hukum Taurat, karena mereka tidak mau sampai terulang mengalami pembuangan oleh Tuhan.

Mungkin pada awalnya niat seperti ini merupakan hal yang baik sekali, tetapi di sini pulalah kita melihat betapa jahatnya pengaruh dosa di dalam diri manusia. Apa yang diawali dengan motivasi yang baik, dapat berakhir di dalam keburukan apabila manusia tidak berhati-hati.

Dalam kelanjutannya, bangsa Israel menerapkan Hukum Taurat sedemikian rupa hingga melupakan arti dari Taurat itu sendiri. Demi menjaga bangsa itu melanggar Taurat, maka para ahli agama Israel membuat aturan-aturan lain yang berfungsi melindungi aturan utama dari Taurat. Sedemikian rupa, hingga hukum yang semula katakanlah hanya terdiri dari 10 Perintah Allah, pada akhirnya berkembang menjadi 600 aturan tambahan, yang berfungsi menjaga siapapun dari melanggar 10 Perintah utama tadi.

Sebagai contoh, ada perintah di mana orang harus menguduskan Hari Sabat, sebab sebagaimana Tuhan bekerja mencipta selama 6 hari, lalu beristirahat pada hari ke 7, maka demikian pula manusia diharapakan berhenti dari pekerjaan rutinnya pada hari ke 7 itu, agar bisa menikmati hari perhentian Bersama dengan Tuhan. Tujuan perintah ini tentu saja baik, agar manusia menyediakan waktu yang khusus untuk menikmati kebersamaan yang khusus dengan Tuhan, dan agar manusia menyadari bahwa hidup mereka dipelihara oleh Tuhan, bukan oleh tangan mereka sendiri.

Tetapi perintah yang seharusnya indah ini, dihayati sebagai hari dimana manusia tidak boleh bekerja, tidak boleh melakukan apapun secara terlalu banyak, tidak boleh berjalan terlalu jauh. Masalahnya adalah, bagaimana apabila pada hari sabat itu ada orang yang sakit atau mengalami musibah atau tertimpa celaka? Tidakkah harus ditolong?

Itu sebabnya Tuhan Yesus sengaja melakukan penyembuhan justru di hari Sabat, agar orang mengerti bahwa hari Sabat adalah hari yang diciptakan oleh Tuhan untuk dinikmati Bersama dengan Tuhan. Bukan hari yang secara literal sama sekali tidak boleh ada pekerjaan apapun. Apabila pada hari itu ada orang yang sakit atau celaka, bukankah berarti orang itu tidak bisa menikmati hari bersama dengan Tuhan? Oleh karean itu, Tindakan Tuhan Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat seharus tidak bertentangan dengan maksud hari Sabat itu diadakan.

Kemunafikan pemuka agama Israel terlihat dari sikap mereka yang mendua terhadap milik kepunyaan mereka. Ketika ada domba yang tercebur di dalam sumur, maka orang Israel diperbolehkan melanggar aturan Sabat yang mereka buat. Sebab jika domba sampai tercebur, maka domba itu akan mati, mereka rugi kehilangan ternak, dan sumurnya jadi tercemar bangkai, mereka rugi lagi karena kehilangan sumber air bersih. Jadi orang Israel boleh melanggar aturan Sabat mereka sendiri, karena didorong oleh motivasi takut rugi, bukan karena kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama.

Tuhan Yesus menegur dengan keras para Ahli Taurat, karena domba saja ditolong jika tercebur di sumur, mengapa menolong orang menadi sesuatu yang salah?

Kedisiplinan orang Israel dalam menerapkan aturan agama tidak diragukan lagi, tetapi ketika disiplin sudah berubah menjadi rutinitas, maka akhirnya kedisiplinan itu sudah kehilangan arti dan orang kehilangan arah tentang mengapa aturan itu pertama-tama dibuat.

Ada kalanya, ketika seseorang begitu disiplin dalam kerohanian, mereka pada saat yang sama juga menjadi sombong rohani. Ini bahaya. Orang yang membaca Firman lebih banyak cenderung memandang remeh orang yang malas baca Firman. Ini harus dihindari. Orang yang melayani lebih banyak lalu merasa cape, akan cenderung menjelek-jelekkan orang yang tidak terlihat melayani. Ini juga tidak boleh.

Bukankah melayani itu seharusnya merupakan semacam pesta, semacam undangan kebahagiaan, ketika Allah mengizinkan manusia ikut ambil bagian dalam pekerjaan Allah. Jika kita merasa lelah, maka sebetulnya kita hanya perlu istirahat, tidak perlu marah atau menjelekkan orang lain yang tidak ambil bagian dalam pelayanan kita.

Adalah lebih baik untuk mendorong orang lain dengan kasih dan sabar tanpa perlu menghakimi mereka, sebab kita tidak tahu apa yang mereka alami, setiap orang punya pergumulannya sendiri yang tidak kita pahami.

Orang yang merasa superior dari orang yang kurang disiplin. Pada dasarnya kurang mengenal siapa Allah dan siapa dirinya. Ketimbang merasa superior dari mereka yang kita nilai kurang disiplin akan lebih bijaksana jika kita doakan mereka, bantu permasalahan mereka.

Disiplin harus dilandaskan pada perasaan kasih. Bukan karena peraturan atau bukan karena paksaan.

Jika kita disiplin karena didorong oleh peraturan semata-mata, maka kita menjadi seperti robot, rutinitas, less human. Jika kita berdisiplin karena didorong oleh rasa keterpaksaan, maka akan kita menjadi sombong, atau sakit hati, juga less human.

Disiplin harus dilandaskan oleh motivasi kasih. Itu sebabnya Tuhan Yesus merangkum Taurat dengan:

"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." (Matthew 22:36-40)

Kiranya Tuhan Yesus menolong kita. Amin